Langsung ke konten utama

Pengalaman Pertama Bermain Padel

Olahraga padel merupakan suatu hal yang baru bagi saya. Ketika pulang ke Bandung awal tahun 2026, saya mendengar banyak yang membicarakan mengenai permainan ini. Saat sedang jalan-jalan di dalam kota, terdapat banyak tempat padel baru. Termasuk salah satunya ada di dekat rumah. Lapang tenis indoor alih fungsi jadi tempat bermain padel. Lahan kosong pun berubah, bukan menjadi gerai Mixue, tetapi jadi lapang padel.

Ketika tinggal di Sydney saya tidak pernah menemukan olahraga ini. Memang banyak olahraga yang tidak pernah saya temui sebelumnya seperti squash, cricket, hand ball, dan lawn golf. Namun pembicaraan tentang padel. Jadi ketika pertama kali mendengarnya saya kira ini merupakan olahraga baru, mirip seperti makanan-makanan viral yang sempat booming seperti es kepal milo atau kopi dalgona.

Ternyata setelah mencari tahu sedikit, olaharga ini berasal dari Meksiko dan dikembangkan tahun 1969. Sudah cukup lama memang, tetapi baru populer di Indonesia tahun 2024. Awalnya dari Jakarta. Tren ini lama-lama menyebar dari ibukota ke kota-kota lain, termasuk ke Bandung.

Jujur, ada rasa penasaran ingin mencobanya. Hanya saya belum menemukan teman-teman yang bisa diajak untuk bermain bersama. Untungnya ketika libur akhir tahun ada ajakan dari sepupu-sepupu saya untuk bermain. Akhirnya kami memesan lapangan padel di dekat rumah untuk bermain hari Jumat sore. Di sana juga disediakan penyewaan raketnya.

Raka dan Teh Ai sudah mahir bermain padel. Mereka sering bermain di Jakarta, bahkan sudah punya raket dan set bola sendiri. Peran instruktur dan pelatih dijalankan oleh mereka. Raka dan Teh Ai secara bergantian memberikan contoh bagaimana postur berdiri, cara memegang raket, memukul, dan mengambil bola. Mereka juga menerangkan bagaimana sistem pergantian pemukul, bagaimana mendapatkan poin, dan aturan-aturan di lapangan lainnya.

Permainannya dan aturannya mirip seperti tenis. Cara memukulnya pun serupa. Namun, karena lapang padel lebih kecil, area untuk bergeraknya tidak seluas lapang tenis. Jadi tidak terlalu mengeluarkan energi untuk berlari-lari. Malahan karena kami pemula lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengambil bola dibandingkan memukulnya.

Bermain Padel
Main Padel Bersama Keluarga

Kami bergantian bermain dalam menggunakan lapang yang telah dipesan dua jam. Tidak ada pengunjung lain yang menyewa lapangan. Serasa punya sendiri. Setelah selesai saya merasa tidak terlalu lelah. Mungkin tidak seperti tenis yang banyak berlarian untuk mengejar dan menggapai bola.

Benar saja kalau olahraga padel banyak yang bilang lebih ke aktivitas sosial. Unsur kardionya memang ada, tetapi lebih banyak mengobrol dan bersosialisasinya. Bisa dibilang ini seperti golf yang lebih digandrungi oleh Gen Z dan Millenials. Apalagi dipengaruhi oleh artis, tokoh publik, dan influencer yang semakin mengangkat Namanya. Tak aneh kalau padel jadi populer dan lapangannya semakin menjamur.

Seru juga pengalaman pertama bermain padel. Apakah mau mencoba lagi? Saya rasa tidak masalah jika ada ajakan dari teman atau kolega untuk main di lapang padel. Namun jika untuk bermain rutin atau mengejar karir profesional, sepertinya tidak dulu. Saya lebih memulih latihan lari atau berenang sekaligus bisa memperkuat pernafasan 

Komentar