Senin, 31 Desember 2018

Kajian Ringan di Grup WA DDV, dari Bertanya Warna hingga Bahasan Tentang Doraemon

Salah satu hal terpenting dalam organisasi adalah melakukan engagement agar para anggota tetap merasa nyaman di dalam organisasi dan dapat mengeluarkan potensi terbaiknya. Jika di organisasi bisnis seperti korporasi engagement dilakukan karena karyawan di dalamnya memiliki kepentingan untuk bekerja dan mendapatkan upah atas hasil kerjanya, tidak demikian dengan organisasi sosial yang bekerja tanpa imbalan. Terlebih apabila dalam satu organisasi tidak semua anggota saling mengenal dan hanya berinteraksi melalui online platform, cara untuk mendekatkan anggota akan semakin sulit dilakukan.

Salah satu hal menarik yang saya temui di komunitas Dompet Dhuava Volunteer (DDV) Jabodetabek adalah engagement juga dilakukan dengan cara informal yang mengalir, menyenangkan, dan tanpa terencana. Di grup Whatsapp yang saya ikuti, pernah diajakan kajian online yang serius seperti perihal ketulusan mengabdi sebagai relawan dari kak Indah Permata Sari dan pelestarian manggrove oleh pemerhati dan aktivis konsevasi tanaman bakau, Pak Noay Ikhsan. Di lain waktu, tiba-tiba pernah dimulai bahasan mengenai Doraemon, lebih spesifiknya lagi asal muasal si robot kucing abad 21 ini memiliki warna biru.

Dari Bertanya tentang Warna Biru

Hingga Bahasan Tentang Doraemon

 Cerita dimulai ketika salah seorang relawan bertanya tentang apa jenis warna biru pada sebuah gambar kaos yang ia kirimkan di grup. Relawan lainnya ada yang berceletuk mengenai warna biru Doraemon. Bahasan semakin menarik ketika Kak Burhan (Bubu), menawarkan untuk membagikan cerita mengapa robot ikonik asal jepang ini berwarna biru.

Jika teman-teman penasaran dengan kisahnya, berikut sinopsisnya:

Pertama kali lahir, doraemon warnanya kuning, punya kuping. Ini sama seperti robot kucing lainnya yang sejenis, yang satu pabrik. Pada suatu hari, Sewashi anak yang diasuh doraemon minta bantuan robot tikus untuk mengoreksi telinga patung doaremon yang sedang dibuatnya. Tapi ternyata robot tikus salah paham, dia malah gerogotin telinganya doraemon.

Dari sini, doraemon takut banget sama tikus. Doraemon pun dibawa ke rumah sakit dengan harapan dapat pulih seperti sediakala. Akan tetapi sungguh malang, dokter malah mengamputasi telinga doraemon. Jadilah dia sesosok kucing berkepala bulat tanpa daun kuping.

Telinga Doraemon yang Dimakan Tikus

Doraemon sangat sedih sekali. Apalagi ternyata kekasihnya, Noramyako lantas mentertawakan kondisi fisik doraemon pasca operasi, dan kemudian memutuskan hubungannya dengan doraemon. Karena tidak ingin larut dalam kesedihan Doraemon memutuskan untuk meminum pil bahagia agar segala lara hatinya berakhir.

Tapi, ckckck. Doraemon salah ambil dari kantung ajaibnya. Dia malah meminum obat sedih. Maka, ia pun menangis 3 hari 3 malam tanpa henti. Derai-derai air matanya yang terlalu deras tersebut tanpa sadar membuat warna kuning pada tubuh doraemon luntur, sehingga tampaklah warna biru yang seperti sekarang kita kenal. Tak hanya itu, tangisannya pun sampai membuat suaranya serak seperti saat ini.

Doraemon yang Menangis Berlebihan

Kajian tersebut dibawakan dengan santai dan ringan. sesekali ada relawan yang bernostalgia perihal masa kecilnya. Komentar unik juga bermunculan, seperti ada yang mempertanyakan mengapa warna kuning, yang notabene merupakan warna primer, dapat luntur menjadi warna biru yang sama-sama warna primer.

Materi tentang Doraemon tersebut ditutup dengan berfaedah, mengambil pejalaran berharga dari kisah hidup sang robot. Pelajaran yang didapat anatara lain jangan berlebihan, misalkan kesedihan dan tangis yang berlebihan sampai-sampai membuat warna tubuh menjadi luntur.

Doraemon yang Menjadi Teman Masa Kecil Kita


Bagi saya pribadi, bahasan tentang Doraemon tersebut memberikan warna baru pada pemahaman saya terhadap interaksi di grup WA. Sebelumnya saya berpikir jika anggota grup Whatsapp yang jarang komen atau terlihat interaksinya di grup hanya sesekali, ternyata dapat dengan kasual ikut nimbrung juga. Hal ini yang mau saya bawa ke komunitas saya yang lain, salah satunya Creavill (Creative Village) Bandung. Di grup komunitas Creavill seringkali bahasannya serius, hingga beberapa relawan segan untuk sekedar membalas komentar, terlebih bagi relawan baru yang belum pernah interaksi tatap muka. Mereka jadi malu-malu untuk berinteraksi. Siapa tau dengan membahas bahasan yang ringan dan ada muatan nostalgia, para silent reader dapat mulai terlihat typing di grup WA.  

Evaluasi Berkala untuk Meningkatkan Kualitas Praktikum dan Perkuliahan


Di beberapa jurusan, ada kegiatan praktikum yang dimasukkan dalam struktur kurikulum agar mahasiswa dapat praktik dan lebih paham mengenai materi yang disampaikan di kelas. Pada umumnya, praktikum yang dilakukan di perkuliahan akan berjalan sama setiap tahun, dan berulang terus menerus. Jarang ada evaluasi yang dilakukan untuk memperbaiki kekurangan dari pelaksanaan praktikum. “Dari dulu sudah begitu”, adalah kata-kata yang sering saya jumpai ketika bertanya mengapa melakukan praktikumnya seperti ini. Bentuk praktikum tetap dipertahankan dari setiap angkatan seolah-olah hal tersebut merupakan hal yang saklek dan tidak dapat diubah. Kalaupun ada perubahan biasanya bentuknya minor, bukan perubahan besar dan tidak terlalu mengubah struktur praktikum.

Sebagai jurusan baru, praktikum yang dilakukan di jurusan Manajemen Rekayasa Industri (MRI) ITB cukup dinamis dan sering berubah-ubah. Bahkan setiap angkatan bisa jadi tidak sama topiknya. Maka tidak ada yang namanya “lihat laporan praktikum kakak kelas”. Sebagai gambaran, di jurusan kami ada 4 buah praktikum perancangan yang dinamakan Praktikum Manajemen Rekayasa (PMR) 1 yang membahas proses manufaktur dan bagaimana produk dibuat pada semester 4, PMR 2 perihal riset pasar pada semester 5, PMR 3 tentang pengembangan produk pada semester 6 dan PMR 4 yang mendalami mengenai manajemen proyek pada semester 7. Sebagai dosen koordinator praktikum, biasanya Pak Titah (Titah Yudhistira) mengadakan evaluasi pelaksanaan praktikum dan melakukan langkah perbaikan berdasarkan evaluasi tersebut.

Setelah menjalankan praktikum PMR 3 pada semester genap Tahun Ajaran 2017/2018, Pak Titah mengajak para asisten Laboratorium Perancangan MRI (LPMRI) untuk melakukan konsinyering dalam rangka evaluasi. Konsinyering merupakan istilah tidak baku dari konsinyasi, yang merupakan pengumpulan/proses mengumpulkan pegawai di suatu tempat (hotel, penginapan, ruang rapat lainnya) untuk menggarap pekerjaan secara intensif yang sifatnya mendesak, harus segera selesai dan tidak dapat dikerjakan di kantor serta dilarang meninggalkan tempat kerja selama kegiatan berlangsung. Selain untuk melakukan evaluasi, kegiatan konsinyering ini juga bertujuan untuk merancang rencana kegiatan asisten lab untuk lebih menghidupkan LPMRI. 

Lokasi yang dipilih untuk melakukan kegiatan konsinyering ini adalah di Hotel Radiant. Hotel yang terletak di Lembang ini kami pilih sekalian untuk refreshing. Kamarnya nyaman, parkirnya luas, makanannya enak, dan ada kolam renangnya pula. Sebenarnya ketika kami browsing ada hotel yang lebih murah dan tampak nyaman, namun karena ada review dari salah satu pengunjung yang bercerita bahwa dia pernah mengalami kejadian mistis di hotel tersebut kami mengurungkan niat untuk mem-booking hotel tersebut.

Kami berangkat dari Bandung sekitar pukul 13.00 hari Sabtu karena baru dapat check in jam 14.00. Rencananya kami hanya menginap satu malam dan akan kembali ke Bandung hari Minggu siang. Ketika kami sampai di tempat sudah banyak tamu lain yang datang, dan hampir semuanya bernomor polisi B. Menurut cerita dari pramusaji di sana, hotel tersebut sering dijadikan short escape tamu-tamu dari ibukota. Mereka berangkat dari Jakarta hari Sabtu, menginap di sana dan berwisata di Lembang untuk mencari udara sejuk dan rehat dari hiruk pikuk DKI Jakarta, kemudian kembali lagi hari Minggu siang. Hotel ini juga menawarkan menu lengkap untuk makan pagi, siang, dan malam sehingga pengunjung tidak perlu repot-repot ke luar untuk mencari makan dan dapat bersantai-santai di hotel seharian penuh.

Kembali membahas soal konsinyering, aktivitas bekerja dilakukan efektif dari jam 15. Kami mulai dengan membahas keberjalanan pelaksanaan setiap modul praktikum. Setiap penanggungjawab (PJ) modul memaparkan bagaimana hal yang sudah efektif dan apa yang perlu diperbaiki, termasuk mempertimbangkan masukan praktikan untuk perbaikan. Ketika masih kuliah di MRI, angkatan saya merupakan angkatan pertama yang merasakan praktikum PMR 1 hingga 4. Banyak perubahan positif yang diberikan pada pelaksanaan praktikum. Dulu ketika praktikum pertama dijalankan, asistennya pun masih kebingungan ketika menerangkan materi dan melakukan asistensi, terbukti karena banyak perbedaan presepsi antar asisten. Namun pelaksanaan praktikum yang sekarang sudah jauh lebih rapi; konten modul lebih berbobot dan hanya memuat hal yang penting saja, desain modul dan slide presentasi lebih menarik, presepsi asisten sudah cenderung homogen sehingga tidak ada perbedaan pendapat ketika melakukan asistensi, serta penggunaan aplikasi sudah lebih advanced. Aktiviatas kerja kami selesai menjelang pukul 23.00 malam.

Konsinyering MRI

Keesokan paginya, diskusi berlanjut untuk membahas kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat dilakukan untuk dapat meningkatkan kapasitas asisten lab dan mengembangkan keilmuan Manajemen Rekayasa Industri. Beberapa masukan seperti kunjungan ke Fab Lab (sebuah laboratorium untuk berkreasi yang dibentuk oleh MIT dan memiliki cabang di puluhan negara), kerja sama dengan jurusan lain, dan kegiatan bonding asisten sempat tercatat sebagai rencana aktivitas lab untuk kedepannya.

Sebagai penutup, kegiatan evaluasi praktikum semacam ini dapat bermanfaat untuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kualitas penyampaian praktikum. Sehingga saya menyarankan bagi bapak & ibu dosen pengampu mata kuliah praktikum, mari buatlah evaluasi berkala untuk praktikum dan perkuliahan dengan melibatkan mahasiswa di dalamnya. Merekalah yang mengalami prakitkum dan perkuliahan, sehingga apabila ditanya siapa yang masukannya paling tepat untuk dipertimbangkan, merekalah orangnya. Kegiatannya tidak perlu fancy hingga menyewa hotel seperti di atas, namun cukup dengan ngobrol santai di kampus dengan mahasiswa. Dengan melakukan evaluasi, kegiatan praktikum dapat menjadi semakin menarik dan efektif.

Purnabakti, Penghargaan kepada Dosen atas Pengabdiannya

Senyum Bahagia Para Dosen Purnabakti

Titel pahlawan tanpa tanda jasa diasosiasikan pada guru yang mengajar tanpa pamrih. Titel tersebut juga sejatinya cocok disematkan pada dosen yang juga memiliki tugas mendidik mahasiswa, sama seperti guru. Selama ini saya jarang melihat apresiasi pengabdian dosen dari para anak didiknya. Pengalaman saya menyaksikan penghargaan pada dosen-dosen di Teknik Industri (TI) yang berkesan adalah ketika acara purnabakti tiga dosen TI ITB.

Bulan Maret tahun 2018 ini bertepatan dengan masa pensiun Pak Pamoedji (Ir. Pamoedji Hardjomidjojo, M.M.), salah satu dosen senior di TI ITB yang pakar di bidang keuangan. Komunitas Teknik Industri berinisatif untuk mengadakan acara purnabakti untuk menghargai jasa-jasa Pak Pamoedji dan 2 orang dosen lain yang terlah pensiun lebih dulu, yakni Pak Mame (Dr. Ir. Mame Slamet Sutoko, DEA) dan Pak Sutarno (Dr. Ir H. Muhammad Sutarno,l SHI, MScI). Walaupun dikatakan pensiun, Pak Pamoedji dan Pak Mame masih aktif mengajar di TI ITB, meski tidak terhitung sebagai dosen tetap dan anggota Kelompok Keahlian.

Semangat untuk mengapresiasi terasa kuat mulai dari rapat persiapan acara, Bu Yosi (Yosi Agustina Hidayat) menginginkan semua detail acara merupakan yang terbaik. Misalkan untuk katering, beliau sampai mencoba makanan (food testing) sebanyak 3 kali agar memastikan bahwa makanan yang disajikan pas dengan lidah para dosen purnabakti dan sesuai selera tamu undangan. Souvenir yang diberikan dipikir matang-matang agar sesuai dengan karakteristik dan kesukaan masing-masing dosen. Serta pada hari-H panitia diwajibkan memakai jas, dan kebaya terbaiknya untuk menyambut para tamu dengan elegan.

Semangat dari sang ketua acara juga terasa pada setiap anggota timnya. Saya yang terlibat dalam tim pembuatan video dokumenter dan testimoni juga merasa bahwa acara ini penting dan effort yang dikeluarkan harus maksimal agar dapat mengapresiasi para dosen dengan baik. Ketika mengumpulkan testimoni, saya banyak belajar dari hal-hal positif dan kenangan-kenangan baik yang diceritakan para mahasiswa, rekan sejawat sesama dosen, dan teman di lingkungan ITB. Walau saya belum pernah diajar secara langsung oleh Pak Sutarno (beliau pensiun tahun 2012 dan saya baru masuk jurusan di tahun yang sama), saya mendengarkan banyak kesan baik bahwa beliau adalah orang yang shaleh, tidak hanya mengajar perihal konten mata kuliah saya, namun juga menanamkan nilai-nilai syariat Islam dalam setiap sesi kuliahnya.

Pada hari-H, acara dimulai dengan lancar sesuai susunan acara yang sudah direncanakan. Setelah ketika “pengantin” yang menjadi bintang tamu acara purnabakti datang, acara dimulai dengan do’a, makan malam bersama, sambutan dari masing-masing dosen, kesan-pesan dari rekan sejawat yang dekat dengan dosen, pemberian kenang-kenangan dan simbol apresiasi, serta ditutup oleh foto bersama. Selain dihadiri rekan sejawat sesama dosen, tenaga pendidik, dan keluarga & kerabat, acara tersebut juga dihadiri oleh para mahasiswa angkatan atas (ada yang tahun 80-an, 90-an, hingga 2000-an), dan ada yang memberikan apresiasi secara pribadi maupun mewakili angkatan mereka masing-masing untuk menyampaikan terima kasih.

Persembahan Lagu untuk Guru Kami

Hal yang paling menarik bagi saya adalah dari kesan pesan yang disampaikan kepada sang dosen merupakan bukti apresiasi tertinggi. Walaupun mahasiswa didikannya sudah melanglang buana dan berkelana jauh hingga ke negeri orang, mereka tidak melakukan jasa-jasa para pendidik dan almamaternya. Kewajiban dosen tidak hanya mengajar mata kuliah, namun juga mendidik dan membentuk karakter mahasiswa yang dapat berkontribusi bagi bangsa Indonesia. Peran merekalah yang dapat mendukung pencetakan generasi emas yang dapat menggerakkan Indonesia dalam mewujudkan visi Indonesia emas tahun 2045.  

Foto Bersama Setelah Acara

Menutup tulisan ini, saya ingin mengutip kata-kata Pak Mame yang disampaikan ketika sambutan. Beliau mengatakan bahwa ini saatnya TI beregenerasi dan obor perjuangan diestafetkan pada generasi penerus. Semoga kami, sebagai generasi muda di Departemen Teknik Industri dan Manajemen Rekayasa Industri ITB, dapat melanjutkan perjuangan para guru kami dan tetap mengobarkan api semangat pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat (tri dharma perguruan tinggi) untuk berkontribusi bagi bangsa ini.

Kebakaran di ITB, Kesalahan yang Berulang

Mata meguru”, adalah sebuah pepatah Jepang yang berarti ‘history repeats itself’. Kejadian kebakaran gedung di ITB yang terjadi baru-baru ini mengingatkan saya bahwa kejadian yang mirip pernah terjadi juga sebelumnya, pada rentang waktu yang tidak terlalu lama.

Hari Ahad sore, 30 Desember 2018, saya mendapatkan kabar bahwa telah terjadi kebakaran di gedung Teknik Industri ITB. Api mulai merambat dari sekolah pascasarjana Studi Pembangunan yang berada di antara Gedung SBM dan gedung Teknik Industri. Kobaran api segera terlihat petugas keamanan yang sedang berjaga dan tim damkar segera datang untuk memadamkannya. Sang jago merah akhirnya berhasil dipadamkan sekitar 1 jam setelah api menyala. Ia berhasil menghanguskan 1 lantai bangunan berserta isinya. Untungnya tidak ada korban jiwa karena sedang masa libur akhir semester. Hingga saat tulisan ini di buat penyebab kebakaran masih belum diketahui.

Api Mulai dari SP

Kekhawatiran saya terutama pada ruangan himpunan Keluarga Mahasiswa Teknik Industri (MTI) ITB yang terletak persis di bawah lantai yang terbakar. Untungnya berdasarkan press release terbaru dari media MTI, bangunan himpunan dan isinya dinyatakan aman dari lidah api.

Kejadian kebakaran tersebut membawa ingatan saya untuk memvisualisasikan kembali momen yang mirip yang terjadi di pertengahan tahun 2013. Gedung Teknik Industri (TI) pernah terbakar hebat, yang melalap habis lantai 2 Labtek III. Akibatnya seluruh ruang belajar di lantai tersebut tidak dapat digunakan, berkas-berkas penting di ruangan dosen terbakar habis, hingga 2 ruangan laboratorium di sana pun ludes menjadi puing-puing. Selama satu tahun berikutnya kami harus “mengungsi” untuk mengadakan perkuliahan di gedung lain. Hal yang paling menyakitkan adalah apabila harus melewati lantai 2 dan menyaksikan reruntuhan bekas terbakar, agak ngeri juga melihatnya.

Hari sebelum kejadian kebakaran pada tahun 2013 silam, saya dan teman-teman asisten Gambar Teknik sedang mengadakan praktikum yang menggunakan ruangan laboratorium di lantai 3 hingga petang. Saya ingat bahwa charger HP saya masih tertinggal di sana. Menjelang tengah malam, di grup angkatan ribut membahas perihal kebakaran yang terjadi di gedung TI. Awalnya saya sempat mengira bahwa sumber api terjadi dari lantai 3 karena kami yang terakhir kali menggunakan. Sempat terpikir bahwa jangan-jangan para asisten akan di-drop out apabila terbukti menjadi penyebab kebakaran. Ternyata menurut hasil penyelidikan api bermula dari ruangan laboratorium FAC (Financial Assistant Community) di lantai 2. Percikan api timbul karena colokan listrik yang bertumpuk, AC, kulkas dan alat elektronik lainnya yang dibiarkan menyala sebulan penuh selama liburan. Ditambah lagi ruangan tersebut dilapisi oleh karpet, sehingga ketika timbul percikan listrik langsung dapat berubah menjadi bunga api yang cepat menjalar. Keesokan hari selelah api berhasil dipadamkan, praktikum tetap berlanjut di reruntuhan bekas gedung seba guna yang terletak di depan gedung TI.

Api Semakin Cepat Menjalar

Dua kejadian kebakaran dalam liburan tersebut menandakan bahwa ITB sekalipun belum menjalankan standar pengamanan gedung yang baik. Secara teori mungkin para akademisi di ITB, yang memiliki jurusan sipil dan arsitektur terbaik di tanah air, paham mengenai best practice management gedung. Namun pada implementasinya, teori hanya sebatas referensi jika tidak dipraktikkan. Biasanya, jika sudah kejadian barulah perbaikan dilakukan, kebijakan dikeluarkan, dan implementasi di jalankan. Kejadian ini bukan hanya sekali, tapi bisa dibilang terulang kembali “hanya” dalam waktu 5 tahun.


Masih ingat kejadian tembok gedung CADL (Center of Art, Design, and Languages) yang runtuh dan menimpa mahasiswa pada acara wisuda tahun lalu (link berita). Hal tersebut juga berhubungan dengan struktur dan keamanan bangunan. Mindset bahwa perbaikan seharusnya dilakukan apabila sudah kejadian sebaiknya dihilangkan dari pikiran para pengembang. Keselamatan dan keamanan merupakan hal yang utama. Kejadian-kejadian tersebut menjadi masukan bagi kita untuk sama-sama memperbaiki tingkat keamanan gedung, tanggapan terhadap kebakaran dan bencana, serta melatih kecepatan tanggap ERT (Emergency Response Team). Semoga ke depannya tidak ada lagi kebakaran, atau kerusakan gedung akibat kelalaian faktor manusia. 

Belajar Kriptografi di Museum Sandi Jogjakarta

Leon Alberti Disc

Kriptografi adalah ilmu yang memelajari tentang penyembunyikan informasi dari pihak ketiga dengan menggunakan sandi (code). Salah satu metode sandi yang paling sederhana adalah menggunakan Leon Alberti Disc. Gantungan kunci di atas merupakan model sederhana dari piringan kode yang diciptakan oleh Pak Leon Alberti. Miniatur Leon Alberti Disc ini dapat diperoleh di museum sandi di Jogjakarta.

Cara penggunaannya adalah dengan mengganti huruf-huruf dalam kalimat atau kata yang ingin dienskripsi dengan mengacu pada lingkaran kombinasi huruf. Pertama kita tentukan huruf kuncinya, misalkan A=O. Maka kita geser lingkaran dalam sehingga huruf O sejajar dengan huruf A (seperti pada gambar). Selanjutnya huruf-huruf yang ingin dijadikan kode diubah dengan abjad yang ada pada lingkaran dalam.  Misalkan kata "AKU" (huruf di lingkaran luar) diubah menjadi "OYI" (huruf di lingkaran dalam).

Cara menerjemahkannya pun tinggal dibalik, ubah huruf di lingkaran dalam menjadi lingkaran luar. 
Misalkan kata "YOAI" (huruf berwarna merah) diterjemahkan menjadi "KAMU" (huruf berwarna biru)

Yuk kita coba bermain memecahkan sandi! Dengan kata kunci A=O, silakan teman-teman terjemahkan kode berikut:

1. WBRCBSGWO
2. PVWBSYO HIBUUOZ WYO
3. OYI POBUUO ASBXORW OBOY WBRCBSGWO


Untuk memudahkan pembacaan kode, silakan cek gambar di bawah untuk menggunakan Vigenere Cipher. Cara kerjanya sama, hanya bentuknya yang berupa semacam mistar, bukan piringan.

Vigenere Cipher

Minggu, 30 Desember 2018

Antara Matahari Terbenam, Pantai dan Pisang

Ada tiga persamaan yang dapat kita temukan pada kebiasaan warga Kota Makassar, Manado dan Balikpapan dalam menghabiskan waktu senja mereka. Warga di ketiga kota tersebut memilih pantai untuk menyaksikan matahari perlahan terbenam di ufuk barat. Sambil menikmati momen memesona tersebut, biasanya ditemani oleh camilan khas yang dibuat dari olahan pisang.

Di kota anging mamiri, warga biasanya memenuhi Pantai Akkarena atau pPantai Losari untuk menyaksikan golden sun set sambil menikmati pisang eppe, olahan pisang kepok bakar yang diguyur saus gula merah, kadang ada variasi rasa lain seperti durian, coklat dan stroberi. 



Sun Set di Pantai Losari, Makassar
Penduduk kota minyak senang duduk santai di Pantai Melawai atau batu-batu Pantai Benua Patra untuk menyaksikan terbenamnya matahari. Cemilan khasnya itu pisang gapit, mirip dengan pisang eppe. Kata gapit diambil dari bahasa setempat yang berarti jepit. Setelah dibakar, pisang tersebut diletakkan di antara 2 buah papan kaku dan dijepit sehingga bentuknya lebih pipih. 


Sun Set di Pantai Banua Patra, Balikpapan


Di sisi utara Pulau Sulawesi, orang-orang di kota tinutuan gemar nongkrong di pantai Malalayang atau pantai sepanjang Boulevard sambil menunggu hari beranjak petang. Kuliner yang paling setia menemani biasanya adalah pisang goroho, olahan pisang yang enak dicocol dengan sambel. Iya sambel yang pidis. Awalnya saya agak kaget karena baru pertama melihat pisang yang biasanya diolah menjadi makanan manis, kali ini ditemani dengan sambel yang biasa diasosiasikan dengan santapan asin. Tapi setelah dicoba, yumm, rasanya maknyus!


Sun Set di Boulevard, Manado
Pemandangan sun set di ketiga kota tersebut sama-sama indah dan camilannya sama-sama lezat. Kalau berkunjung ke tiga kota itu jangan lupa untuk mencoba pengalaman menyaksikan keindahan terbenamnya sang surya. Bagi para pegawai yang lelah dan capek setelah pulang bekerja, coba istirahatkan pikiran dan manjakan mata Anda dengan pesona fenomena alam tersebut dan berikan hadiah pada lidah anda dengan lezatnya kuliner khas menjelang sun set.

Favorit saya tetap Pantai Benua Patra. Alasannya sesimpel karena dekat dengan kostan yang lama, cukup berjalan kaki 5 menit, dan karena setiap pulang kantor melewati pantai itu.

Kamis, 27 Desember 2018

12 Cognitive Biases Explained - How to Think Better and More Logically Removing Bias by Practice Psychology

 
This writing is a transcribe from a video with the same title from Practice Psychology Youtube Channel: 


Hey Guys! Practice Psychology here and in this video we’re going to be talking about 12 cognitive biases. Most of these were researched by Ismonoff TV, who has some great animations on topics like these, and other self-development topics are. Check them out in the description or on the end screen. Let's get into it!

Number one is anchoring bias. We humans usually completely rely on the first information that we received no matter how reliable that piece of information is. When we take decisions the very first information has tremendous effect on our brain. For instance I want to sell you a car and you are interested to buy it with the prices and I tell you $30,000. Now if you come back a week later and I say I'll sell it to you for $20,000 that seems like a new very cheap price do you right? Because your judgment is based on the initial information you got which was thirty thousand. You feel like you're getting a great deal. But let's say the first time that you asked me and I say 10,000, and then you come back next week and I tell you I'm going to sell it to you for twenty thousand. Now it doesn't look like a very good deal because of the anchoring bias. This is just a very generic use of the anchoring bias. And I don't want a bunch of comments about why $30,000 car should be sold for $10,000. But another example is trees. What if I asked you if the tallest tree in the world was higher or lower than 1200 ft? And if so how tall? The same effect occurs if I asked you to guess out of thin air instead of giving you an anchor of 1200 ft. The results are crazy

Number two availability heuristic bias. People overestimate the importance of information that they have. Let me give you an example here. Some people think that terrorism is the biggest threat to the United States, because that's what they see on TV the news always talks about it. And because of that it inflates the danger. But if you look at the real perspectives televisions cause 55 times more deaths than terrorism. Yes, TVs literally following people and kill them 55 more times than terrorism. You are more likely to be killed by a cow than a terrorist according to the consumer product safety commission. It's more likely to die from a coconut falling on your head and killing you than a terrorist attackthank you Gary vaynerchuk for that one. Even the police are to protect you from terrorists, it's estimated that you were 130 times more likely to be killed by the police than by a terrorist. That's because people do not make their decision based on facts and statistics, but usually they make it on news and stories instead they hear from other people. It's way scarier to die from a terrorist attack in a falling coconut, and because of this usually the news won't cover it because there's not much money in it

Number three is a bandwagon effect. People do or believe in something not because they actually do believe it, but because that's where the rest of the world believes. In another words bowling the rest without thinking. If you've ever heard someone say “well if your friends jump off a bridge would you?” then that someone is accusing you of the bandwagon effect. It happens a lot with us. I mean a lot of people vote for a certain candidate in the election because he's the most popular or because they want to be part of the majority. It happens a lot in the stock market too. If someone starts buying a stock because they think it's going to rise, than a lot of other people are going to start picking a stock as well. It can also happen during meetings if everyone agrees on something you are more likely to agree with him on that object. In management the opposite of this is called groupthink, and it's something companies try very hard to deter. Because of nine out of 10 people agree on something, for the last person doesn't and won't speak up it gets quotes a great idea.

Number four is choice supportive bias.So people have the tendency to defend themselves because it was their choice. Just because I made a choice and must be right. For example let’s say of person buys an Apple product, let's say it's a Macbook instead of a Windows PC. Well he's more likely to ignore the downsides where the faults of the Apple computer, while pointing out the downsides of the PC. He's more likely to notice the advantages of the Apple computer, not the Windows computer. Why would someone point out that they made a bad decision? Well let's say you have the dog. You think it's awesome because it's your dog, although it might poop on the floor every now and then. The same goes for political candidatesnot the pooping partbut they both may suck. But one of the lesser of two evils maybe more right in your mind because you voted for them.

Number 5 confirmation bias. We tend to listen to information that confirms what we already know, or even interpret the information that we receive in a way that confirms the current information that we already have. Let’s say that your friend believes that sweets are unhealthy. This is generally a pretty broad belief. He will only focus on the information that confirms what we already know. He is more likely to click on videos I confirm that belief or read articles that support his argument. He doesn't go through and type positive health effects of increasing blood glucose levels, or positive effects of eating a bowl of ice cream. No! He will instinctively go to Google and type in how bad is sugar for you. The confirmation bias is a very dangerous and scientific situation. Is actually one of the most widely committed cognitive biases.

Number six the ostrich bias. This is the decision or rather subconscious decision to ignore the negative information. It may also be an indication we only want to consider the positive aspects of something. This goes beyond not only looking for the positive information, but this is when there is negative information and we choose to ignore it as an outlier. Sometimes even when we have a problem we try to ignore it, thinking it will go away. Let’s say that you have an assignment to do, it's not something that you really want to do. So you may just keep on procrastinating with it, because your mind thinks that it will go away or is solved by ignoring it. Smokers usually they know it's bad for their health, but a lot of them keep ignoring the negative implications of cigarettes, thinking it will not damage them or might stop him before anything serious will happen, because they consider themselves an outlier. To avoid finding out negative information, we just stop looking for it. But this could be a serious crime in many scientific research laboratories and basically promote ignorance.

Number seven outcome bias. We tend to judge the efficacy of a decision based primarily on how things turn out. After decision is made we rarely examine the conditions that existed at the time of the decision. Choosing instead to evaluate performance solely or mostly on whether the end result was positive or not, in other words you decide whether an action is right or wrong based on the outcome. This goes a little bit into consequentialism, but it goes hand-in-hand with the hindsight bias. Let’s say there's a manager who wants to take the decision. His team and the data are telling him to make one decision. But his gut is telling him to make another decision. While he goes ahead and makes the decision that his gut told him to do, and in the end it was the right decision. Is that mean it's actually better to trust your gut rather than listen to your team who is advising you based on facts and statistics. Well that's what the outcome bias is; you take the decision and bass the effectiveness of your decision on the outcome. Even if it was luck. That this is bad logical thinking and will actually lead you to ruin thinking and bad outcomes in a long run.

Number eight overconfidence. Sometimes you get too confident and start taking decisions not based on facts but based on your opinion, or gut, because you have been correct so many times in the past. For example you were a stock trader and you pick 5 stocks in a couple years. All of them turned out to be successful and profitable. It increases your confidence to a point to where you can start believing that whatever stock you pick will be successful. It's quite dangerous because you might stop looking at the facts, and solely rely on your opinion. Check out the gambler's fallacy if you want more information on this. Just because you flipped a coin five times and it landed on heads, doesn't mean that the next time there's more than a 50% chance of it landing on a head again. Ego is the Enemy is a great book about this bias and I just made a book review on it.

Number nine Placebo bias. When you believe something will have a certain effect on you, then it will actually cause that effect .For instance you are sick and the doctor gives you a certain medicine. Even if the medicine does not actually help you, even if it's just made of sugar, you believe that it will help you and it actually causes you to recover quicker. This might not sound very logical but dozens of experiments have proven this. That's why if you realize positive people usually have positive life and vice-versa. The way you think is super important and we've hit on this and previous videos. For the same reason a lot of personal development books say that “if you really believe something, you will eventually achieve it, or at least find a way to achieve it”, because of placebo effect will give you the motivation that need. The mind to truly is a powerful thing, and this actually isn't always bad thinking, in fact you can use a placebo effect in our advantage if we use it wisely. There's actually a reverse of this and it's called the nocebo and this is when the effect is negative.

Number 10 survivorship bias. This bias is when you are judging something based on surviving information. Let me give you an example here, there are a lot of articles titled like “five things millionaires do every morning”. Does that mean doing those things every morning will make you a millionaire? No! There are tons of people who did them and didn’t become a millionaire. But they're also tons of people who did them, and did become a millionaire. So these articles are  primarily based on the ones who survived and reject all other people to do the same thing, but did not become millionaires. Another example as to say that buildings in an ancient city was built using extreme engineering because they lasted so long. This is a bad conclusion because you aren't considering what ratio of buildings were built to how many that lasted. You're only seeing the ones that lasted thousands of years of weathering, when the other 90% of already washed away. It's hard to know what you don't know.

Number 11 Selective Perception. I like this one. Perception is a form of bias that causes people to perceive messages and actions according to their frame of reference. Using selective perception people tend to overlook and forget that contradicts our beliefs or expectations. Let's say for example you are a smoker and you're a big fan of soccer. You’re more likely to ignore all the negative advertisements about cigarettes, because since you're already smoking you have this perception that it's okay to smoke. But if there's an advertisement about soccer you are more likely to notice it, because you have a very positive perception about it. This is actually something really interesting and has to do with how you perceive the world do to your subconscious mind, and what it filters out.

The last one is called the blind spot bias. If I asked you how bias you are, you would probably say that you were less biased than the average person, and you are more likely to base your judgment on facts and statistics and that's what's known as a blind spot bias or the bias bias. You are biased because you think that you are less biased than everyone else. For example, I gifted something to my teacher,and in the next week she give me a good grade on a test. If you asked her whether she was biased when she gave me that grade, the answer will be that the gift never affected her decision when marking my paper. But if you ask her if other teachers are biased when students give them gifts, she will say yes, in most cases, and that's what the blind-spot biases.

I really enjoyed creating this video, but most of the content was curated by my friend Ismanoff. He's got a channel similar to mine and I'd like you to check it out here or in the description. I hope you guys enjoy this video and learn something. If you want more valuables like this check out my channel And subscribe thanks for watching


Rabu, 26 Desember 2018

Kherkoff Peutjoet, Saksi Bisu Perjuangan Rakyat Aceh

Makan Kerkhoff yang Terletak di Belakang Museum Tsunami
Sumber: bandaacehtourism.com

Inilah tempat persemayaman terakhir bagi ribuan tentara Belanda yang tewas dalam agresi penaklukkan Aceh. Masyarakat setempat menyebut kompleks pemakaman ini dengan 'Kerkhof Peutjoet'. Nama kompleks pemakaman ini memang cukup unik karena merupakan perpaduan bahasa Aceh dan bahasa Belanda. Kerkhof dalam bahasa Belanda berarti kuburan. Terdiri dari dua suku kata, 'kerk' yang berarti gereja dan 'hoff' yang berarti halaman.

Mungkin karena umumnya kuburan di Belanda terletak di sisi gereja maka kemudian gabungan kedua kata ini kemudian diasosiasikan kepada kuburan. Kata 'Peutjoet' sendiri menurut sejarah berasal dari nama seorang putra mahkota Kesultanan Aceh yang bernama Meurah Pupok. Sang Putra Mahkota yang tak lain anak dari Iskandar Muda, memiliki panggilan kesayangan 'Photeu Tjoet' (Pocut). Photeu artinya ‘raja’, sedangkan Tjoet artinya ‘kecil’.

Meurah Pupok dimakamkan di bukit kecil dalam kompleks ini bersama dua makam lainnya. Ia dimakamkan terpisah dengan keluarga kesultanan lainnya setelah dihukum rajam oleh ayahandanya, Sultan Iskandar Muda. Peristiwa ketika sang Sultan menghukum anaknya karena telah melanggar agama, budaya, dan adat istiadat di Aceh diabadikan dalam titah/pesan Sultan Iskandar Muda yang berbunyi Mate Aneuk Meupat Jeurat, Gadoh Adat Pat Tamita?! yang kurang lebih memiliki arti 'kalau anak mati ada kuburannya, kalau adat mati mau dicari ke mana?'. 

Menurut seorang Sejarawan Aceh, ada banyak versi riwayat tentang peristiwa tersebut. Ada riwayat yang menyebutkan hukuman ini dijatuhkan karena perselingkuhan Sang Putra Mahkota dengan gadis Belanda. Riwayat lain menyebutkan Meurah Pupok berselingkuh dengan istri perwira Kesultanan Aceh dan ada pula yang menyebutkan bahwa Ia sebenarnya difitnah. Terlepas dari berbagai versi sejarah yang ada, peristiwa tersebut menjadi asal muasal munculnya kompleks pemakaman ini.


Sumber: Paparan budaya UKA (Unit Kebudayaan Aceh) ITB

Senin, 24 Desember 2018

4 Produk Inovasi Sebagai Solusi Minimasi Sampah Plastik di Lautan

Masalah sampah plastik yang mencemari laut kian hari makin mengkhawatirkan. Indonesia menjadi penyumbang ke-2 terbesar untuk volume samplah plastik yang mengotori samudra. Mayoritas limbah plastik berasal dari peralatan sekali pakai. Dampaknya pun besar, tidak hanya mencemari permukaan, tapi juga membahayakan spesies yang berhabitat di laut. Beragam foto dan video mengenai hewan yang terluka, bahkan mati akibat jeratan dan mengonsumsi limbah plastik sering kita jumpai di internet. 

Dok. NatGeo: Hewan yang Terperangkap Plastik
 
Berdasarkan data dari National Geographic edisi bulan Juni 2018, separuh platik yang penah ada diproduksi dalam 15 tahun terakhir, satu triliun kantong olastik digunakan di seluruh dunia setiap tahun, dengan rata-rata masa kerja hanya 15 menit serta perkiraan plastik bertahan itu berkisar dari 450 tahun hingga selamanya. Namun harapan terhadap solusi sampah plastik ini masih ada. Para inovator di Indonesia berpikir mengenai alternatif pemecahan masalah untuk menangani limbah ini. Berikut 4 produk pengganti palstik yang ramah lingkungan

1. Plastik yang Bisa Disantap
Edible Bioplastik ini merupakan hasil penelitian dari Pak Isroi, peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia di Bogor. Plastik ramah lingkungan dari bahan terbarikan yang bisa terurai secara biologis di alam ini berbahan dasar utama tepung tapioka. Bahan pengganti plastik ini memiliki sifat yang mirip seperti plastik dan sudah digunakan sebagai bahan pembungkus dodol dari Banjarnegara. Kalaupun tidak dimakan, masa urai bioplastik ini di tanah hanya sekitar 3 bulan. Hingga tulisan ini dibuat, bioplastik ini sedang dalam proses pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual untuk mendapatkan paten. Apabila hasi produk inovasi ini dapat dikomersialisasikan, peluang untuk penggunannya di industri makanan sangat besar.

Kemasan sachet yang dapat dimakan

Start-Up bernama Evoware juga mengembangkan jenis material pengganti plastik untuk pembungkus makanan yang sama-sama biodegradable dan aman untuk dimakan. Bahan yang digunakannya adalah saru rumput laut. Menurut klaim mereka, hasil akhir material tersebut hambar dan tidak berbau, sehingga cocok untuk digunakan semakan kemasan sachet makanan atau kemasan kopi karena material ini dapat larut dan langsung dikonsumsi tanpa mengubah rasa.

2. Tas Belanja Lucu Pengganti Plastik
Pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan aturan yang berprogres perihal pembatasan plastik, seperti menetapkan plastik berbayar seharga Rp200 per buah setiap belanja di toko. Jadi pengunjung diharapkan membawa tas belanjanya sendiri ketika akan membeli barang. Namun menurut saya cara ini belum efektif karena kurang tajam, coba kalau harga plastik dipatok Rp5000/buah, orang akan berpikir berkali-kali sebelum menggunakan plastik untuk membawa barang belanjaan.

Tim kreator kreator yang terdiri dari 2 orang Indonesia dan 2 orang jerman bekerja sama untuk mendesain tas belanja unik berbentuk hewan laut yang dapat digunakan sebagai gantungan kunci. Merek dagang yang digunakan adalah Tasini. Tas Tasini dibuat dari limbah plastik yang telah didaur ulang (rPET). Satu buah tas ini diklaim dapat mengurangi penggunaan plastik hingga 400 buah setahun.

Tasini yang dimodelkan dari hewan laut

Dengan menggunakan tampilan visual yang menarik, diharapkan produk ini dapat menumbuhkan keinginan untuk memakainya dari diri pengguna sendiri, bukan dari keterpaksaan. Media ini juga dapat digunakan untuk mendidik anak-anak agar terbiasa menghindari sampah plastik ketika berbelanja sejak kecil.

3. Sedotan Logam

Sedotan logam dengan sikat pembersih

Dari seluruh peralatan tumah tangga berbahan dasar plastik, sedotan merupakan alat yang masa pakainya paling cepat. Walaupun paling cepat digunakan, sedotan plastik akan bertahan hingga waktu yang lama dan terbukti sudah mencederai beragam spesies makhluk laut. Oleh karena itu banyak inovasi sedotan logam yang terbuat dari alumunium, stainless steel dan titanium sebagai pengganti sedotan plastik. Jenis sedotan ini lebih ramah lingkungan daripada sedotan sekali pakai karena mereka dapat digunakan kembali. Banyak sedotan logam yang dibuat dengan logam kualitas tinggi dan menyediakan sikat tambahan untuk mempermudah pencuciannya. Beberapa di antaranya juga bisa ditekuk. Sedotan ini banyak dijual di e-marketplace dengan beragam ukuran sehingga dapat mengakomodasi beragam jenis minuman.

4. Tas Belanja dari Singkong

Biodegradable Plastics from Avani

Invator dari Denpasar memiliki kepedulian khusus terdapat masalah pencematan laut, hingga menghasilkan solusi berupa tas kain yang berbahan dasar Singkong. Dengan bermerk dagang Avani Eco, ia memasarkan sebuah kantong kemasan yang 100% dapat diuraikan dan aman bagi lingkungan. Menurut klaim mereka, pun apabila sampah plastik ini terbuang ke laut dapat dimakan oleh hewan. Dari plastik jinjing, Avani juga mengeluarkan beragam alat makan yang biodegradable seperti sedotan, piring dan gelas.

Solusi-solusi dari anak bangsa ini sudah menjadi harapan untuk mengurangi dampak destruktif dari pencemaran limbah plastik di laut. Ke depannya Indonesia juga dapat mengembangkan solusi-solusi lain dengan inovasi dan pemanfaatan teknologi untuk menghilangkan sampah di laut seperti penelitian yang dilakukan oleh Sehroon Khan dkk. di tahun 2017 menyebutkan bahwa jamur Aspergillus tubingensis mampu mendegradasi polyurethane, sebuah senyawa plastik, dengan membangun sebuah koloni di molekul tersebut. Contoh lainnya adalah jaring raksasa untuk menangkap sampah plastik di permukaan laut yang dikembangkan oleh Boyan Slat, CEO dan Pendiri Teh Ocean Cleanout. Dengan semakin banyak orang yang sadar akan urgensi bahaya sampah plastik dan mau bertindak untuk kelangsungan hidup di bumi ini akan membuka harapan anak-cucu kita tetap dapat menikmati indahnya bumi ini.

Kamis, 20 Desember 2018

3 Tips Kombinasi Font untuk Membuat Desain Presentasi yang Menakjubkan


Dalam presentasi, jenis tulisan yang kita pilih ibarat pakaian yang akan kita gunakan untuk menampilkan diri kita. Memilih font atau jenis huruf yang tepat akan membantu kita dalam membuat tayangan presentasi lebih menarik. Kesalahan yang sering dilakukan para pembuat desain slide presentasi adalah hanya menggunakan satu jenis font sepanjang presentasi, yang akan membuat kontennya terlihat monoton. Padahal kita bisa bekreasi dengan memilih jenis font yang sesuai untuk judul, sub judul, dan konten pada slide presentasi kita.

Untuk judul utama di setiap slide, kita dapat menggunakan jenis font bersudut yang memiliki kesan tegas, kuat dan bold. Jenis font yang disarankan seperti Bebas Neue, Century Gothic, Lato Black, Garamond, dan League Spartant. Font-font jenis ini akan memberikan kesan tangguh dan membuat informasi kita dianggap penting di benak pemirsa. Tampilan yang kuat juga dapat membentuk image yang powerful dari pembicara.

Dalam menulis sub judul pilihan jenis font yang lebih artistik dapat digunakan. Font berseni seperti huruf sambung atau huruf yang memiliki tarikan garis yang panjang di awal atau di akhir katanya. Apabila kita menggunakan font jenis ini dan mengombinasikannya dengan jenis font Judul Utama yang kaku dan strong, akan memberikan kesan lebih hangat. Kurang lebih pesan yang disampaikan kepada audiens adalah ‘konten kita penting dan serius, namun dalam penyampaiannya tetap santai. Font Sub Judul yang bisa dipilih misalkan Lobster 1.4, Lavenderia Sturdy, Impact, Kaushan Script, dan Script Mt. Bold.

Konten tulisan biasanya merupakan bagian presentasi yang memuat teks paling banyak. Untuk memudahkan audiens untuk membaca konten dengan mudah, pilihan font yang digunakan harus yang nyaman dilihat mata untuk waktu yang lama dan memberikan kesan ringan. Kemudahan dalam membaca juga berperan penting agar presentasi yang disampaikan mudah ditangkap oleh audiens. Jenis-jenis tulisan yang cocok digunakan untuk konten antara lain Open Sans, Lato, Roboto, Trebuchet MS, Calibri dan Arial.

Pilihan font yang akan digunakan dalam presentasi dapat mengacu pada tabel di atas. Pilihan untuk Judul Utama, Sub Judul dan Konten dapat ditentukan dengan bebas, bukan berarti harus memilih dalam satu baris yang sama. Jika saya menggunakan font BEBAS NEUE untuk Judul Utama, saya bisa menggunakan font Kaushan Script untuk menghiasi sub judul dan memiliih Arial sebagai basis menulis konten. Font-font tersebut dapat diperoleh secara gratis.

Situs yang paling sering saya gunakan untuk mengunduh font adalah 1001fonts.com, kontennya lengkap dan cara mengunduhnya mudah. Selamat berkreasi dengan pilihan font yang lebih kaya dan membuat presentasimu lebih menarik!

Contoh Slide yang Menggunakan Ketiga Kombinasi Font di Atas

Materi ini saya dapatkan dari Mas Panji Priambudi, seorang master dalam teknik membuat desain presentasi dengan Ms. Power Point dalam pelatihan Ganesha Public Speaking School di Bandung. Mas Panji juga menerbitkan sebuah buku yang membahas mengenai teknik-teknik mendesain slide presentasi yang stunning. Buku yang diberi judul Street Smart Slide ini tidak hanya membahas font saja, namun juga desain presentasi yang lengkap menyeluruh. Yuk, gali lebih banyak ilmu dalam membuat media pendukung visual yang menakjubkan melalui buku ini.