Jumat, 15 Juli 2016

Teater Pinggir Sungai di Taman Teras Cikapundung



Ketika masa pemerintahan walikota Kang Emil (Ridwan Kamil), banyak taman baru yang dibangun di Bandung. Taman-taman tersebut entah memugar taman yang lama atau mendesain taman yang benar-benar baru. Salah satu taman baru yang menjadi perbincangan hangat warga Bandung adalah Taman Teras Cikapundung yang memiliki panggilan gaul taman TeCi. Di libur lebaran lalu Saya bersama Kakak Dimas (Dimas Primadia Setiaboedi) kebetulan berkesempatan mengunjungi taman di bantaran sungai Cikapundung tersebut.


 Panorama View Taman BBWS Citarum


Taman Teras Cikapundung yang berlokasi di pinggir Sungai Ciliwung dekat hutan Babakan Siliwangi  ini merupakan hasil karya kerjasama dari Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat, Dinas Pekerjaan Umum, ITB dan Masyarakat Komunitas sekitar Cikapundung.  Semenjak dibuka, taman ini langsung menjadi viral dan banyak dikunjungi warga Bandung dan sekitarnya. 


 Photobooth tulisan BBWS Citarum di Seberang Sungai


Sungai Cikapundung  merupakan anak sungai Citarum dengan panjang 28 km. Awal aliran sungai ini ada di Curug Ciomas Lembang. Area yang dilewati sungai ini antara lain Braga, Viaduct, Alun-Alun Bandung dan daerah Dayeuh Kolot. 


 Peta Aliran Sungai Cikapundung


Parkiran untuk motor berada di area taman TeCinya langsung, namun untuk kendaraan roda 4 harus diparkirkan di Sabuga (masuk lewat Jl. Tamansari, dekat Gerbang Utara Kampus ITB) dan pengunjung dapat berjalan kaki keluar melalui gerbang Saraga yang berada di jalan Babakan Siliwangi.

Dari atas Jl. Siliwangi, keseluruhan taman dan keramaiannya sudah terlihat. Membuat kita tidak sabar untuk segera turun. Untuk memasuki naman ini pengunjung dikenakan biaya Rp 2.000 sebagai dana retribusi kebersihan dan mendapatkan sticker. Konsep taman kota yang penuh dekorasi dan beragam wahana permainan membuat kita seperti memasuki theme park.


 Aerial View of TeCi Theme Park 1
 Aerial View of TeCi Theme Park 2


Dari speaker dekat ruangan kontrol listrik dan ruang pengurus, terdengar suara alunan musik tatar Sunda. Setiap sekitar 10 menit terdengar suara pengurus yang mengatakan selamat datang dan himbauan untuk menjaga kebersihan taman TeCi dan Sungai Cikapundung. Kampanye kebersihan juga gencar dilontarkan lewat papan-papan bertulisan yang ada di sekitaran taman. Salah satunya ada yang berbunyi “Orang Keren tidak Buang Sampah di Sungai”.


 Salah Satu Sisi Taman yang Dihiasi Tanaman dengan Warna Khas bandung: Hijau, Kuning, Biru

Taman Teras Cikapundung memiliki tiga zona wisata. Zona pertama adalah air mancur menari yang mengikuti lantunan lagu.  Kedua adalah amphiteater yang berfungsi untuk penampilan. Zona yang terakhir adalah kolam air mancur kura-kura yang menjadi tempat konservasi ikan khas Sungai Cikapundung, selain itu sungainya juga bisa dipakai tempat untuk rafting yang dikelola oleh komunitas.
 
Di zona pertama, air mancur menari dinyalakan setiap pukul 4 sore, 7 malam dan penutupan 8 malam.  Penampilan air mancur lebih bagus pada malam hari karena semburan air dipadukan dengan kerlip lampu yang ada pada pancuran.  Kebetulan ketika kami berkunjung ada Kang Emil juga yang sedang datang ke taman TeCi. Jadi air mancur diputar di luar jam normalnya. Lagu-lagu yang dimainkan adalah lagu-lagu instrumental yang cukup familiar, misalkan lagu Santorini dari Yani, Samb Adagio karangan Safri Duo dan Winter Games gubahan Santorini.


 Pak Walkot yang Sedang Sidak

Air Mancur Menari


Konsep amphiater di pinggir sungai Cikapundung mirip theatre by the bay di Kanada. Warga Bandung yang ingin menyelenggarakan konser musik atau penampilan budaya dapat menggunakan panggung pinggir sungai ini untuk menampilkan tema yang berbeda. Amphiater didesain memiliki latar belakang aliran sungai Cikapundung. Menurut Saya pribadi penampilan yang cocok dipentaskan di panggung ini adalah penampilan sendatari atau drama. Kalau penampilan musik yang menggunakan banyak instrumen agaknya kurang elok untuk dimainkan di pinggir sungai secara terbuka. 


 Amphiteater, Dipadati Pengunjung di Hari Libur


Bangku penonton berkapasitas 500 orang duduk didesain berundak-undak. Pada bangku penonton, terdapat banyak stop kontak/colokan listrik. Tampaknya sang desainer sadar adanya lelucon mengenai sekarang kebutuhan primer manusia ada 4: pangan, sandang, papan dan colokan. Selain panggung pertunjukan juga ada kurang lebih 7 buah lubang galian kecil yang difungsikan sebagai sumur resapan.


 Colokan Listrik, kebutuhan primer no.4


Area ketiga dapat dijangkau dengan menyebrangi Sungai Cikapundung melalui jembawan berwarna merah. Kolam kura-kura sebenarnya tidak berisi kura-kura, namun memiliki 7 buah air mancur berbentuk hewan tersebut. Menurut mitologi Tiongkok, hewan ini diasosiasikan dengan usia yang panjang. Namun tampaknya tak ada hubungannya dengan desain kolam ini.  Ikan-ikan di kolan kura-kura ini setiap 3 bulan sekali rencananya akan dikembalikan ke habitatnya di Sungai Cikapundung untuk berkembang biak. Di area ini juga terdapat mushola, pendopo kayu dan orang-orang berkostum. Ketika kami mengunjungi taman tersebut, area mushola dan pendopo dipenuhi orang yang duduk-duduk, botram dan berjualan makanan.


  Jembatan Merah

Kolam Tujuh Kura-Kura Bersaudara

 Pendopo Tempat Duduk-Duduk

Sebagai penghias ada juga beberapa orang yang berkostum tokoh-tokoh film kartun favorit seperti Bumble Bee dan Elsa. Anak-anak tampak antusias meminta foto dan orang tua terlihat agak enggan mengeluarkan uang kecil sebagai sumbangan seikhlasnya. Pada sisi barat kolam kura-kura ada dua buah kolam pancing kecil untuk anak-anak, lebih tepat dibilang bak sih. Di bak yang satu anak dapat berburu menjaring ikan-ikan kecil yang lincah dan di bak sebelahnya anak-anak dapat memancing ikan plastik yang statis. 


 Siapa yang mau 'build a snowman' ?

"Diobok-Obok Airnya Diobok-Obok, Banyak Ikannya Kecil-Kecil pada Mabok"
 Bak Ikan Plastik


Komunitas rafting sungai Cikapundung berinisiatif untuk membuatkan wisata rafting sungai dengan perahu karet. Pengunjung dapat merasakan mengaruhi sebagian sungai tersebut dengan membayar Rp 10.000 saja. Ketika akan naik, disarankan melepas alas kaki karena bagian atas perahu agak becek. Ketika naik, pertama kita akan mengikuti arus sungai sekitar 20 m, kemudian sebelum jembatan Jl. Siliwangi, kita akan putar balik. Dua orang pendayung yang berada di belakang perahu akan mengayuh dengan sekuat tenaga melawan aliran air. Jarak yang ditempuh selanjutnya sebelum kembali ke tempat awal kira-kira 50 m.


 Berakit-Rakit Ke Tepian Cikapundung


Pengalaman menyusuri sungai dekat pusat kota ini cukup menyenangkan. Sayangnya tidak disediakan pelampung atau life vest untuk penumpang. Untungnya tinggi sungai ketika itu cukup dangkal, hanya selutut anak-anak. Jadi ketika mengayuh, seringkali dayung malah terkantuk dasar sungai. Airnya cukup jernih dan jarang terlihat sampah plastik yang mengapung. Untuk merasakan pengalaman ini kita harus mengantri karena sampan yang disediakan hanya kurang dari 5 buah, tidak sebanding dengan jumlah pengunjung yang antusias di masa liburan.

 
Mengantri untuk Mencoba Rafting di Pusat Kota


Pada taman TeCi juga dapat dijumpai bergaram karya seni yang berhubungan dengan hewan. Selain patung kura-kura ada juga patung ikan berwarna merah yang ditempelkan di dinding amphiteater.  Tampaknya ikan tersebut adalah ikan lele karena memiliki kumis. Di dekat air mancur menari, ada dekorasi kupu-kupu yang menghiasi kalimat kutipan mengenai Sungai Cikapundung. Tak jauh dari sana ada desain patung burung berwarna putih karya FSRD ITB yang diberi judul Cangkurileung. Nama Cangkurileung diambil dari nama burung yang dahulu pernah berhabitat di sekitaran sungai Cikapundung. 




Karya Seni yang Memanjakan Mata di Taman TeCi

Perombakan area sungai Cikapundung di Babakan Siliwangi membawa dampak positif. Tempat yang dulunya dijadikan tempat buangan sampah telah disulap menjadi taman yang asyik untuk wisata dengan keluarga. Aliran air sungai yang dulunya hitam dan berbau sudah lebih bersih. Warga sekitaran sungai juga dapat secara tidak langsung kecipratan rezekinya. Ada yang berjualan makanan dan minuman, membantu memarkirkan dan menawarkan jasa mengayuh perahu karet. Warga kota Bandung akan memiliki alternatif wisata yang dapat dinikmati bersama orang tercinta. Dan tentunya citra kota Bandung akan lebih baik dengan tertatanya area bantaran sungai Cikapundung tersebut.

Tantangan selanjutnya adalah menjaga agar taman ini tetap baik lagi. Untuk membagus fasilitas publik tidak begitu sulit. Letak kesulitan terbesar dalah menjanga dari kerusakan fasilitas, vandalisme, pengotoran dengan sampah hingga penggunaan tempat untuk hal yang tidak semestinya. Yuk mari kita dukung Pemerintah Kota Bandung untuk menjaga taman ini tetap baik dan mendukung agar pengembangannya ke arah yang positif. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar