Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Tarian

Gerakan dan Syair Tari Ratoh Duek Aceh

Ratoh Duek merupakan tarian tradisional asal Aceh yang ditarikan dengan cara duduk berbaris. Dari asal katanya, Ratoh berarti pujian atau doa dan Duek artinya duduk. Secara harfiah berarti lantuan pujian dan doa yang dihaturkan sambil duduk. Biasanya tarian ini dibawakan oleh penari wanita, diiringi dengan alat musik tabuh bernama Rapa'i dan dipandu oleh syeikh. Tarian ini seringkali disalahsartikan sebagai tari saman karena sama-sama sambil duduk dan ada gerakan menepuk-nepuk. Padahal ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar sebuah tarian dapat dikatakan Tari Saman, seperti yang telah saya ulas di tulisan sebelumnya. Berikut adalah contoh video penampilan tari Ratoh Duek yang dibawakan oleh Unit Kebudayaan Aceh (UKA) ITB pada acara Gelar Budaya Aceh (GBA) tahun 2012. Syair tari Ratoh Duek juga tersedia di bawah ini. Terima kasih kepada Kak Inay (Addina Inayatillah) atas upload syairnya.  SYAIR RATOH DUEK  Bold:  penari S yekh Assalamu'alaikuuum, ka

Belajar Tarian Rapa'i Geleng dari Aceh

Tari Rapa'i Geleng merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari provinsi Naggroe Aceh Darusaalam. Dari asal katanya, tarian ini terdiri dari kata Rapa’i dan Geleng. Rapa’i adalah alat musik perkusi yang berbentuk seperti rebana, dengan sepasang kepingan logam untuk membuat bunyi gemerincing. Jadi rapa’i geleng adalah tarian dengan menggunakan alat musik rapa’i yang ditarikan sambil menggeleng-gelengkan kepala dan melakukan gerakan lainnya. Tarian Rapa'i Geleng pada Gelar Budaya Aceh 2015 Tarian yang biasa dibawakan oleh penari pria ini ditarikan sambil berbaris. Tarian dipimpin oleh seorang syeikh yang berada di luar barisan. Penari yang ada di dalam barisan menari sambil menabuh rapa’i, bernyanyi dan bergerak membentuk formasi.  Syair lagu yang dibawakan mengandung unsur keagaaman, kebudayaan dan nilai-nilai di dalam masyarakat. Dengan syair seperti itu, tarian ini juga digunakan sebagai media dakwah dan memberikan nasihat moral kepada masyarakat.

7 Ciri Unik Tari Saman yang Perlu Diketahui

Pernahkah kamu melihat pertunjukan tarian tradisional khas Aceh yang ditarikan oleh sekelompok wanita yang duduk berbaris dan menyebutnya sebagai Tari Saman? Atau apakah ketika SMP/SMA dulu kamu pernah ikut ekstrakulikuler Tari Saman? Ternyata tari tersebut bukanlah Tari Saman yang sebenarnya. Masih banyak orang yang salah presepsi mengenai tari saman. Padahal tarian ini merupakan salah satu Intangible Culture Heritage of Humanity (warisan budaya umat manusia yang tidak berwujud) yang telah ditetapkan oleh UNESCO pada tanggal 24 November 2011. Tari Saman pada GBA (Gelar Budaya Aceh) 2015 Tari Saman adalah tarian tradisional khas Suku Gayo Lues dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam buku Tari Saman yang disusun oleh Ridhwan Abd Salam, banyak versi asal usul Tari Saman dan nama Saman, mulai dari gerakan yang diciptakan 7 anak raja, hingga tarian yang diciptakan oleh Syeikh Saman yang menyebarkan agama islam di Gayo Lues. Saya merekomendasikan buku ini bagi yang ingin

Khanduri Aceh 2013: Tari Saman Gayo Pertama Kali Ditampilkan di Kampus ITB

Salah satu keputusan yang paling memengaruhi hidup Saya ketika kuliah adalah bergabung dengan Unit Kebudayan Aceh (UKA) ITB. Bergaul dengan kawan-kawan yang berasal dari provinsi Naggroe Aceh Darussalam ini tidak hanya membuat Saya mengenal budaya dan adat Aceh, namun juga menemukan keluarga baru di Sunken Court. Saya baru mendaftar di UKA ITB pada OHU (Open House Unit) tahun 2013, ketika sudah berada di tingkat 3. Hal yang paling memengaruhi keputusan Saya untuk bergabung adalah acara Khanduri 2013. Acara ini merupakan pameran budaya dan penampilan tarian-tarian tradisional asal Aceh yang diselenggarakan di Lapang Basket ITB pada hari Jum’at, 15 Maret 2013. Dalam Bahasa Aceh sendiri kata ‘Khanduri’ berarti perayaan, jamuan untuk memeringati suatu peristiwa, atau selamatan. Logo Khanduri Aceh 2013, mengadaptasi bentuk Rencong, senjata tradisional khas Aceh Sebelum datang ke acara, Saya tertarik dengan poster publikasi Khanduri yang mengatakan bahwa ada alah pementasan tari