Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label UKA ITB

Belum Terlambat untuk Belajar dari Unit Kegiatan Mahasiswa

  Saat bergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) biasanya teman-teman sesama anggota baru merupakan teman seumuran. Tapi ketika mendaftar Unit Kebudayaan Aceh (UKA) di kampus pada taahun 2013, saya bersama mahasiswa baru di Tahap Persiapan Bersama (TPB). Saya satu-satunya anggota baru yang bukan tingkat satu. Malam Keakraban UKA di Lembang. Sumber: M. Ridha Ridwan Merasa Lebih Muda Ada beberapa hal unik yang saya rasakan ketika menjadi ca-UKA (calon anggota UKA) pada semester V. Penerimaan anggota baru di unit ini meliputi perkenalan antar teman seangkatan, pengenalan budaya, latihan tari tradisional, kegiatan kebersamaan seperti olahraga dan nonton bersama, hingga berkenalan dengan kakak tingkat. Saya pun mengerjakan semua tugas seperti membuat buku perkenalan dan catatan latihan, berfoto dengan sesama ca-UKA 2013 dan meminta profil diri mereka, hingga mewawancari “kakak tingkat di UKA” yang sebenarnya angkatannya di bawah atau sama dengan saya. Berkenalan dengan teman-teman

Tingkat Tiga Baru Ikut Unit?

  Tingkat satu perkuliahan merupakan masa-masa mahasiswa mencoba beragam kegiatan, ikut banyak organisasi, dan berkenalan dengan teman-teman baru. Biasanya jaringan mulai dibentuk dari mengikuti unit kegiatan mahasiswa yang memfasilitas minat dan bakat mahasiswa yang beragam. Ketika Tahap Persiapan Bersama (TPB) ITB, saya tidak aktif di unit manapun. Sebenarnya sempat mencoba LSS (Lingkung Seni Sunda), tapi karena latihannya yang intens, bahkan istirahat TPB jam 11 – 14 pun digunakan untuk berkegiatan akhirnya saya tidak lanjut lagi. Tingkat tiga saya baru mendaftar Unit Kebudayaan Aceh (UKA) ITB. Agak aneh sebenarnya karena jarang ada yang baru daftar unit di tingkat lanjut. Biasanya tingkat tiga mahasiswa lebih memilih aktif di himpunan atau terpusat di Keluarga Mahasiswa (KM) ITB. Kalaupun aktif di unit biasanya karena udah nyaman di sana dari tingkat satu. Momen yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk menjadi calon anggota UKA ITB di tahun 2013 adalah Khanduri Aceh. UKA ITB

Kembali Merasakan Sensasi Budaya Aceh di Bandung Melalui Gelar Budaya Aceh (GBA) 2018

Tari Ratoh Duek pada GBA 2018 Dok: UKA ITB Unit Kebudayaan Aceh (UKA) ITB sukses mengahirkan nuansa budaya Aceh di tanah Padjajaran pada tanggal 18 Maret 2018 lalu melalui acara Gelar Budaya Aceh (GBA).  GBA merupakan acara puncak dari  event  tiga tahunan UKA yang diselenggarakan di Bandung.  Sebelum acara puncak di Sasana Budaya Ganesha ini ada berbagai rangkaian kegiatan seperti pre-event di CFD Dago, Pameran & wisata kuliner, dan yang baru ditahun ini, pemutaran film di night bus Jl. Soekarno (sebelah miseum KAA).  Tema GBA tahun ini adalah tsunami, yang tergambar dari logo, publikasi, movie yang diputar hingga penampilan drama. Pada acara puncak sendiri ada tarian-tarian tradisional Aceh yang dibawakan oleh UKA, sepeti tari Ranup Lampuan (tarian penyambutan), tari Ratoh Duek, dan tari Rapai Geleng, penampilan musik dari Apache13, musikalisasi yang dibawakan oleh seniman Fikar W. Eda, tarian tradisonal suku Gayo, tari Saman yang ditarikan oleh IMA Jogja binaan Duta S

Belajar Tarian Rapa'i Geleng dari Aceh

Tari Rapa'i Geleng merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari provinsi Naggroe Aceh Darusaalam. Dari asal katanya, tarian ini terdiri dari kata Rapa’i dan Geleng. Rapa’i adalah alat musik perkusi yang berbentuk seperti rebana, dengan sepasang kepingan logam untuk membuat bunyi gemerincing. Jadi rapa’i geleng adalah tarian dengan menggunakan alat musik rapa’i yang ditarikan sambil menggeleng-gelengkan kepala dan melakukan gerakan lainnya. Tarian Rapa'i Geleng pada Gelar Budaya Aceh 2015 Tarian yang biasa dibawakan oleh penari pria ini ditarikan sambil berbaris. Tarian dipimpin oleh seorang syeikh yang berada di luar barisan. Penari yang ada di dalam barisan menari sambil menabuh rapa’i, bernyanyi dan bergerak membentuk formasi.  Syair lagu yang dibawakan mengandung unsur keagaaman, kebudayaan dan nilai-nilai di dalam masyarakat. Dengan syair seperti itu, tarian ini juga digunakan sebagai media dakwah dan memberikan nasihat moral kepada masyarakat.

7 Ciri Unik Tari Saman yang Perlu Diketahui

Pernahkah kamu melihat pertunjukan tarian tradisional khas Aceh yang ditarikan oleh sekelompok wanita yang duduk berbaris dan menyebutnya sebagai Tari Saman? Atau apakah ketika SMP/SMA dulu kamu pernah ikut ekstrakulikuler Tari Saman? Ternyata tari tersebut bukanlah Tari Saman yang sebenarnya. Masih banyak orang yang salah presepsi mengenai tari saman. Padahal tarian ini merupakan salah satu Intangible Culture Heritage of Humanity (warisan budaya umat manusia yang tidak berwujud) yang telah ditetapkan oleh UNESCO pada tanggal 24 November 2011. Tari Saman pada GBA (Gelar Budaya Aceh) 2015 Tari Saman adalah tarian tradisional khas Suku Gayo Lues dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam buku Tari Saman yang disusun oleh Ridhwan Abd Salam, banyak versi asal usul Tari Saman dan nama Saman, mulai dari gerakan yang diciptakan 7 anak raja, hingga tarian yang diciptakan oleh Syeikh Saman yang menyebarkan agama islam di Gayo Lues. Saya merekomendasikan buku ini bagi yang ingin

Khanduri Aceh 2013: Tari Saman Gayo Pertama Kali Ditampilkan di Kampus ITB

Salah satu keputusan yang paling memengaruhi hidup Saya ketika kuliah adalah bergabung dengan Unit Kebudayan Aceh (UKA) ITB. Bergaul dengan kawan-kawan yang berasal dari provinsi Naggroe Aceh Darussalam ini tidak hanya membuat Saya mengenal budaya dan adat Aceh, namun juga menemukan keluarga baru di Sunken Court. Saya baru mendaftar di UKA ITB pada OHU (Open House Unit) tahun 2013, ketika sudah berada di tingkat 3. Hal yang paling memengaruhi keputusan Saya untuk bergabung adalah acara Khanduri 2013. Acara ini merupakan pameran budaya dan penampilan tarian-tarian tradisional asal Aceh yang diselenggarakan di Lapang Basket ITB pada hari Jum’at, 15 Maret 2013. Dalam Bahasa Aceh sendiri kata ‘Khanduri’ berarti perayaan, jamuan untuk memeringati suatu peristiwa, atau selamatan. Logo Khanduri Aceh 2013, mengadaptasi bentuk Rencong, senjata tradisional khas Aceh Sebelum datang ke acara, Saya tertarik dengan poster publikasi Khanduri yang mengatakan bahwa ada alah pementasan tari