Selasa, 28 Agustus 2018

7 Ciri Unik Tari Saman yang Perlu Diketahui

Pernahkah kamu melihat pertunjukan tarian tradisional khas Aceh yang ditarikan oleh sekelompok wanita yang duduk berbaris dan menyebutnya sebagai Tari Saman? Atau apakah ketika SMP/SMA dulu kamu pernah ikut ekstrakulikuler Tari Saman? Ternyata tari tersebut bukanlah Tari Saman yang sebenarnya. Masih banyak orang yang salah presepsi mengenai tari saman. Padahal tarian ini merupakan salah satu Intangible Culture Heritage of Humanity (warisan budaya umat manusia yang tidak berwujud) yang telah ditetapkan oleh UNESCO pada tanggal 24 November 2011.

Saman Aceh Gayo
Tari Saman pada GBA (Gelar Budaya Aceh) 2015

Tari Saman adalah tarian tradisional khas Suku Gayo Lues dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam buku Tari Saman yang disusun oleh Ridhwan Abd Salam, banyak versi asal usul Tari Saman dan nama Saman, mulai dari gerakan yang diciptakan 7 anak raja, hingga tarian yang diciptakan oleh Syeikh Saman yang menyebarkan agama islam di Gayo Lues. Saya merekomendasikan buku ini bagi yang ingin mengetahui lebih dalam soal Tari Saman. Di dalamnya juga dibahas mengenai saman yang dipertandingkan (saman jalu), filosofi Tari Saman, hingga syair Tari saman dalam Bahasa Gayo dan artinya.

Ada beberapa ciri utama tari saman:
1.       Wajib Ditarikan oleh Laki-Laki
Di Suku Gayo, hanya kaum adam yang boleh menarikan Tari Saman. Gerakan-gerakan pada tarian ini melibatkan memukul dada dengan cepat dan keras, sehingga secara fitrah dan kodrat perempuan tidak mungkin memukul dada dengan keras untuk mengeluarkan suara yang nyaring. Tarian ini juga tidak boleh ditampilkan duduk berselang-seling antara pria dan wanita. Jadi tarian tradisional Aceh yang sama-sama berbaris namun ditarikan oleh wanita itu bukanlah Tari Saman, bisa jadi tarian tersebut adalah Ratoh Duek, Ratoh Jaroe atau Rateb Meuseukat.

2.       Jumlah Penari Harus Ganjil
Syarat sah lainnya adalah jumlah penari harus ganjil, misalnya 11 orang. Bisa juga ditambah menjadi 13, 15, 17, 19 dan seterusnya disesuaikan dengan kondisi tempat dan keperluan.

3.       Menggunakan Bahasa Daerah Gayo
Syair-syair penuh makna dalam tarian ini dibawakan dalam bahasa Gayo. Bahasa Gayo berbeda dengan bahasa Aceh, bahkan orang Aceh sendiri banyak yang tidak memahami bahasa ini. Syair pengiring yang dibawakan bernuansa islami dan sarat akan pesan dakwah. Isi dari nyanyian biasanya diawali dengan salam serta penghambaan kepada Allah SWT dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW, dilanjutkan dengan penghayatan nilai-nilai agama dan pesan-pesan untuk kemajuan

Contoh syair Tari Saman adalah sebagai berikut:
Iye kubalik berbalik gelap urum terang
Uren urum sidang
Si munamat punce ha e he Allah hu
Mat jari mule kite, ku ko ara dosaku
Mat jari kite miyem apus ntuhen nge dosate

Silih berganti gelap dengan terang
Hujan dan reda
Yang mengendalikannya adalah Allah
Mari kita bersalaman, untuk saling memaafkan
Bersalaman hangat, agar Tuhan hapus dosa

4.       Gerakan Ditarikan tanpa Jeda
Pada beberapa tarian khas Aceh, seringkali setiap selesai satu lagu atau gerakan penari akan diam sejenak selama beberapa detik. Pada Tari Saman, dari awal penari tidak akan berhenti. Akan ada beberapa kali gerakan kosong (gerakan saja tanpa ada syair), namun tidak ada jeda antara gerakan kosong dan gerakan yang ada syairnya. Menurut Saya transisi antar gerakannya terlihat mulus dan tidak kaku.

5.       Para Penari Memakai Pakaian Adat Gayo
Untuk dapat menarikan Tari Saman, pakaian wajibnya adalah pakaian tradisional khas Suku Gayo. Kostum yang digunakan menutup aurat. Satu set pakaian ini terdiri dari: baju kantong (baju berbordir dengan motif yang bernama kerawang), suel naru (celana panjang motif kerawang), pawak (sejenis kain sarung sebatas lutut yang berbordir), dan aksesoris lain seperti ikat tangan dan topi berbentuk melingkar. Bagain pernak-pernik pada dada membuat gerakan memukul dada dengan tangan terdengar nyaring dan tebal.

6.       Pemimpin Tari Berada dalam Satu Barisan
Berbeda dengan tarian tradisional khas Aceh lain seperti Ratoh Duek, Rateb Meuseukat, Tarek Pukat, Rapa’i Geleng dan Likok Pulo yang biasanya syeikh yang memimpin lagu berada di luar barisan, pada Tari Saman, sang pemimpin syair, biasa disebut pengangkat, berada di tengah barisan sambil duduk.

7.       Tidak Menggunakan Alat Musik
Tari Saman tidak menggunakan alat musik sama sekali. Bunyi-bunyi yang muncul hanya berasal dari suara mulut, jentikan jari, tepuk tangan dan tepukan tangan ke anggota tubuh lainnya. Hal ini berbeda dengan tarian tradisional Aceh lain yang menggunakan Rapa’i (sejenis rebana) dan Serune Kalee (alat musik tiup mirip seruling). Oleh karena itu, tidak diperlukan alat rekaman untuk menarikan tarian ini.

Itulah 7 ciri khusus yang membedakan Tari Saman dengan tarian lainnya. Setelah membaca artikel ini, sekarang kita jadi dapat membedakan Tari Saman dengan Tari lainnya. Kawan-kawan juga tidak perlu sungkan untuk membagian artikel ini agar lebih banyak orang teredukasi dan tidak salah paham mengenai Tari Saman

Agar dapat lebih kenal dengan Tari Saman, yuk cek video tarian ini yang ditampilkan pada acara Gelar Budaya Aceh, sebuah pagelaran tahunan UKA (Unit Kebudayaan Aceh) ITB yang diadakan di Bandung. Video yang dimaksud dapat dilihat pada tautan berikut.

tari saman gayo aceh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar