Sabtu, 25 Juni 2016

3 Kejutan di Buka Bersama MTI Chapter Balikpapan



Momen Bukber (Buka Bersama) seringkali dimanfaatkan untuk momen bersilaturahmi. Dalam setahun bisa jadi ajang bertatap muka dengan teman SD, SMP, SMA atau jenjang pendidikan tinggi bisa jadi hanya terjadi satu kali, yakni saat buka puasa bersama tersebut. Bukber sering juga terdengar dalam rangkaian huruf yang berbeda, misalkan ifthar, bukpus (buka puasa) dan bubar (buka bareng) tetapi istilah yang paling sering didengar adalah bukber.

Di Balikpapan, Kalimantan Timur, alumni MTI (Keluarga Mahasiswa Teknik Industri) rutin mengadakan acara buka puasa bersama dan gathering setiap tahunnya. Mungkin komunitas alumni MTI di daerah lain pun sering mengadakan acara sejenis. Konseptor dan panitia acara tersebut biasanya angkatan termuda. Kebetulan Saya (MTI 2011) dan Malik (Abdullah L. Malik, MTI 2010) merupakan angkatan termuda yang sedang berdomisili di Balikpapan ketika Ramadhan 1437 H ini.


 Poster Publikasi yang Dibuat di MS Word


Acara diselenggarakan pada tanggal 23 Juni 2016, sehari setelah acara buka puasa bersama IA (Ikatan Alumni) kampus sektor Kaltim. Buka bersama IA digelar di kediaman Pak Hary Setyawan (Sipil ’85) di Kompleks Perumahan Gunung Karang No. 17, Jl. Longikis. Sebanyak 48 orang alumni menghadiri acara tersebut. 


 
 Sebagian Alumni yang Ada di Kalimantan Timur


Dalam mata acara terdapat kajian dan bedah buku oleh Ust. Akmal Sjafril (Sipil ’99). Beliau aktif full-time di dunia dakwah dan passion beliau ada di ghazwul fikri (perang pemirikan) gerakan Indonesia Tanpa JIL (Jaringan Islam Liberal). Beliau baru menerbitkan dua buah buku berjudul Wujudkan Ramadhan Terbaikmu dan Islam Liberal: Ideologi Delusional. Diskusi menarik mengenai ghazwul fikri di Indonesia berlanjut bahkan hingga 2 jam setelah shalat tarawih.




Dua Buah Buku yang Baru Diterbitkan oleh Ust. Akmal Sjafril 


Kembali ke topik awal, acara bukber A-MTI kali ini bertempat di RM Padang UPIK di daerah Klandasan, dekat RS Pertamina Balikpapan. Menu andalannya adalah makanan minang. Setelah disurvei, rumah makan ini memiliki tempat tertutup ber-AC yang cukup privat, enak untuk dijadikan tempat makan bersama. Jika dibuat kurva regresi, pemilihan tempat di UPIK ini sepertinya membuat garis tren menurun. Tahun-tahun sebelumnya buka bersama digelar di Hotel Blue Sky (4 star hotel), Ocean (restoran sea food yang cozy di pinggir laut) dan Golden Palace (rumah makan chinese food yang top).  

Ada dua tipe penyajian menu di RM Padang UPIK, yakni saji dan hidang. Pada tipe saji beragam makanan disajikan di meja dan kita bebas memilih makanan. Pengunjung hanya membayar apa yang mereka makan. Kebalikannya, hidang adalah tipe penyajian menu ketika pengunjung memilih menu apa saja yang ingin ia santap di etalase kemudian membawanya ke meja. Agar lebih akrab dan suasana kekeluargaan lebih terasa, pada acara bukber ini Kami memilh menu saji.

Ada tiga hal yang berbeda dan tidak biasa dalam acara ini.

  1. Ada Penghias Tempat Acara
Masih terbawa-bawa suasana kampus ketika setiap acara memiliki dekorasi tematiknya, Kami berinisiatif untuk menambahkan hiasan-hiasan pada tempat acara buka puasa bersama. Ternyata dalam acara bukber sebelum-sebelumnya dekorasi tidak lazim ditemui, pun begitu untuk acara makan bersama lainnya. Dengan modal yang sangat terbatas dan barang-barang re-use, jadilah dekorasi minimalis yang menghiasi dinding UPIK. Lambang MTI dicetak di kertas A3 biasa, flag-decoration diperoleh dari hiasan di acara sebelumnya (tulisan ditimba dengan tulisan ‘BUKBER AMTI-BPN’, serta balon (yang kebetulan warna biru) juga diperoleh secara kebetulan. Hampir tidak ada biaya yang keluar untuk desain tersebut. Untungnya walau minimalis dekorasi tersebut diapresiasi oleh kakak-kakak alumni MTI yang datang. Terima kasih, Kakak-kakak!

  1. Ada Doorprize yang Menghilang 
Rencananya akan ada game perkenalan bernama Game Bohong berdasarkan ide dari Kak Dadit (Rakha Perkasa, MTI ’08).  Pemenang game akan mendapatkan hadiah yang menarik


  • Cara bermainnya adalah pertama kita harus menyiapkan kertas yg isinya biodata kosong, tapi yang agak aneh, jangan sekedar nama & angkatan. Misal ada 7 data: nama, angkatan, hobi, pekerjaan, makanan favorit, habit yg dilakukan pertama kali pas bangun tidur, mimpi terakhir yang diingat. 
  • Nanti kertas ini langsung dibagikan ketika alumni datang, lalu diisi, kemudian dimasukin ke wadah. Game dimulai dengan salah satu (mulai dari sekarang kita sebut A) mengambil random kertas, tetapi tidak boleh sampai dapat namanya sendiri. Lalu si A buka dan dia harus tahu itu biodata siapa tanpa bertanya dan tanpa menyebutkan isinya.
  • Setelah si A sudah bener mengenali siapa org yg punya biodata itu (mulai dari sekarang kita sebut B), si B harus berdiri. nah si B harus nunjuk salah satu orang lainnya (mulai dari sekarang kita sebut C).
  • Game dimulai. Si A akan menyebutkan isi biodata si B satu persatu, boleh jujur sesuai yang tertera atau boleh bohong.Ssi C harus menebak data-data mana yang jujur dan data-data mana yang bohong.
  • Hukumannya kalau dia salah tebak lebih dari 3 kali maka dihukum sesuatu sesuai instruksi panitia
  • Kemudian berlanjut, si C akan jadi si A utk memilih kertas berikutnya... dst..dst..
Kak Dadit telah capek-capek dan serius menge-chat aturan game di komunikator tapi sayangnya game tidak jadi dimainkan. Padahal di awal ketika datang alumni telah mengisikan biodata pada kertas pemainan. Ketika bukber para alumni terlarut dalam perbincangan melepas kangen, meng-update kabar dan menyimak cerita dari “tamu” yang datang. Alhasil permainan tertunda dan doorprize yang telah disiapkan untuk memenang dengan terpaksa harus ditahan.
Sorry ya Kak Dadit game-nya gak dipake. Tapi makasih idenya ya!

  1. Ada Tamu Tak Diundang
Undangan bukber kali ini sebenarnya ditujukan untuk alumni-alumni MTI, tetapi jika ada mahasiswa yang sedang KP (Kerja Praktek) atau magang di Balikpapan pun dipersilakan untuk hadir. Awalnya kami hanya mengajak 2 orang MTI 2013 yang sedang menekuni masa KP di Balikpapan, yaitu Angga (Angga Ratna Sari, TI ’13) dan Tania (Yohana Betania, MRI ’13). Tapi kebetulan mereka berdua berhalangan hadir karena ada acara lain.

Tepat sebelum acara dimulai, tiga sosok familiar masuk ke ruangan. Mereka adalah Deedee (Diningtyas Aulia, TI ’13), Sarah (Maisarah Firdaus, TI ’13) dan Zeli (Zeliana Yuanisa, TI ’13) yang juga sedang KP di salah satu perusahaan migas di Balikpapan.  Ternyata mereka baru pulang dari bermain di Pantai Melawai yang terletak berseberangan dengan UPIK, terlihat jejak pasir dari sepatunya. Kebetulan mentor mereka di bagian HSE menyarankan untuk mencoba menu padang di UPIK yang terkenal kenikmatannya itu. Berbekal rekomendasi tersebut akhirnya mereka memutuskan untuk berbuka puasa di sana.

Awalnya waktu masuk ruangan AC yang dipesan mereka bertiga terlihat celingukan bingung. Saya kira mereka datang karena diundang oleh Angga jadi langsung Kami sambut dengan meriah. Ekspresi bingung mereka semakin menjadi jadi karena ternyata mereka tidak tahu menahu mengenai acara buka puasa bersama ini. Tidak ada undangan maupun pemberitahuan yang diterima oleh mereka. Pun demikian mereka tetap penasaran masuk ke ruangan AC di UPIK.
 “Kok kalian berani masuk?”, tanya Malik
“Soalnya kami liat logo MTI, Kak.” Jawab mereka bertiga kompak.
Ternyata dekorasinya memiliki manfaat lain selain sebagai backgorund foto ya. 

Berhubung Deedee, Sarah dan Zeli merupakan angkatan termuda (dan statusnya masih anggota aktif) kami banyak mendengarkan cerita seru mengenai perkuliahan, dosen-dosen, himpunan, gedung labtek III yang baru dan banyak hal lain perihal kemahasiswaan. Alumni yang sudah senior dapat merasa terkenang kembali kepada masa-masa kuliah dulu. Saya pribadi jadi kangen dan rencananya ketika pulang ke Bandung pas lebaran nanti ingin menyempatkan diri datang ke kampus. 


Alumni MTI + 3 orang anggota aktif MTI di Balikpapan


Benar-benar kejutan karena ternyata tahun ini ada total 5 orang anak MTI yang KP di kota minyak ini. Selain ajang silaturahmi dan lepas kangen momen bukber MTI kali ini bisa juga jadi sarana jalin komunikasi dan koneksi dengan alumni. Terima kasih kepada kakak-kakak dan adik-adik yang telah hadir di acara Bukber MTI cabang Balikpapan tahun ini. Ditunggu di acara MTI dan IA selanjutnya!


Avanti MTI!

Minggu, 19 Juni 2016

Dahor Heritage, Museum Pertama di Balikpapan



Impian warga Balikpapan untuk memiliki tempat memamerkan koleksi sejarah dan benda-benda antik agaknya terjawab setelah museum pertama di Balikpapan diresmikan pada awal bulan Juni ini. Museum yang berlokasi di daerah Dahor ini dinamakan Dahor Heritage. Daerah Dahor berada di antara pasar Pandan Sari dan Hotel Blue Sky Balikpapan. Sebagian warga lokal menyebut daerah ini sebagai rumah Belanda. Alasannya mungkin karena ada beberapa rumah peninggalan Belanda yang berjejer sepanjang daerah ini. Memang belum ada palang ataupun tanda yang menandakan lokasi museum ini, tapi lokasi yang dijadikan museum dapat dilihat dari rumah panggung yang paling ramai dikunjungi.


 Logo Museum Dahor yang Baru


Museum Dahor sedang menggelar pameran foto kota Balikpapan di masa lalu. Hari Sabtu, 18 Juni 2016 sewaktu Kami berkunjung, kebetulan merupakan hari terakhir pameran tersebut. Sekitar pukul 13 WITA, Saya, Mas Taufiq (Al-Taufiq Arifin) dan Mas Malik (Abdullah L. Malik) menambatkan  motor di halaman parkir museum tersebut.

Museum yang baru buka itu terlihat masih sepi, hanya 4 buah motor yang terparkir. Belum ada palang atau penanda khusus yang menunjukkan lokasi museum. Papan yang menunjukkan dimana loket, jam operasional museum atau display informasi koleksi nampaknya masih absen. Kami memutuskan untuk naik dan masuk ke bangunan rumah panggung tersebut. Hingga saat ini, biaya administrasi untuk masuk museum masih gratis.


 Tampak Depan Museum yang Sederhana


Begitu masuk, kami berada di ruangan tamu dengan kursi dan meja berukiran khas Kalimantan, tidak ada siapa yang menyambut kami ketika itu. Dengan inisiatif kami mengisi buktu tamu yang terbuka di atas meja. Atraksi utama pada museum saat itu adalah pameran foto sejarah Balikpapan yang dipamerkan pada partisi-partisi di ruangan museum. Kami bertemu dengan Abah dari KCB (Komunitas Cinta Balikpapan) and Mbak Ocha (Rosalina) dari komunitas Balikpapan Tempo Doeloe yang banyak memberikan informasi mengenai museum dan sejarah Balikpapan yang menarik.

Museum ini digagas oleh 22 komunitas di kota Balikpapan. Latar belakangnya adalah karena kota ini belum memiliki museum sendiri. Dahulu, tempat wisata yang dikunjungi di Balikpapan biasanya hanya hutan atau pantai, belum ada media pembelajaran sejarah atau tempat yang memajang hasil kerajinan dan kesenian. Melihat peluang ada terdapat rumah-rumah di kompleks pertamina yang kosong, beberapa perwakilan komunitas berdiskusi dengan pihak pertamina untuk meminta persetujuan pemanfaatan fasilitas tersebut. Gayung bersambut, ada sembilan buah rumah peninggalan belanda, yang juga merupakan cagar budaya, yang diperbolehkan untuk ditransformasi menjadi museum. Saat ini baru satu rumah yang dijadikan museum. Koleksinya pun masih terbatas, hanya foto sejarah kota. Rencananya di museum lain akan dipajang koleksi benda seni, budaya, barang-barang antik, kegiatan pengolahan minyak dan dokumentasi aktivitas di Balikpapan. Katanya sudah banyak kurator yang berminat menyumbangkan atau menitipkan koleksinya sebagai benda pajangan.
 
Rumah panggung tersebut berupa rumah satu lantai dengan empat kamar di dalamnya. Dinding tebal, langi-langit tinggi serta jendela yang besar, arsitektur khas Belanda, terlihat mendominasi bangunan tersebut. Rangkaian listrik di sana masih dijaga sesuai aslinya, kabel-kabel tidak ditanam di dinding. Kayu yang menjadi rangka utama rumah tersebut adalah kayu ulin Belanda (demikian orang sini menyebutnya) yang tebal dan kokoh.  Balok kayu yang menjadi pondasi rumah panggung terbuat dari kayu yang berukuran 20 x 20 cm, terlihat kuat menopang. Sebagai komparasi, struktur kayu penyangga  yang biasa digunakan sekarang biasanya hanya berukuran 8 x 8 cm. Awalnya rumah ini didirikan oleh perusahaan minyak Belanda sebagai tempat tinggal orang Belanda yang mengelola Bataafsche Petroleum Maatchappij (BPM).  Pemilihan material yang baik mungkin adalah salah satu alasan mengapa bangunan masih berdiri kokoh hingga saat ini.


 Aksitektur Khas Belanda di Interior Museum


Bau cat masih tercium samar-samar. Ketika akan dibuka untuk umum sebagai museum, bagunan ini terlebih dahulu dipugar. Dinding, pagar dan atap dicat hijau. Lantai dan pilar kayu dipelitur. Parit untuk aliran air di sekeliling rumah digali kembali agar sistem pembuangan lancar. Terdapat juga bangunan satelit di sebelah utara rumah yang rencananya akan difungsikan sebagai ruangan sekretariat dan kepengurus museum. Pada bangunan satelit tersebut juga akan dibuat pusat informasi dan toilet untuk pengunjung.

Koleksi foto yang ditampilkan mulai dari ketika industri minyak dikembangkan di Balikpapan hingga perebutan penguasaan kota sumber minyak yang strategis ini di perang Asia-Pasifik.


 Kilang Minyak yang Bersebelahan dengan Pelabuhan Semayang

  
Foto-foto tersebut tertata tapi di partisi-partisi yang ada di setiap ruangan. Pemasangan partisi pameran dimaksudkan untuk mencegah kerusakan dinding dengan tidak memasang paku atau menembel gambar pada temboknya. Setiap foto memiliki sumbernya. Beberapa foto diperoleh dari pemerintah Australia dan Belanda. Hanya Jepang yang tidak berkenan membagikan dokumentasinya tentang Balikpapan.

Beberapa koleksi yang menarik antara lain gambar kilang minyak yang pertama kali di Balikpapan. Kilang tersebut terlihat sederhana jika dibandingkan unit pengolahan Pertamina sekarang. Dahulu masih ada trem yang beroperasi. Fungsi utamanya adalah sarana transportasi bagi pekerja-pekerja BPN. Lintasannya membentang dari pelabuhan hingga daerah Klandasan.


Gambaran Kilang Minyak BPM di Masa Awal Penambangannya


Sumur minyak pertama di Balikpapan dikelola oleh sebuah kongsi dagang bernama De Bataafsche Petroleum Masatshappij , atau sering disebut BPM. Potensi minyak yang besar ditemukan oleh Jacobus Hubertus Manten (1833 - 1920). Pembangunan BPM didanai oleh investor Sir Marcus Samuel (1853 - 1927). Izin konsesi penambangan dan pengolahan minyak di Kota Balikpapan yang masih masuk wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara diberikan oleh sang raja langsung, Sultan Aji Muhammad Sulaiman (1838 - 1899).


 
Kanan ke Kiri: Jacobus H.M, Sir Marcus S., Sultan A.M.S
Anekdotnya: Yang Menemukan, Yang Membiayai, Yang Menjual

Ada juga peta yang menggambarkan kekuatan serdadu negeri matahari terbit di Balikpapan. Sebelum melakukan invasi untuk merebut Balikpapan dari kuasa Jepang, sekutu terlebih dahulu memetakan basis tentara Jepang di kota ini, mulai dari posisi meriam, camp tentara, gudang persenjataan, parkir kendaraan tempur, dsb. Sekutu meminta bantuan kepada pribumi yang tinggal di Samboja untuk menjadi mata-mata dan melaporkan hasilnya kepada sekutu. Peta tersebut yang menjadi acuan saat sekutu akan menggempur Jepang di tahun 1945. 

 
Titik Merah pada Peta Menggambarkan Kekuatan Militer Jepang 
 

Terlebih dahulu konsentrasi perang Jepang di Balikpapan dilumpuhkan dengan bombardir oleh armada udara Australia. Lebih dari 5 ton bahan peledak dijatuhkan ke Balikpapan oleh resimen 307 Australia selama 2 minggu, pemboman terlama selama perang Asia Pasifik. Pesawat-pesawat tempur sekutu terlihat tak ada habisnya berseliweran di langit Balikpapan. Namun ketika itu tidak ada korban jiwa dari orang pribumi. Melalui mata-mata tersebut warga pribumi di Balikpapan dihimbau untuk mengungsi ke seberang (Penajam) atau ke arah kilo. Serangan besar-besaran ini yang menjawab mengapa Balikpapan tidak memiliki banyak bangunan tua.
 

 
Pendaratan Serdadu Sekutu Setelah Membombardir Balikpapan 


Salah satu jagoan tempur milik Jepang saat itu berupa meriam jarak jauh dengan panjang 9 m dan diameter 55 cm. Meriam tersebut terletak di atas bukit di daerah Markoni (dekat Café Puncak dan Vihara). Berada di tempat yang tinggi dan tidak terhalang bangunan apapun, meriam dapat menggempur kapal perang dan armada laut yang mendekati garis pantai Balikpapan. Meriam milik Kaigun (angkatan laut Jepang) itu diproduksi tahun 1935 di Yokohama dan diterbangkan ke Balikpapan pada bulan Maret 1942. Meriam dengan berat puluhan ton tersebut diangkat oleh romusha-romusha ke atas bukit Markoni.

 
  Kilang Minyak yang Terbakar Saat Sekutu Menggempur Jepang pada Tahun 1945


Cerita lain yang menarik adalah gua-gua yang dibangun pada masa pendudukan Jepang. Fungsi awal terowongan ini adalah untuk pengungsian dan tempat bertahan hidup sementara. Terowongan-terowongan itu ada saling menyambung. Beberapa diantaranya berada di kawasan kompleks Pertamina Gn. Dubbs dan Jalan Minyak (dekat tempat unit pengolahan Pertamina).  Tipikal goa Jepang, lorong dibuat berliku-liku menyerupai labirin agar tentara Jepang yang bersembunyi tidak mudah ditemukan. Penggalian terowongan dilakukan oleh romusha-romusha yang merupakan warga pribumi. Banyak yang gugur ditengah-tengah konstruksi gua.

Abah mengisahkan pernah memasuki  salah satu gua Jepang di Gunung Sepuluh. Struktur gua jepang biasanya adalah gunung atau bukit yang diceruk dan digali parit, kemudian ditopang dengan plat logam atau tiang di sisi kanan-kiri serta atap untuk menguatkan. Setiap sekitar 10 meter terdapat pipa yang tembus ke atas tanah, fungsinya adalah sebagai ventilasi  udara. Ketika memasuki gua, kita kan memasuki lorong sempit yang berujung pada lobby yang ukurannya lebih besar. Di setiap lobby biasanya ada drum berisi air. Kemudian lobby tersebut bercabang menjadi tiga buah lorong. Jika kita meneruskan perjalanan lewat sebuah lorong maka akan berujung pada ruangan seperti lobby juga. Di beberapa titik tinggi terowongan terbatas sehingga orang yang melewatinya harus merangkak. Karena hari menjelang maghrib jadi penjelajahan Abah di sana tidak menyeluruh. 


 Gambaran Teluk Balikpapan dan Kilang Minyak Setelah Dibangun Kembali


Menurut penuturan Mbak Ocha, sekitar tahun 1960-an pernah ada dua orang Jepang yang keluar dari salah satu Gua. Penampilan mereka sudah acak-acakan dan tidak terawat. Semua orang bingung bagaimana mereka dapat bertahan hidup selama lebih dari 15 tahun sejak tentara Jepang yang lainnya hengkang dari kota ini. Ada tiga hipotesis yang populer: (1) mereka memakan rekan-rekannya, awalanya banyak yang bersembunyi di gua dan hanya tersisa dua orang , (2) mereka bertahan hidup dengan memakan ular dan hewan lainnya yang berhabitat di dalam gua, atau (3) mereka keluar untuk mencari makan di malam hari. Ketika malam, keadaan sepi sehingga mungkin mereka tidak tahu bahwa keadaan sudah aman atau belum. Sayangnya mayoritas mulut gua telah ditutup permanen. Alasannya selain karena bahaya hewan buas (seperti ular misalnya), seringkali gua digunakan sebagai tempat pacaran atau uji nyali. 


 Tugu Australia, untuk Memperingati 270 Tentara Australia yang Tewas Ketika Perebutan kota Balikpapan Tahun 1945


Di lobby museum, kami juga berjumpa dengan Mbak Tari, Mbak Yusna dan Mbak Noni yang juga terlibat dalam inisiasi museum Dahor. Kami mendapatkan informasi lebih banyak lagi mengenai kota Balikpapan dan aktivitas komunitasnya. Saya terperanggah dengan cerita mengapa mental warga Balikpapan sudah terdidik untuk berperilaku hidup bersih. Bahkan ada anekdot jika ada yang buang sampah sembarang adalah stereotipe bukan orang Balikpapan. Suatu ketika ada mobil yang sedang melaju dan membuang sampai begitu Saya ke jalan raya, pengendara motor ada yang mengejarnya dan tak segan untuk memperingatkannya. Ini sudah bukan tahap mengendalikan diri sendiri, tapi sudah pada posisi mengajak orang lain ke arah perubahan yang lebih baik.


 
Dua Buku Mengenai Sejarah Balikpapan dari Kelas Balikpapan Mengajar

 
Ada dua cerita menarik yang Saya dapatkan dari Mbak Yusna. Pertama adalah fakta bahwa Petugas Kebersihan resmi dari Dinas Kebersihan dan Pertamannan kota Balikpapan rutin mendapatkan suntikan (saya kurang tau apa yang diinjeksikan) untuk menjaga daya tahan tubuh dan imunitas mereka. Para pekerja yang sehari-hari berinteraksi dengan sampah dan sumber penyakit sudah sepantasnya mendapatkan proteksi lebih agar dapat tetap sehat. Perihal kesejahteraan mereka ternyata sangat diperhatikan. Selanjutnya adalah cerita dari kegiatan Kelas Inspirasi ke-2 di Balikpapan. Ketika ditanya mengenai cita-cita ada salah satu murid yang mengatakan dengan semagat bahwa ia ingin berprofesi sebagai tukang sampah. Dari sisi materi mungkin tidak seberapa. Namun dari sisi manfaat, profesi petugas kebersihan dipandang sebagai figur orang yang berjasa bagi anak-anak hingga ada yang ingin menjadi sosok tersebut, mirip seperti profesi pemadam kebakaran. 


 
 Diskusi Sejarah di Lobby Museum
Gambar dari dokumentasi Al-Taufiq Arifin
  
Modifikasi rumah Dahor 1 ini menjadi perintis museum yang ada di Balikpapan. Saya pribadi yakin bahwa pengembangan museum lainnya akan didukung oleh antusiasme warga dan museum ini dapat menjadi destinasi wisata unggulan kota Balikpapan.


Dukungan Warga Balikpapan untuk Mengembangkan Museum

Selasa, 14 Juni 2016

Menyaksikan Pawai Pakaian Nusantara di Depan Kostan



Hari Sabtu tanggal 29 April 2016 lalu, sewaktu Saya mau berangkat keluar dari kostan yang kebetulan berseberangan dengan TK Santa Miriam Balikpapan, tengah ada acara di sekolah tersebut. Walaupun bukan bertepatan dengan tanggal 21 April, sedang ada perayaan hari Kartini yang cukup meriah. Terlihat anak-anak berbaris menggunakan pakaian adat tradisional, orang tua yang mengabadikan momen anak, guru-guru yang mengarahkan siswa-siswinya. Jalanan depan TK juga diramaikan dengan mobil-mobil yang parkir di kanan-kiri jalan dan para pedagang yang memeriahkan momen hari Kartini tersebut.


 
TK Santa Miriam Balikpapan


Acara tersebut terlihat menyenangkan. Melihat anak kecil yang lucu dan menggemaskan tampil di atas panggung dengan menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini. Setiap kelas bergantian menyanyikan lagu nasional tersebut dengan dipimpin oleh seorang dirijen yang juga anak-anak. 


 
 "Ayo anak-anak kita menyanyi dulu", seru sang guru.


Momen lucu terjadi ketika giliran sebuah kelas dan semua anak sudah pada posisinya di atas panggung namun dirijennya belum datang. Terdengar dari pengeras suara sang guru memanggil-manggil nama anak yang berperan jadi dirijen dan orang tuanya. Tak berapa lama yang ditunggu datang. Kemudian ia bersama ibunya turun dari mobil dan berjalan terpogoh-pogoh. Sang anak terlihat cantik menggunakan pakaian adat Bali dan tak ketinggalan sanggul keemasan yang bahkan lebih tinggi dari kepala sang anak. Hoo, mungkin pemasangan sanggul itu yang membuat sang dirijen datangnya mepet.

Satu hal yang menarik perhatian Saya adalah menyaksikan beragamnya kostum yang dikenakan anak-anak di TK yang terletak di belakang RS Pertamina Balikpapan itu. Kalo dulu di sekolah Saya ketika perayaan hari Kartini, anak-anak memang menggunakan pakaian tradisional. Namun, biasanya tidak jauh-jauh dari pakaian adat Sunda dan Jawa. Paling banter mungkin dari Bali. Di TK atau SD lain pun gak jauh berbeda. Nah, kalo di Santa Miriam, pakaian adatnya benar-benar beragam. Ada yang pakai kain ulos khas Sumatra Utara, topi segitiga dari Minang dan Melayu, hiasan khas kepada Lampung, kebaya Sunda, pakaian adat Betawi, baju adat Jawa, pakaian tradisional Bali, Bugis, Toraja, Minahasa sampai pakaian dari Papua. Beberapa pakaian adat yang belum dapat Saya identikasi. Ada juga anak-anak yang pakai baju tentara, outfit pejuang kemerdekaan seperti di film Darah Garuda dan baju merah Shaolin.

Saya pribadi terpukau bagai melihat parade kostum nusantara dalam satu tempat. Panduan warna-warni tersebut membuat kita berdecak kagum dan tentunya jadi objek menarik untuk di-posting di Instagram. Pakaian tradisional tersebut bisa jadi milik sendiri, pinjam di penyewaan baju adat atau mungkin pinjam ke kerabat.


 
Beragam Warna Pakaian Tradisional


Beragamnya pakaian tersebut sedikit banyak mencerminkan juga beragamnya suku bangsa yang tinggal di Balikpapan. Ya, kota ini adalah kota para perantau. Hampir tidak ada suku asli kota ini. Kebanyakan adalah pendatang yang berasal dari luar daerah atau luar pulau. Pun demikian, warga Balikpapan dapat hidup berdampingan dengan aman dan nyaman. Hampir tidak ada konflik yang terjadi di kota pesisir ini. Salah satu contoh penerapan slogan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu) di kehidupan sehari-hari. #weloveBalikpapan