Bismillah. Ini artikel blogku setelah lama vakum menulis. Sepat habis hosting website-nya sebelum diperpanjang. Jadi mungkin ini momen untuk mulai membiasakan kembali. Belakangan ini saya semakin disadarkan bahwa rezeki yang didapat itu tidak terbatas hanya material saja. Lebih luas dari itu, rezeki mencakup kesehatan, kesempatan, dan pertemuan juga. Bahkan beragam jenis karunia Tuhan lainnya yang mungkin kita tidak sadari dan menerima begitu saja, seperti terhindar dari bencana. Jika seseorang dikelilingi orang yang sakit, tetapi antibodinya tetapi bagus dan ia tidak tertular, maka rezekinya ialah kesehatan. Apabila ada mahasiswa yang dapat kesempatan untuk ikut kegiatan pengembangan diri di luar, hal itu rezeki juga. Serta jikalau ada petemuan dua orang yang berujung membuka peluang untuk berbisnis maka memang silaturahmi membuka rezeki. Dalam agama Islam, ada janji Allah bahwa menikah membuka pintu-pintu rezeki. Alhamdulillah, saya mulai merasakan hal-hal ters...
Ada lagu-lagu yang sering diputar menjelang atau pada hari raya Idul Fitri. Warga Indonesia sering kali mengenalnya dengan “lagu lebaran”. Lirik lagu ‘selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin. Minal aidin wal fa’idzin, maafkan lahir dan batin’, sudah familiar di telinga kita. Tak hanya di Tanah Air, di negeri jiran pun lagu-lagu ini sering diperdengarkan. Terkadang kita hanya mendengarkannya sepotong-sepotong. Ada lirik yang (mungkin) sengaja tidak dinyanyikan. Misalnya lagu Hari Lebaran gubahan Ismail Marzuki di atas ternyata ada lirik mengenai judi, “ Cara orang kota berlebaran lain lagi Kesempatan ini dipakai buat berjudi Sehari semalam main ceki mabuk brandi Pulang sempoyongan kalah main pukul istri Akibatnya sang ketupat melayang ke mate Si penjudi mateng biru dirangsang si istri ” Mungkin lirik tersebut berangkat dari fenomena sosial yang terjadi di masa ketika lagu itu dibuat. Kalau sekarang orang kota cara berlebarannya mungkin lebih ke pamer outfi...