Jumat, 31 Agustus 2018

Merasakan Suasana Sidang S3 (Doktor) di ITB

Hari Kamis, 30 Agustus 2018 Saya berkesempatan menyaksikan sidang terbuka S3 Bu Ria (Made Andriani). Beliau adalah dosen Teknik Industri ITB di Kelompok Keahlian Manajemen Industri yang sedang menembuh pendidikan doktoral di program studi TMI (Teknik dan Manajemen Industri) ITB.

Disertasi yang beliau pertahankan ketika sidang berjudul “Strategi Manajemen Pengetahuan Berdasarkan Tahap Pertumbuhan Organisasi pada Industri Fashion dengan Pendekatan Studi Kasus Historis”. Sebelum sidang terbuka ini, beliau telah melalui beberapa tahap sidang tertutup untuk mematangkan penelitian yang beliau lakukan.

Saya pribadi penasaran bagaimana proses sidang S3 di TMI. Sebelumnya Saya pernah menghadiri sidang doktor Pak Samun Haris. Beliau adalah sahabat ayah Saya yang menamatkan studi S3nya di jurusan Teknik Sipil Universitas Parahyangan. Suasana yang Saya rasakan ketika sidang terbuka di sana adalah mirip seperti undangan: seluruh tamu undangan yang hadir menggunakan batik dan kebaya serta ada jamuan makan siang.

Bertempat di ruang seminar lantai 3 di Gedung Annex (gedung rektorat ITB Jl. Tamansari), sidang diagendakan pada pukul 13.00 – 15.00. Di ruangan sudah ada backdrop untuk sidang terbuka S3 dilengkapi dengan slot untuk mengganti nama dan tanggal sidang. Layout ruangan dibuat seperti sidang ilmiah pada umumnya: kandidat diberi tempat di bagian tengah dekat layar, di barisan paling depan terdapat jajaran meja untuk promotor, dan di bagian belakang jajaran kursi untuk tamu undangan. Tamu undangan kebanyakan merupakan keluarga, kolega kerja, rekan sejawat, mahasiswa S3 TMI dan mahasiswa bimbingan beliau.

 Sebagian Tamu Undangan Sidang Doktor Bu Ria

Pada pukul 13, promotor dan penguji memasuki ruangan sidang, didampingi oleh ketua sidang dan pengawas dari SPS (Sekolah Pascasarjana). Promotor/pembimbing penelitian S3 Bu Ria adalah Pak Kadarsah Suryadi dengan ko-promotor Alm. Pak Ari Samadhi, dan Pak Joko Siswanto. Akademisi yang menjadi penguji adalah Pak Iman Sudirman, Pak Budhi Prihartono dan Bu Rajesri Govindaraju dari pogram studi Teknik Industri ITB dan Pak Benny Ranti dari UI. Sidang terbuka ini juga dihadiri oleh istri almarhum Pak ‘Cok’ Ari Samadhi dan kedua putri beliau.

Sidang dibuka oleh ketua sidang. Sebelumnya beliau menghimbau para peserta sidang untuk men-silent alat komunikasinya, namun kami masih boleh memfoto sidang dari tempat masing-masing dan tanpa mengganggu keberjalan sidang. Wow, serius sekali ya! Pertama-tama Pak Kadarsah sebagai promotor diminta membacakan sambutan dan pertanggung jawaban ilmiah atas penelitian yang dilakukan dan disertasi kandidat doktor. Kemudian ketua sidang mempersilakan promovendus masuk ke ruangan sidang. Saya pertama kali mendengar kata promovendus, yang ternyata berarti kandidat yang mempertahankan hasil penelitian dan disertasinya pada sidang promosi doktor.

Sebelum dimulai presentasi, sang ketua sidang menanyakan kepada kandidat apakah beliau cukup sehat untuk memberikan pemaparan saat sidang ini, dan Bu Ria menyatakan bahwa beliau sehat. Bu Ria mempresentasikan hasil penelitian selama kurang lebih 20 menit. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan dari promotor dan ko-promotor. Masing-masing penguji menanyakan satu atau beberapa hal (seperti Pak Benny Ranti yang bertanya poin nomor 1a, 1b dan 2) dan langsung dijawab oleh promovendus. Namun tidak ada tanggapan lebih lanjut dari penanya. Setelah Saya tanyakan, katanya karena perdebatan sudah dilakukan dengan intens ketika sidang tertutup dan sidang terbuka sifatnya hanya diseminasi hasil penelitian. Karena sidang ini merupakan forum ilmiah yang serius, bahkan tertawa atau bertepuk tanganpun tidak ada hadirin yang melakukannya.

Sesi pertama sidang selesai ketika seluruh pembimbing dan penguji sudah mengajukan pertanyaan dan dijawab oleh kandidat. Sesi selanjutnya adalah break selama 30 menit untuk promotor dan ko-promotor melakukan penilaian terhadap sidang. Saya pikir kok lama sekali ya? Padahal kalau sidang S1 atau S2 biasanya dalam 5 menit nilai seminar dan Tugas Akhir sudah keluar. Sesi istirahat ini dimanfaatkan untuk berfoto-foto dan memberikan selamat karena promovendus telah menyelesaikan pemaparan sidangnya. 

Setelah sidang diskors selama 30 menit, para promotor kembali ke ruangan. Dan hasil yang tunggu-tunggu tiba, ketua sidang membacakan hasil penilaian yang menyatakan Bu Ria lulus dengan predikat cum laude. Pak Kadarsah kemudian memberikan sambutan dan kuliah terakhirnya kepada promovendus doktor Made Andriani. Salah satu poin yang beliau sampaikan adalah “masyarakat tidak bertanya mengenai latar belakang kamu dan pendidikan Anda, namun mereka akan menanyakan apa yang dapat Anda berikan kepada lingkungan.”

Selamat Atas Kelulusannya Dr. Made Andriani, S.T., M.T.!


Hal yang Saya rasakan dalam pengalaman mengikuti sidang adalah hasil penelitian yang telah dilakukan secara komprehensif merupakan seuatu yang serius sehingga pensuasanaan sidang untuk diseminasi hasil penelitian pun serius. Dan setelah dibacakan hasilnya, suasana haru dan bahagia mewarnai ruangan. Apalagi keluarga, rekan sejawat, dan teman-teman dekat yang selama ini mendukung penelitian dan penyusunan disertasi hadir untuk memberikan apresiasi. Semua pengorbanan yang dikeluarkan oleh sang kandidat doktor terbayar sudah setelah sidang terbuka selesai. Dan yang pasti, penelitian dan pengabdian masyarakat tidak berhenti sampai titik mendapatkan gelar doktor saja. 

Kamis, 30 Agustus 2018

Yuk Kenalan dengan 12 Satwa Unik Penghuni Delta Mahakam

Delta Mahakam di Kalimantan Timur merupakan area delta yang terbentuk dari endapan aliran Sungai Mahakam. Daerah ini terkenal karena sumber daya alamnya yang kaya, terutama minyak dan gas. Banyak perusahaan besar yang mengelola area ini seperti Total E&P, Eni, Vico dan Chevron. Dengan operasi tambang migas di daerah tersebut, ekosistem di sana cukup terdampak. Ditambah lagi lalu-lalang kapal tongkang pengangkut batu bara yang melewati Sungai Mahakam dapat menambah dampak negatif pada habitat satwa di sana.

Beberapa vegetasi dan hewan yang berhabitat di sana ada yang merupakan mahkluk hidup yang dilindungi. Yuk kita kenali 12 satwa unik yang berhabitat di kawasan Delta Mahakam.

1.       Crested Hawk-Eagle
Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus)
Burung ini memiliki sayap paralel yang panjang, dan akan tetap datar ketika mengudara. Hal ini merupakan ciri khusus yang membedakan elang jenis ini dengan elang gunung lainnya. Suranya nyaring serta memiliki teriakan yang melengking dan bernada tinggi. Spesies jenis ini biasanya ditemukan di bagian selatan Delta Mahakam.

2.       Banded Bay Cukcoo
Wiwik Lurik (Cacomantis coneratii)
Dengan penampilan alis berwarna butih, paruh panjang dan ekor berkeluk, spesies ini mudah dibedakan dengan burung kukuk lainnya. Suara dari burung ini juga memiliki perbedaan yang jelas: siulan bernada tinggi yang terdiri dari 4 nada yang ditranskripsikan sebagai ("wii-tii-wii-tii"). Biasanya hewan ini ditemukan di area hutan yang rimbun, seringkali di area berbukit.

3.       Long Tailed Macaque
Monyet kra (Macaca fascicularis)
Memiliki ekor panjang yang seringkali lebih panang dari tubuhnya, spesies monyet jenis ini dikenal sebagai kera, kemungkinan karena suaranya yang bernada tinggi. Biasanya ditemukan di area rawa-rawa Delta Mahakam ketika mereka mencari makan saat air sedang surut.

4.       Black-Crowned Night-Heron
Kowak Malam Abu (Nycticorax nycticorax)
Burung ini memiliki kebisaan nokturnal dan suara yang serak seperti lenguhan sapi. Ukurannya pendek berisi dengan kaki yang relatif pendek jika dibandingkan dengan burung Kowak lainnya. Ketika terbang mereka menarik kepalanya ke dekat pundak. Hampir membuat lehernya terlihat menghilang. Spesies ini biasanya tinggal di bagian utara Delta Mahakam.

5.       Dusky Munia
Bondol Kalimantan (Lonchura fuscans)
Burung ini adalah jenis burung pipit yang endemik Kalimantan. Nama burung ini mengacu kepada sayapnya yang berwarna hitam. Burung ini seringkali ditemukan di daratan rendah di Kalimantan dan pulau-pulau di sekelilingnya. Bagian tengah Delta Mahakam berfungsi sebagai basis populasi burung ini.

6.       Earless Monitor Lizard
Biawak tak Bertelinga (Lanthanotus borneensis)
Hewan berwarna coklat ini merupakan hewan semi-akuatik yang endemik dari Kalimantan bagian utara. Walaupun namanya demikian, hewan ini memiliki kemampuan mendengar. Hanya saja mereka tidak memiliki tympanum (daun telinga) dan tanda-tanda organ telinga lainnya. Reptil nokturnal ini sangat jarang ditemui dan merupakan satwa yang dilindungi. Mereka dapat dijumpai di area sekitar sungai Mahakam.

7.       Woodpecker
Burung Pelatuk (Picidae)
Burung pelatuk memiliki paruh yang runcing dan kokoh serta lidah yang panjang dan dilengkapi dengan cairan seperti lem pada ujungnya yang berfungsi untuk menangkap serangga. Seekor burung pelatuk dapat mematuk dahan pohon hingga 100 kali per menit dengan kecepatan hingga 24 kilometer per jam. Burung jenis ini banyak dijumpai di daerah utara Delta Mahakam.

8.       Oriental Pied-Hornbill
Kerangkeng perut putih (Anthracoceros albirostris)
Burung rangkong dengan bentuk paruh kanopi yang unik ini merupakan jenis burung rangkong terkecil dan paling umum diantara jenis burung rangkong yang berhabitat di Asia. Burung ini memiliki peran penting dalam pembuahan bunga pada tanaman yang buahnya dikomsumsi oleh rangkong ini. Spesies ini banyak ditemui di daerah pertengahan dan selatan Delta Mahakam.

9.       Saltwater Crocodile
Buaya muara (Crocodylus porosus)
Buaya muara atau buaya bekatak merupakan jenis buaya yang paling besar, juga merupakan predator darat dan tepi pantai yang paling besar di dunia. Hewan jantan dapat mencapai panjang 6.3 meter dan berat 1.360 kg. Buaya ini mampu mengerti beragam aktivitas yang kompleks dan bertahan hidup di lingkungan yang keras. Seringkali ditemui di bagian rawa-rawa Delta Mahakam.

10.   Tong-Tong Stork
Bangau Tong Tong (Leptoptilos javanicus)
Burung berukuran besar ini memiliki kaki, leher dan paruh yang panjang serta memiliki postur yang tegak dengan tinggi berkisar antara 110-120. Biasanya burung ini senyap, namun di sarangnya seringkali burung ini mendesis, membuat bunyi gemerincing dengan paruhnya dan melenguh. Bangau ini sering ditemuan menjelajah langit di atas Delta Mahakam bagian selatan

11.   Proboscis Monkey
Bekantan (Nasalis larvatus)
Bekantan adalah hewan yang dilindungi. Monyet jenis ini memiliki warna coklat kemerahan dan ciri khususnya adalah hidungnya yang luar biasa besar. Karena pola hidupnya yang biasa dihabiskan di dekat perairan, spesies bekantan biasanya banyak dijumpai di bagian pesisir dan sepanjang bantaran sungai Mahakam.

12.   Collared Kingfisher
Cekakak sungai (Todiramphus chloris)
Fitur lingkaran putih di sekitar lehernya yang menyebabkan burung ini dipanggil demikian. Spesies burung ini memiliki suara yang bervariasi tergantung area geografisnya. Paling banyak spesies burung ini mengeluarkan suara yang nyaring, keras dan metalik. Biasanya spesies burung ini menghuni kolam-kolam di sekitaran Delta Mahakam, terutama tempatnya mencari makan.

Dengan mengenal ciri-ciri hewan di atas, minimal melalui foto, setidaknya kita bisa meningkatkan awareness kita terhadap perlindungan satwa di daerah terdampak tambang minyak dan gas.

Hak cipta seluruh foto pada post ini milik Communication Corporate Division Total E&P Indonesia

Selasa, 28 Agustus 2018

7 Ciri Unik Tari Saman yang Perlu Diketahui

Pernahkah kamu melihat pertunjukan tarian tradisional khas Aceh yang ditarikan oleh sekelompok wanita yang duduk berbaris dan menyebutnya sebagai Tari Saman? Atau apakah ketika SMP/SMA dulu kamu pernah ikut ekstrakulikuler Tari Saman? Ternyata tari tersebut bukanlah Tari Saman yang sebenarnya. Masih banyak orang yang salah presepsi mengenai tari saman. Padahal tarian ini merupakan salah satu Intangible Culture Heritage of Humanity (warisan budaya umat manusia yang tidak berwujud) yang telah ditetapkan oleh UNESCO pada tanggal 24 November 2011.

Saman Aceh Gayo
Tari Saman pada GBA (Gelar Budaya Aceh) 2015

Tari Saman adalah tarian tradisional khas Suku Gayo Lues dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam buku Tari Saman yang disusun oleh Ridhwan Abd Salam, banyak versi asal usul Tari Saman dan nama Saman, mulai dari gerakan yang diciptakan 7 anak raja, hingga tarian yang diciptakan oleh Syeikh Saman yang menyebarkan agama islam di Gayo Lues. Saya merekomendasikan buku ini bagi yang ingin mengetahui lebih dalam soal Tari Saman. Di dalamnya juga dibahas mengenai saman yang dipertandingkan (saman jalu), filosofi Tari Saman, hingga syair Tari saman dalam Bahasa Gayo dan artinya.

Ada beberapa ciri utama tari saman:
1.       Wajib Ditarikan oleh Laki-Laki
Di Suku Gayo, hanya kaum adam yang boleh menarikan Tari Saman. Gerakan-gerakan pada tarian ini melibatkan memukul dada dengan cepat dan keras, sehingga secara fitrah dan kodrat perempuan tidak mungkin memukul dada dengan keras untuk mengeluarkan suara yang nyaring. Tarian ini juga tidak boleh ditampilkan duduk berselang-seling antara pria dan wanita. Jadi tarian tradisional Aceh yang sama-sama berbaris namun ditarikan oleh wanita itu bukanlah Tari Saman, bisa jadi tarian tersebut adalah Ratoh Duek, Ratoh Jaroe atau Rateb Meuseukat.

2.       Jumlah Penari Harus Ganjil
Syarat sah lainnya adalah jumlah penari harus ganjil, misalnya 11 orang. Bisa juga ditambah menjadi 13, 15, 17, 19 dan seterusnya disesuaikan dengan kondisi tempat dan keperluan.

3.       Menggunakan Bahasa Daerah Gayo
Syair-syair penuh makna dalam tarian ini dibawakan dalam bahasa Gayo. Bahasa Gayo berbeda dengan bahasa Aceh, bahkan orang Aceh sendiri banyak yang tidak memahami bahasa ini. Syair pengiring yang dibawakan bernuansa islami dan sarat akan pesan dakwah. Isi dari nyanyian biasanya diawali dengan salam serta penghambaan kepada Allah SWT dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, dilanjutkan dengan penghayatan nilai-nilai agama dan pesan-pesan untuk kemajuan

Contoh syair Tari Saman adalah sebagai berikut:
Iye kubalik berbalik gelap urum terang
Uren urum sidang
Si munamat punce ha e he Allah hu
Mat jari mule kite, ku ko ara dosaku
Mat jari kite miyem apus ntuhen nge dosate

Silih berganti gelap dengan terang
Hujan dan reda
Yang mengendalikannya adalah Allah
Mari kita bersalaman, untuk saling memaafkan
Bersalaman hangat, agar Tuhan hapus dosa

4.       Gerakan Ditarikan tanpa Jeda
Pada beberapa tarian khas Aceh, seringkali setiap selesai satu lagu atau gerakan penari akan diam sejenak selama beberapa detik. Pada Tari Saman, dari awal penari tidak akan berhenti. Akan ada beberapa kali gerakan kosong (gerakan saja tanpa ada syair), namun tidak ada jeda antara gerakan kosong dan gerakan yang ada syairnya. Menurut Saya transisi antar gerakannya terlihat mulus dan tidak kaku.

5.       Para Penari Memakai Pakaian Adat Gayo
Untuk dapat menarikan Tari Saman, pakaian wajibnya adalah pakaian tradisional khas Suku Gayo. Kostum yang digunakan menutup aurat. Satu set pakaian ini terdiri dari: baju kantong (baju berbordir dengan motif yang bernama kerawang), suel naru (celana panjang motif kerawang), pawak (sejenis kain sarung sebatas lutut yang berbordir), dan aksesoris lain seperti ikat tangan dan topi berbentuk melingkar. Bagain pernak-pernik pada dada membuat gerakan memukul dada dengan tangan terdengar nyaring dan tebal.

6.       Pemimpin Tari Berada dalam Satu Barisan
Berbeda dengan tarian tradisional khas Aceh lain seperti Ratoh Duek, Rateb Meuseukat, Tarek Pukat, Rapa’i Geleng dan Likok Pulo yang biasanya syeikh yang memimpin lagu berada di luar barisan, pada Tari Saman, sang pemimpin syair, biasa disebut pengangkat, berada di tengah barisan sambil duduk.

7.       Tidak Menggunakan Alat Musik
Tari Saman tidak menggunakan alat musik sama sekali. Bunyi-bunyi yang muncul hanya berasal dari suara mulut, jentikan jari, tepuk tangan dan tepukan tangan ke anggota tubuh lainnya. Hal ini berbeda dengan tarian tradisional Aceh lain yang menggunakan Rapa’i (sejenis rebana) dan Serune Kalee (alat musik tiup mirip seruling). Oleh karena itu, tidak diperlukan alat rekaman untuk menarikan tarian ini.

Itulah 7 ciri khusus yang membedakan Tari Saman dengan tarian lainnya. Setelah membaca artikel ini, sekarang kita jadi dapat membedakan Tari Saman dengan Tari lainnya. Kawan-kawan juga tidak perlu sungkan untuk membagian artikel ini agar lebih banyak orang teredukasi dan tidak salah paham mengenai Tari Saman

Agar dapat lebih kenal dengan Tari Saman, yuk cek video tarian ini yang ditampilkan pada acara Gelar Budaya Aceh, sebuah pagelaran tahunan UKA (Unit Kebudayaan Aceh) ITB yang diadakan di Bandung. Video yang dimaksud dapat dilihat pada tautan berikut.

tari saman gayo aceh

Lifehack Agar dapat Santai Parkir Dimanapun

Sebagai penghuni rumah pernahkah Kamu merasa kesal karena ada kendaraan yang sembarangan parkir di depan pagar rumahmu? Atau mungkin ada kendaraan besar yang melintang di depan tokomu? Kalau kamu membawa mobil, pernahkah merasa kesulitan mencari tepat parkir atau khawatir menghalangi jalan kalau parkir? Tips pada tulisan ini semoga bisa memberikan alternatif cara untuk parkir “sembarangan” tetapi tidak menyusahkan orang lain.

Terkadang ada kalanya kita harus parkir mendadak di pinggir jalan walau hanya sebentar. Dan tidak ada tempat lain selain didepan rumah atau toko orang. Ditambah lagi kita khawatir apabila parkir di sana akan mengganggu orang lain. Padahal belum tentu ketika parkir ada kendaraan lain yang mau keluar dan/atau masuk bangunan di depan tempat kita parkir.

Masalah utama yang perlu diketahui adalah ketimpangan informasi: pemilik rumah/bangunan yang terhalangi oleh mobil yang parkir tidak tahu siapa pemilik kendaraan dan bagaimana menghubunginya. Untuk menuntaskan masalah tersebut, dan membuka peluang kita untuk parkir di depan rumah/toko orang, Saya mengusulkan untuk membuat papan informasi mengenai pemilik mobil dan bagaimana menghubunginya. Sign board yang Saya buat kira-kira berbentuk seperti ini:

Walaupun namanya board tapi bahannya kertas biasa

Papan informasi tersebut dibuat pada kertas HVS ukuran A4 dengan jenis tulisan Impact berukuran 90. Tulisan dicetak tebal berwarna hitam. Setelah dicetak, kertas tersebut kemudian dilaminating agar tidak lecek dan tidak rusak jika terkena air. Biasanya Saya pasang di depan dashboard kendaraan ketika parkir.

Kata-kata yang dicantumkan adalah “Maaf, izin parkir sebentar. Darurat. Hubungi : (bukan nama asli) (nomor telepon)”. Kata ‘darurat’ membuat seolah-olah alasan parkir kita di sana penting; walaupun ternyata hanya mampir ke minimarket untuk beli minuman saja. Pastikan juga kata-kata tersebut jelas terbaca dari luar.

Bisa dipasang di dalam atau di luar kendaraan (diselipkan di wiper)

Alasan penggunaan nama alias pada sign board tersebut adalah untuk menghindari penipuan. Apabila mencantumkan nama asli. Orang yang memiliki niat jahat dapat kemudian menghubungi nomor tersebut dengan menggunakan nama asli Saya untuk penipuan (undian berhadiah hingga anak kecelakaan), Saya akan langsung tahu bahwa sang penelepon mengetahui nomor Saya dari sign board yang dipasang di mobil.

Sepengalaman Saya menggunakan trik ini, belum pernah ada yang menghubungi karena merasa terhalangi. Tetapi manfaat terbesar Saya adalah tidak lagi merasa nggak enak, takut ngalangin ketika harus parkir di depan rumah atau bangunan milik orang lain di pinggir jalan. Jadi dapat melakukan aktivitas dengan tenang. Kawan-kawan dapat juga mempraktikkan tips ini, tetapi juga perhatikan bahwa tempat parkir tersebut tidak ada marka dilarang parkir atau berhenti.

Senin, 27 Agustus 2018

Mengasah Kemampuan Presentasi pada Kelas Advanced Ganesha Public Speaking (Part 2)

Melanjutkan cerita sebelumnya, post ini akan membahas mengenai aktivitas di kelas pada training Advanced dari Ganesha Public Speaking hari ke-2. Materinya yang dibahas adalah make over slide presentasi dan praktik presentrasi masing-masing orang. Sesi pagi mengenai pembuatan slide dipandu penuh oleh trainer Mas Panji Priambudi.

Peserta dan Tim Training Advanced Public Speaking Angkatan ke-167

Pada training ini, media untuk membuat slide presentasi yang digunakan adalah Ms. Power Point. Walaupun banyak media lain untuk mendesain slide seperti Prezi, Canva, Corell Draw, dsb, power point sudah familiar, mudah diaplikasikan dan up-to-date. Kami berfokus untuk menyiapkan slide yang memukau. Kuncinya 2 hal, sederhana dan optimal. Mas Panji membedah bagaimana membuat slide yang Sederhana *menyajikan hanya 1 pesan dalam 1 slide) dan Optimal (memenuhi kaidah desain dan seni: font, image, & color). Mas Panji, yang spesialisainya di bidang slide, memberikan materi yang berbobot dan aplikatif. Pembuatan slide terutama mengambil referensi pada buku Slide:ology dari Duarte serta PresentationZen dari Reynolds. Mas Panji juga menyajikan makeover dari slide yang sebelumnya kami kirimkan. Dan hasilnya beda banget, lebih powerful slide yang telah dipercantik.

Untuk setiap jenis kegiatan, desain slide yang digunakan belum tentu sama, walaupun kontennya sama. Penyampaian materi perkuliahan untuk mahasiswa pasti berbeda dengan proposal untuk pitching proyek kepada investor. Namun konsep fundamental yang diaplikasikan sama.

Setelah makan siang, setiap peserta diberi kesempatan tampil selama 15 menit untuk mempersiapkan materinya. Dan masing-masing memperoleh feedback dari Mas Taruna & Mas Fauzi. Para peserta, terutama Saya pribadi, dapat memperoleh ilmu baru dari presentasi yang disajikan. Saya terpukau mendengar cerita mengenai serunya kisah hidup di Jerman dari Firman, teredukasi mengenai jurusan Planologi dari Firari sang Planner dan banyak hal lainnya. Ketika sesi Grafologi dari Rahmah, walaupun waktu sudah habis orang masih mau mendengarkan penjelasan mengenai grafobusiness: bagaimana memperbaiki sedikit tulisan tangan dapat berdampak bagi kenaikan finansial kita. Feedback yang diberikan kepada setiap pembicara juga menjadi pelajaran bagi seluruh peserta.

Presentasi Grafologi dari Mbak Rahmah sang Grafolog dari Zenlife
  
Bagi Saya pribadi, materi yang diajarkan pada training ini ibarat sebuah kunji yang membuka pintu menuju public speaking yang lebih besar. Tentu Saya harus mengaplikasikan ilmu ini agar bermanfaat. Dan apabila Saya mau mengeksplorasi lebih dalam Saya sudah memiliki bekalnya. Jadi, Saya merekomendasikan training ini bagi kawan-kawan, baik profesional maupun pelajar, yang ingin mengasah kemampuan presentasi dan public speaking-nya dapat menyampaikan presentasi dengan lebih efektif dan materinya sampai ke audiens yang ditargetkan!

Pose  "Salam 4 Jari" Bersama Trainer Taruna Perdana

Mengasah Kemampuan Presentasi pada Kelas Advanced Ganesha Public Speaking (Part 1)

Saya mendapatkan banyak tips praktis ketika mengikuti Kelas Advance pada pelatihan public speaking. Advanced Public Speaking Class dari Ganesha Public Speaking berfokus untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum terutama pada penyampaian presentasi.

Saya direkomendasikan training oleh Kak Aldi (Aldila Rizkiana). Saya melihat ketika seminar dan sidang thesisnya, Kak Aldi menyampaikan materi dengan lancar, alurnya rapi mudah dipahami dan didukung oleh slide yang simple tapi selaras dengan presentasinya.

Traning yang Saya ambil berlangsung dari pukul 08.00 – 21.00 pada hari Sabtu & Ahad, 25 & 26 Agustus 2018 di Hotel Santika Bandung. Peserta kelasnya total berjumlah 8 orang pada batch ini. Kelas kecil, tapi efektif karena setiap orang memiliki kesempatan untuk bicara. Ada 3 orang trainer yang meng-handle kelas ini, Fauzi Noerwenda, Taruna Perdana, dan Panji Priambudi. Ketiga trainer tersebut merupakan ahli di bidang public speaking dan memiliki spesialisasi di bidang tertentu.

E-Brocuhre Kelas Advanced
  
Terdapat dua bagian penting dalam presentasi, yakni persiapan (prerapration) dan pelaksanaan presentasi (presentation). Para public speaker mengatakan bahwa persiapan setidaknya sebanyak 10 kali dari presentasi. Apabila presentasinya 1 jam, maka persiapan yang ideal adalah 10 kali lipatnya.

Sebelum kelas dimulai, terlebih dahulu kami diminta menyiapkan materi dan mengirimkan slide presentasi dalam power point. Kata admin GPSS, “Kelas Advanced hanyalah baju dan make-up-nya. Konten utamanya adalah materi Bapak/Ibu sendiri”. Saya memilih untuk membawakan materi PRA (Participatory Rural Appraisal) dari Creavill karena alasan simple, slide-nya sudah ada dan Saya sudah pernah mendapatkan materinya dari Kang Agung dan Kang Iqbal (Founder Creavill).

Hari pertama berfokus pada persiapan. Setelah memfiksasi topik yang akan dibawakan, kami melakukan tahapan creating idea untuk mendefinisikan WHO (kepada siapa kita akan berkomunikasi dan WHAT (apa yang kita mau dari audiens, apakah hanya sekedar tahu [KNOW] atau dapat melakukan [DO]). Selanjutnya kami melakukan proses brainstoring untuk men-generate sebanyak-banyaknya ide yang berkaitan dengan topik yang kami pilih. Ternyata banyak sekali ide yang dapat muncul dan kemungkinan kekurangan bahan untuk dibicarakan itu amat minim.

Untuk dapat menyajikan presentasi yang dapat membuat orang tergerak, ada 2 syarat yang harus dipenuhi: kebutuhan logis dan emosional audiens terpenuhi. Menyajikan data dan fakta yang mendukung, rasional dan masuk akan serta mengemasnya dengan unsur cerita (story telling) dapat memenuhi dua kebutuhan tersebut. Terlebih kita sebagai orang timur yang suka cerita, presentasi yang memuat konten cerita pengalaman pribadi, keluarga atau teman akan lebih powerful dibandingkan mengutip cerita dari tokoh. Ada beberapa kasus khusus dimana unsur logika jauh lebih dominan dalam presentasi, misalkan pada sidang Tugas Akhir atau presentasi makalah ilmiah. Hal yang paling penting dalam presentasi tersebut adalah bagaimana penelitian dilakukan dan apa hasilnya.

Yeah! Tampil di Publikasi di IG Ganesha Public Speaking


Masuk ke bagian presentasi, ada 3 bagian alur presentasi: pembukaan, isi dan penutup. Kami belajar mengenai pembukaan yang impactful dengan perkenalan serta why (mengapa penting menyampaikan topik, mengapa topik ini penting bagi audiens). Bagian isi merupakan bagian terpenting dalam presentasi, content is hero. Dalam pemaparan materi TED Talk, kebanyakan public speaker gaya presentasinya biasa saja sebenarnya, tapi karena kontennya eksklusif dan berkualitas, semua penonton memperhatikan dan seakan tidak mau terlewatkan satu kata pun yang disampaikan. Oleh karena itu pembicara harus dapat menyampaikan konten yang berbobot tersebut dengan simpel. Salah satu caranya dengan membagi menjadi 3 keywords agar mudah diingat oleh audiens. Bagian penutup diisi dengan review materi, penarikan kesimpulan dan pemberian command.

Setiap peserta praktik presentasi langsung dengan membawakan mengenai topiknya masing-masing. Di angkatan ke-167 yang sekarang, ada Pak Nanang, seorang konsultan IT yang membawakan presentasi mengenai mobile data dan jaringan; Lulu, Mahasiswa, PGPAUD UPI yang membawakan materi mengenai anak-anak; Athaya, mahasiswa Sosiologi UNPAD dan penggiat literasi yang membuat kami penasaran dengan presentasi BuJo; Firman, mahasiswa Univ. Applied Science Berlin, yang jauh-jauh datang dari Jerman untuk berbagi mengenai kehidupan dan studi di Jerman; Marsya, seorang Grafolog yang menarget “emak-emak jago jualan” untuk melesatkan bisnis mereka dengan Grafobusiness; Fajar, seorang desainer grafis dari tanggerang yang mengangkat topik copywriting untuk pemasaran online; serta Firari, mahasiswi PWK ITB yang ingin mengedukasi anak-anak SMA mengenai program studi planologi.

Sesi malam yang dibawakan oleh Taruna Perdana bagi saya merupakan sesi yang paling menohok. Pada sesi yang membahas impresi dan penampilan tersebut Saya banyak memperoleh ilmu baru mengenai menampilkan kesan pertama yang diinginkan, serta memadu padankan pakaian dan asesoris yang dapat membuat penampilan kita lebih powerful ketika melakukan public speaking. Saya sadar bahwa sebelumnya Saya masih kurang memperhatikan pakaian apa yang saya kenakan dan ternyata ada beberapa pemahaman yang kurang tepat. Sang Trainer membahas mulai dari pakaian unuk pria dan wanita, aksesoris, budaya kita dalam berpakaian, dan juga membahas batik, pakaian khas Indonesia. Kalau di internet biasanya hanya dibahas mengenai cara berpakaian menggunakan kemeja, jas dan blazer, namun pada training ini juga dikaji mengenai motif batik, jenis batik, perbedaan batik perempuan dan laki-laki hingga pada kesempatan public speaking apa yang dapat menggunakan batik.


Post berikutnya akan membahas training Kelas Advance Ganesha Public Speaking hari ke-2  

Sabtu, 25 Agustus 2018

Desain Nametag yang Ideal

Hampir di setiap acara atau kepanitian, akan ada nametag sebagai tanda pengenal. Namun, dibeberapa acara yang pernah Saya alami bukannya membantu keberjalan acara, melainkan malah menghambat. Misalnya nametag yang terbalik sehingga nama peseta atau panitia kekecilan, nametag yang menggantu sehingga mengganggu mobilitas, hingga tulisan atau cetakan yang luntur akibat terkena air.

Post ini bukan bertujuan untuk membahas mengenai kegunaan nametag, melainkan untuk memberi contoh salah satu desain yang menurut Saya ideal untuk beberapa jenis kegiatan seperti pelatihan. Dari beragam jenis dan desain yang pernah Saya temui, ada satu desain nametag yang menrut Saya punya beberapa keunggulan dibandingkan nametag lain yang pernah saya peroleh. Desain tersebut sebagai berikut:

Nametag dengan Peniti (Ukuran Business Card)


Sebagai gambaran, SIAware (Self Insight Awareness) Training adalah pelatihan untuk mengenal soal diri sendiri dan meningkatkan awareness. Nametag tersebut bertujuan agar saling dapat mengetahui nama panggilan peserta, fasilitator dan trainer. Nametag berwarna kuning adalah untuk peserta dan yang berwarna orange adalah untuk fasilitator, panitia dan tim trainer.

Ada 3 alasan utama yang membuat Saya merasa bentuk nametag ini efektif dan efisien, antara lain:

1.     Tampilan yang Ergonomis
Tulisan yang paling mudah dibaca adalah tulisan dengan tinta hitam di atas media berwarna putih. Kalaupun ingin menggunakan warna lain, pilihlah warna yang kontras antara latar belakang dan tulisannya. Tulisan hitam di kertas kuning akan lebih mudah dibaca daripada tulisan berwarna hijau yang ditulis di media berwarna kuning.

Ukuran tulisan juga berperan penting dalam kemudahan keterbacaan. Pada beberapa desain nametag, nama acara atau bahkan logo acara dicetak jauh lebih besar daripada nama peserta atau panitia itu sendiri. Tulisan nama pada nametag setidaknya dapat dibaca (oleh mata normal) dalam jarak 10 meter. Padahal ketika panitia dan peserta sudah sama-sama tahun informasi mengenai acara tersebut (nama, tempat, waktu, dsb), yang paling penting untuk ditonjolkan adalah nama sang pemilik nametag. Untuk membedakan antara peserta dan panitia dapat dibedakan dari warna dasar nametag.

2.     Jenis Bingkai yang Sesuai
Pernahkah Kamu sulit membaca tulisan pada nametag karena terbalik? Pada nametag yang bentuknya dikalungkan di leher, sebaiknya kertaas nametag dicetak dua sisi atau digantung menggunakan tali yang mengikat di kedua sisinya. Dengan menggunakan bentuk nametag kartu yang disematkan dengan  menggunakan peniti, nametag ini bisa disematkan di mana saja pada pakaian, tidak perlu khawatir tertutup jaket atau pakaian lainnya.

3.     Bahan yang Murah
Apabila budget acara besar, nametag dapat dibuat seperti ID Card pegawai dengan smartchip ataupun desain lainnya. Namun apabila anggarannya terbatas, biaya cetak untuk nametag pun biasanya tidak terlalu besar. Bentuk nametag pada contoh tidak perlu mengeluarkan biaya yang tinggi. Cukup dicetak dengan menggunakan tinta hitam / toner di kertas berwarna. Dan satu kertas ukuran A4 dapat memuat banyak nama. Jadi tidak perlu cetak dengan tinta berwarna dan juga tidak perlu khawatir tintanya akan luntur ketika terkena air.

Jenis nametag seperti ini memang tidak dapat digenerasiliasi untuk semua acara. Pada konferensi internasional bisa jadi pada nametag perlu juga ditambahkan foto dan ID peserta. Pada kegiatan ospek jurusan misalnya, ukuran nametag harus besar dan mencantumkan golongan darah dan penyakit yang diidap.  Namun untuk acara seminar, pelatihan, atau kegiatan di kampus lainnya, bentuk nametag seperti ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan nametag kalung yang biasanya.

Contoh Nametag Kalung yang Dimaksud

Tips Do'a Perjalanan Lancar dari Pak Asep

Di masa pembangunan LRT, MRT dan fasilitas transportasi publik lainnya di daerah Jabodetabek, perjalanan Jakarta-Bandung melalui tol yang sebelumnya antara 2 s/d 3 jam pada kondisi normal, dapat mencapai 5 jam bahkan lebih. Dan 80% waktu tempuh biasanya dihabiskan di 20% kilomoter pertama di daerah Jakarta. Bahkan rekor yang pernah Saya alami adalah 11 jam perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandung. Padahal hari tersebut adalah hari kamis pagi dan Saya tidak berangkat pada rush hour.

Banyak orang beralih dari travel/shuttle menggunakan kereta untuk menempuh perjalanan Jakarta-Bandung, karena memiliki jadwal yang lebih pasti. Namun dengan keterbatasan kapasitas dan jadwal keberangkatan kereta, seringkali tiket KA Argo Parahyangan cepat habis. Perjalanan degan mobil tidak bisa dielakkan lagi kalau begitu.

Dalam suatu perjalanan lewat tol dari Bandung-Jakarta, Saya memperoleh tips menarik dari Pak Asep Sudrajat. Beliau adalah dosen jurusan Teknik Industri di Universitas Widyatama, Bandung. Domisili beliau adalah Cianjur, jadi beliau rutin bolak-balik Bandung-Cianjur untuk bekerja. Perjalanan pulang pergi dari Bandung – Cianjur bukanlah perjalanan yang sebentar. Bahkan ada beberapa titik kemacetan pada jam berangkat kerja dan pulang kantor, misalnya di kawasan industri di Padalarang. Di setiap perjalanan, beliau juga selalu berdo’a:
“Ya Allah, semoga ketika Saya lewat jalannya lancar”
Beliau tidak butuh selama 2 jam perjalanan lancar atau sepanjang jarak tempuhnya lancar. Beliau hanya butuh ketika lewat jalannya lancar. Beliau bahkan mengetakan bahwa boleh saja di Google Maps atau Waze lajurnya merah, atau mungkin ada lakalantas di jalur yang kita lewati. Namun beliau hanya meminta ketika lewat, jalannya lancar. Dan Allah itu sesuai prasangka hambanya. Yakinlah bahwa Allah Maha Mendengar do’a kita.  

Terdapat beberapa aktivitas yang membuat Saya pergi ke Jakarta dari Badung sampai 3 hari dalam sepekan, dan itu menggunakan mobil kantor atau travel. Ketika sudah mengamalkan ilmu dari beliau, Alhamdulillah jalannya selalu lancar. Bahwkan waktu itu kami sempat berangkat ke Jakarta senin pagi dan juga sempat mengalami pulang ke Bandung hari Kamis sore sebelum long weekend. Alhamdulillah jalannya lancar. Kawan-kawan juga bisa menerapkan do’a ini dalam perjalanan. 

Jumat, 24 Agustus 2018

Khanduri Aceh 2013: Tari Saman Gayo Pertama Kali Ditampilkan di Kampus ITB

Salah satu keputusan yang paling memengaruhi hidup Saya ketika kuliah adalah bergabung dengan Unit Kebudayan Aceh (UKA) ITB. Bergaul dengan kawan-kawan yang berasal dari provinsi Naggroe Aceh Darussalam ini tidak hanya membuat Saya mengenal budaya dan adat Aceh, namun juga menemukan keluarga baru di Sunken Court.

Saya baru mendaftar di UKA ITB pada OHU (Open House Unit) tahun 2013, ketika sudah berada di tingkat 3. Hal yang paling memengaruhi keputusan Saya untuk bergabung adalah acara Khanduri 2013. Acara ini merupakan pameran budaya dan penampilan tarian-tarian tradisional asal Aceh yang diselenggarakan di Lapang Basket ITB pada hari Jum’at, 15 Maret 2013. Dalam Bahasa Aceh sendiri kata ‘Khanduri’ berarti perayaan, jamuan untuk memeringati suatu peristiwa, atau selamatan.

Logo Khanduri Aceh 2013, mengadaptasi bentuk Rencong, senjata tradisional khas Aceh

Sebelum datang ke acara, Saya tertarik dengan poster publikasi Khanduri yang mengatakan bahwa ada alah pementasan tari Saman asli Gayo pertama di kampus. Bukankah tarian tradisional yang dimainkan sambil duduk asal Aceh dan sering ditarikan di acara-acara itu tari Saman? Lalu tari Saman seperti apa yang akan dipentaskan nanti?

Untuk menjawab rasa penasaran, Saya hadir di Lapbas dari setelah maghrib. Ada stand kuliner juga di sana. Mie Acehnya enak, dan gratis. Semakin lama Lapbas dipadati warga kampus yang antusias untuk menantikan Khanduri Aceh. Para penonton duduk beralaskan terpal di lapbas.

Acara di buka setelah isya. Dan ternyata salah satu MCnya itu adalah kakak kelas di jurusan MRI (Manajemen Rekayasa Industri), tak lain adalah Teh Sabeu (Shabrina Salsabila). Sebelum para penari tambil, UKA ITB membawakan lagu-lagu Aceh dan beberapa video tentang kuliner, landmark dan budaya khas Aceh. Tarian yang dibawakan antara lain adalah tarian pembuka Ranup Lampuan, Beudoh, dan Ratoh Duek yang ditarikan oleh penari wanita serta tari Saman, Likok Pulo dan Beudoh yang ditampilkan oleh penari pria.

Pada acara tersebut Saya baru tahu bahwa tari Saman yang sebenarnya berbeda dengan tari “saman” yang sebelumnya saya kira. Beberapa ciri khas tari saman antara lain tarian ini harus ditarikan oleh pria, dengan jumlah penari ganjil, menggunakan pakaian tradisional khas Gayo, syair yang dinyanyikan menggunakan bahasa Gayo. Hal lain yang membedakan dengan tarian lainnya adalah pemimpin tari (belakangan Saya tahu namanya penangkat) berada dalam satu barisan yang sama, gerakannya cepat dan banyak menghentak dada dan paha, serta bunyi-bunyi yang muncul hanya berasal dari suara mulut, tepukan tangan dan tepukan kepada anggota tubuh. Walaupun Saya tidak mengerti liriknya, Saya dapat menikmati tarian yang dibawakan dan menangkap apa pesan yang ingin disampaikan oleh tarian tersebut.

Penari tarian Saman di Khanduri Aceh adalah anak-anak TPB angkatan 2012. Saya salut karena mereka dapat membawakan tarian dengan kompak dan seirama. Di balik kesegaraman Gaya di panggung, pasti ada latihan intens yang dijalani para penarinya.

Tidak hanya tari Saman, tari Likok Pulo dan Rapa’i Geleng juga amat memukau. Ketika menonton tari Likok Pulo Saya merasakan suasana senang dan riang. Ternyata tarian tersebut pertama kali diciptakan untuk merayakan panen. Pantas suasananya seperti itu. Puncak acara menyajikan tarian Rapa’i Geleng. Tarian ini adalah tarian untuk membakar semangat perang yang dibawakan dengan rapa’i (alat musik tradisional Aceh yang berbentuk seperti rebana) sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sorak sorai penonton begitu riuh ketika melihat gerakan saling lempar-melempar rapa’i. Saya tertegun kagum melihatnya. Itu keren banget! Dalam hari Saya berkeinginan untuk “sebelum lulus Saya harus dapat menguasai tarian Saman dan Rapa’i Geleng”. Setidaknya ketika lulus Saya dapat menarikan salah satu tarian tradisional Indonesia. Keinginan tersebutlah yang akhirnya mendorong Saya untuk tetap mengikuti rangkaian ospek UKA bersama para TPB 2013 walau sudah tingkat 3.

Acara Khanduri Aceh ini tidak hanya mengedukasi warga kampus dan masyarakat umum terhadap budaya Aceh, tapi juga dapat membuat seseorang yang tidak memiliki darah Aceh dan tidak memiliki relasi sama sekali terhadap Serambi Mekah tertarik untuk belajar budaya tanah Rencong. Terima kasih UKA ITB!



Rekaman video Tari Saman di Khanduri Aceh 2013 dapat diakses di link berikut
http://bit.ly/SamanKhanduri2013