Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Budaya

Kherkoff Peutjoet, Saksi Bisu Perjuangan Rakyat Aceh

Makan Kerkhoff yang Terletak di Belakang Museum Tsunami Sumber: bandaacehtourism.com Inilah tempat persemayaman terakhir bagi ribuan tentara Belanda yang tewas dalam agresi penaklukkan Aceh. Masyarakat setempat menyebut kompleks pemakaman ini dengan ' Kerkhof Peutjoet '. Nama kompleks pemakaman ini memang cukup unik karena merupakan perpaduan bahasa Aceh dan bahasa Belanda. Kerkhof dalam bahasa Belanda berarti kuburan. Terdiri dari dua suku kata, ' kerk ' yang berarti gereja dan ' hoff ' yang berarti halaman. Mungkin karena umumnya kuburan di Belanda terletak di sisi gereja maka kemudian gabungan kedua kata ini kemudian diasosiasikan kepada kuburan. Kata ' Peutjoet ' sendiri menurut sejarah berasal dari nama seorang putra mahkota Kesultanan Aceh yang bernama Meurah Pupok. Sang Putra Mahkota yang tak lain anak dari Iskandar Muda, memiliki panggilan kesayangan ' Photeu Tjoet ' (Pocut). Photeu artinya ‘raja’, sedangkan Tjoet artinya

Piasan Raya: Lagu Kontemporer Aceh dengan 7 Bahasa Daerah di Provinsi NAD

Indonesia merupakan negara yang kaya budaya dan adat istiadat. Ada lebih dari seribu suku bangsa di Indonesia dan hampir 800 jenis bahasa yang digunakan di Indonesia. Apabila dibagi ke dalam 34 provinsi, rata-rata pada setiap provinsi ada 20-an bahasa. Namun biasanya kita hanya tahu beberapa bahasa saja di setiap provinsi, seperti provinsi Jawa Barat yang bahasa daerahnya adalah Bahasa Sunda, provinsi DKI Jakarta yang berbicara Bahasa Betawi dan provinsi Sumatera Barat yang berbicara Bahasa Padang. Ada sebuah lagu yang mengintegrasikan keberagaman bahasa dalam satu daerah tersebut yang membuat saya tertarik untuk mengulasnya. Lagu yang berasal dari provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ini berjudul ‘Piasan Raya’. Dalam bahasa Aceh, piasan berarti perhiasan atau pameran. Jadi lagu tersebut bercerita mengenai pameran yang besar. Di produseri oleh Ilman Macbee yang berdomisili di Jakarta, lagu ini memiliki keunikan yang di lahirkan dari keberagaman bahasa yang ada di Aceh. Ada pun bahasa

Belajar Tarian Rapa'i Geleng dari Aceh

Tari Rapa'i Geleng merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari provinsi Naggroe Aceh Darusaalam. Dari asal katanya, tarian ini terdiri dari kata Rapa’i dan Geleng. Rapa’i adalah alat musik perkusi yang berbentuk seperti rebana, dengan sepasang kepingan logam untuk membuat bunyi gemerincing. Jadi rapa’i geleng adalah tarian dengan menggunakan alat musik rapa’i yang ditarikan sambil menggeleng-gelengkan kepala dan melakukan gerakan lainnya. Tarian Rapa'i Geleng pada Gelar Budaya Aceh 2015 Tarian yang biasa dibawakan oleh penari pria ini ditarikan sambil berbaris. Tarian dipimpin oleh seorang syeikh yang berada di luar barisan. Penari yang ada di dalam barisan menari sambil menabuh rapa’i, bernyanyi dan bergerak membentuk formasi.  Syair lagu yang dibawakan mengandung unsur keagaaman, kebudayaan dan nilai-nilai di dalam masyarakat. Dengan syair seperti itu, tarian ini juga digunakan sebagai media dakwah dan memberikan nasihat moral kepada masyarakat.

Menyaksikan Pawai Pakaian Nusantara di Depan Kostan

Hari Sabtu tanggal 29 April 2016 lalu, sewaktu Saya mau berangkat keluar dari kostan yang kebetulan berseberangan dengan TK Santa Miriam Balikpapan, tengah ada acara di sekolah tersebut. Walaupun bukan bertepatan dengan tanggal 21 April, sedang ada perayaan hari K artini yang cukup meriah. Terlihat anak-anak berbaris menggunakan pakaian adat tradisional, orang tua yang mengabadikan momen anak, guru-guru yang mengarahkan siswa-siswinya. Jalanan depan TK juga diramaikan dengan mobil-mobil yang parkir di kanan-kiri jalan dan para pedagang yang memeriahkan momen hari Kartini tersebut.   TK Santa Miriam Balikpapan Acara tersebut terlihat menyenangkan. Melihat anak kecil yang lucu dan menggemaskan tampil di atas panggung dengan menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini. Setiap kelas bergantian menyanyikan lagu nasional tersebut dengan dipimpin oleh seorang dirijen yang juga anak-anak.     "Ayo anak-anak kita menyanyi dulu", seru sang guru. Momen lucu terjadi k