Selasa, 21 Maret 2017

Matthias Aroef, Bapak Teknik dan Manajemen Industri di Indonesia

Pak Matthias Aroef lahir di kampung Tarandam, Sumatera Barat, pada tangal 20 September 1930. Beliau adalah anak ketiga dari pasangan Moh. Aroef dan Rabiah Aroef. Kelak dari tanah Minangkabau inilah lahir seorang tokoh pelopor keilmuan Teknik dan Manajemen Industri di Republik ini.

Prof. Matthias Aroef


Sempat Berpindah-Pindah Sekolah
Beliau menempuh pendidikan dasar dan menengah dengan berpindah-pindah kota. Pertama, beliau mengenyam pendidikan formal di kelas 0 Maria School. Beliau duduk di bangku kelas 1 di HIS (Holland Inlande School) dan pindah ke Twede Ardjoena School, Jakarta, pada tahun 1943. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan mengengah di SMP Manggarai, pindah ke SMP Cirebon, lalu SMP Salatiga dan lulus di SMP Treban Taman Yogyakarta pada tahun 1947 dengan peringkat terbaik. Perpindahan sekolah ini mengikuti ayah beliau yang berpindah tempat dinas.

Foto Masa Kecil Pak Matthias
Dokumentasi Keluarga Matthias Aroef (MA)


Jalur pendidikan formal yang lebih tinggi beliau ambil di SMA Padmanaba Yogyakarta. Semasa itu beliau harus berjuang memanggul senjata pada aksi militer mempertahankan kemerdekaan tanah air selama tahun 1948-1949. Ijazah SMA beliau peroleh di SMA Budi Utomo Jakarta pada tahun 1951 dengan titel terbaik.

Pak Matthias Aroef menjejakkan kakinya di Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI) Bandung (Faculteit der Technische Werenschappen van de Universiteit van Indonesia) di tahun yang sama dengan kelulusan SMA. Selama kuliah di teknik mesin, beliau dapat menyelesaikan setiap mata kuliah dengan baik dan selalu memperoleh tentamenbriefjes. Ijazah P-2 beliau diperoleh pada tahun 1954.

Matthias Aroef ketika menjadi mahasiswa FT UI
Dokumentasi Keluarga Matthias Aroef (MA)

Memiliki impian untuk membangun pendidikan tinggi di Indonesia, Pak Matthias menempuh studi master di Cornell University pada tahun 1956-1957 dengan difasilitasi oleh beasiswa ICA (International Cooperations Adminstration). Di Sibley School of Mechanical Engineering, beliau mengambil spesialisasi Industrial and Engineering Administration.

Gelar Ph.D (Doctor of Philosophy) dalam Industrial Engineering diperoleh dari The Ohio State University pata tahun 1965 dengan judul disertasi: A Study of the Productivity of Indonesian Manpower. Beliau merupakan orang Indonesia pertama yang bergelar Doktor di bidang mesin.

Perjalanan Karir Sebagai Akademisi
Setelah menyelesaikan pendidikan S2 beliau pulang kembali ke Indonesia untuk menjadi asisten ahli di bagian mesin FT UI sesuai surat keputusan rektor yang ditetapkan tanggal 1 Januari 1958. Beliau dipercaya menjadi ketua Bagian Mesin setelah dua tahun berselang. Beliau diangkat menjadi guru besar ITB di bidang Teknik Industri pada tahun 1973. Beliau juga diamanahi untuk menjadi dekan Departemen Mesin dan Elektro yang ke-3 pada tahun 1974. Jabatan sebagai Wakil Rektor II juga sempat diemban beliau ketika Prof. Dr. Ing. Iskandar Alisjahbana naik menjadi rektor ITB pada tahun 1977.

Pada level nasional, beliau sempat diamanahi oleh Bung Karno untuk me-manage perusahaan-perusahaan Belanda yang dinasionalisasikan segera setelah beliau menyelesaikan studi doktoralnya. Konsep produktivitas terus dibawa hingga beliau ditunjuk oleh Departemen Tenaga Kerja untuk memimpin Dewan Produktivitas Nasional pada tahun 1983. Kontribusi beliau terhadap peningkatan produktivitas kinerja di Indonesia dapat dilihat dalam tulisan dan karya beliau. Pak Matthias juga dipercaya untuk menjadi alternate director of Indonesia oleh The Asian Productivity Organization (APO). Dunia pun mengakui kontribusi Pak Matthias sehingga beliau diangkat menjadi anggota The International Advisory Council of the World Confederation of Productivity Sciences pada tahun 1986.

Pembicara kuliah tentang produktivitas
Galeri buku "40 Tahun Teknik Industri dalam Pembangunan Indonesia"

Berjuang Merintis Teknik Industri di Indonesia
Terdapat sebuah tantangan yang dihadapi para sarjana Teknik Mesin pada tahun 1950-an, yakni bagaimana agar pengoperasian kegiatan produksi menjadi ekonomis dan juga lancar. Pada tahun 1955, Pak Matthias menggagas penambahan mata kuliah baru bagi Teknik Mesin dalam bidang pengelolaan pabrik. Ide tesebut dapat terealisasi ketika pada tahun 1958  dibuka beberapa mata kuliah baru di departemen. Teknik Mesin yang terkait dengan teknik produksi.

Kepulangan Pak Matthias dari Amerika juga semakin membulatkan tekad beliau untuk terus mengembangkan Teknik Industri di tanah air. Pemikiran beliau mengenai pentingnya pembentukan jurusan Teknik Industri akhirnya berbuah hasil ketika pada tanggal 1 Januari 1971 terjadi peristiwa bersejarah, yaitu diresmikannya pembentukan Departemen Teknik Industri (TI) pertama di Indonesia. Beliau sekaligus menjabat menjadi ketua Departemen Teknik Industri perintis ini.

Pak Matthias ketika masih aktif di kampus
Galeri buku "40 Tahun Teknik Industri dalam Pembangunan Indonesia"

Pada awalnya hanya ada satu program studi TI, yaitu di Institut Teknologi Bandung (ITB) saja. Pada tahun berikutnya beberapa universitas swasta dan negeri lainnya melakukan studi banding ke ITB untuk membuka jurusan baru ini di universitasnya. Berkat bimbingan Pak Matthias dan anak didiknya, “virus” TI ini dapat menyebar ke seluruh Indonesia. Hingga bulan Desember 2016 tercatat ada 197 jurusan Teknik Industri di universitas-universitas yang tersebar di seluruh penjuru nusantara.

Manifestasi dan aplikasi keilmuan TI kemudian direalisasikan oleh Pak Matthias dalam organisasi LETMI (Lembaga Teknik dan Manajemen Industri) pada tahun 1971. Tidak berhenti pada jurusan TI saja, gagasan mengenai peningkatan produktivitas yang dibawa oleh Pak Matthias Aroef juga merupakan cikal bakal munculnya program studi pascasarjana MBA-T (Master of Business Adminstration-Technology), Sekolah Bisnis dan Manajemen, serta program studi Manajemen Rekayasa Industri yang dibentuk di ITB.

Buku yang berisi perjuangan Pak Matthias dalam merintis TI

Jasa tersebutlah yang membuat nama beliau layak diabadikan dalam gedung yang digunakan untuk perkuliahan Teknik Industri di ITB. Penyematan nama gedung ini resmi berdasarkan Surat Keputusan Rektor Institut Teknologi Bandung nomor 360A/SK/I1.A/PP/2016 tentang Penamaan Gedung Labtek III Menjadi Gedung Labtek III Matthias Aroef yang ditetapkan di Bandung pada tanggal 1 Desember 2016.

Seorang Dosen yang Disiplin
Pak Matthias dikenal sebagai sosok yang tegas dan disiplin oleh para mahasiswanya. Beliau selalu berpakaian rapi dan lengkap ketika mengajar di kelas. Beliau terkenal gagah di kalangan mahasiswa ketika datang ke kampus dengan mengedarai mobil Chevrolet Impala tahun 1962 berwarna merah ke kampus. Sosoknya yang gagah bukan berarti membuat beliau tertutup dari masukan. Kebalikannya beliau sangat terbuka untuk dikritik seperti yang diungkapkan oleh Dibjo Raharjo, salah satu anak didik beliau. 

Pak Matthias ketika mengajar di kelas
Dokumentasi Keluarga Matthias Aroef (MA)

Hal yang dikenang oleh mahasiswa Pak Matthias adalah metode penyampaian materi yang efektif dan efisien.

“Yang Saya kagum, Pak Matthias seorang professor yang sangat baik, dalam arti, bila menyampaikan kuliah sangat pas. Tidak kelebihan dan tidak kurang”
-F.X. Djoko Sudibyo, Ir.-


Alumni dari anak didik beliau sudah berkontribusi di beragam bidang. Ada yang berprofesi sebagai akademisi, menjadi pemimpin korporat, merintis usaha sebagai wirausahawan, hingga aktif di pemerintahan sebagai menteri dan staf ahli kepresidenan. Satu hal yang masing-masing mereka bawa adalah bahwa ilmu Teknik Industri dapat diaplikasikan dalam semua bidang pekerjaan, bahkan pada kehidupan sehari-hari.  

Sosok Panutan dalam Keluarga
Tanggal 1 Januari 1959 beliau menikah dengan Aida Tando di Jakarta. Aida Tando merupakan teman sepermainan Pak Matthias Aroef dari kecil. Beliau dikaruniai tiga orang anak, Arita, Arwin Masiando dan Airina Matthias. Sekarang beliau tinggal bersama keluarganya dan menghabiskan masa tua dengan menyibukkan diri bersama keluarga. Beliau sangat menyayangi keluarganya, begitu pula dengan keluarganya yang sangat menyanyangi beliau.


 Pak Matthias bersama keluarga besarnya
Dokumentasi Keluarga Matthias Aroef (MA)

3 komentar:

  1. Terima kasih Parama..
    Catatan blog tentang pak Matthias yg lengkap..

    BalasHapus
  2. Mohon maaf...sedikit koreksi foto masa kecil...itu foto kakak saya. Tks kpd Pak Aditya Parama sdh menulis blog ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf lupa...sy Airina Matthias (Poppy)

      Hapus