Jumat, 24 Agustus 2018

Khanduri Aceh 2013: Tari Saman Gayo Pertama Kali Ditampilkan di Kampus ITB

Salah satu keputusan yang paling memengaruhi hidup Saya ketika kuliah adalah bergabung dengan Unit Kebudayan Aceh (UKA) ITB. Bergaul dengan kawan-kawan yang berasal dari provinsi Naggroe Aceh Darussalam ini tidak hanya membuat Saya mengenal budaya dan adat Aceh, namun juga menemukan keluarga baru di Sunken Court.

Saya baru mendaftar di UKA ITB pada OHU (Open House Unit) tahun 2013, ketika sudah berada di tingkat 3. Hal yang paling memengaruhi keputusan Saya untuk bergabung adalah acara Khanduri 2013. Acara ini merupakan pameran budaya dan penampilan tarian-tarian tradisional asal Aceh yang diselenggarakan di Lapang Basket ITB pada hari Jum’at, 15 Maret 2013. Dalam Bahasa Aceh sendiri kata ‘Khanduri’ berarti perayaan, jamuan untuk memeringati suatu peristiwa, atau selamatan.

Logo Khanduri Aceh 2013, mengadaptasi bentuk Rencong, senjata tradisional khas Aceh

Sebelum datang ke acara, Saya tertarik dengan poster publikasi Khanduri yang mengatakan bahwa ada alah pementasan tari Saman asli Gayo pertama di kampus. Bukankah tarian tradisional yang dimainkan sambil duduk asal Aceh dan sering ditarikan di acara-acara itu tari Saman? Lalu tari Saman seperti apa yang akan dipentaskan nanti?

Untuk menjawab rasa penasaran, Saya hadir di Lapbas dari setelah maghrib. Ada stand kuliner juga di sana. Mie Acehnya enak, dan gratis. Semakin lama Lapbas dipadati warga kampus yang antusias untuk menantikan Khanduri Aceh. Para penonton duduk beralaskan terpal di lapbas.

Acara di buka setelah isya. Dan ternyata salah satu MCnya itu adalah kakak kelas di jurusan MRI (Manajemen Rekayasa Industri), tak lain adalah Teh Sabeu (Shabrina Salsabila). Sebelum para penari tambil, UKA ITB membawakan lagu-lagu Aceh dan beberapa video tentang kuliner, landmark dan budaya khas Aceh. Tarian yang dibawakan antara lain adalah tarian pembuka Ranup Lampuan, Beudoh, dan Ratoh Duek yang ditarikan oleh penari wanita serta tari Saman, Likok Pulo dan Beudoh yang ditampilkan oleh penari pria.

Pada acara tersebut Saya baru tahu bahwa tari Saman yang sebenarnya berbeda dengan tari “saman” yang sebelumnya saya kira. Beberapa ciri khas tari saman antara lain tarian ini harus ditarikan oleh pria, dengan jumlah penari ganjil, menggunakan pakaian tradisional khas Gayo, syair yang dinyanyikan menggunakan bahasa Gayo. Hal lain yang membedakan dengan tarian lainnya adalah pemimpin tari (belakangan Saya tahu namanya penangkat) berada dalam satu barisan yang sama, gerakannya cepat dan banyak menghentak dada dan paha, serta bunyi-bunyi yang muncul hanya berasal dari suara mulut, tepukan tangan dan tepukan kepada anggota tubuh. Walaupun Saya tidak mengerti liriknya, Saya dapat menikmati tarian yang dibawakan dan menangkap apa pesan yang ingin disampaikan oleh tarian tersebut.

Penari tarian Saman di Khanduri Aceh adalah anak-anak TPB angkatan 2012. Saya salut karena mereka dapat membawakan tarian dengan kompak dan seirama. Di balik kesegaraman Gaya di panggung, pasti ada latihan intens yang dijalani para penarinya.

Tidak hanya tari Saman, tari Likok Pulo dan Rapa’i Geleng juga amat memukau. Ketika menonton tari Likok Pulo Saya merasakan suasana senang dan riang. Ternyata tarian tersebut pertama kali diciptakan untuk merayakan panen. Pantas suasananya seperti itu. Puncak acara menyajikan tarian Rapa’i Geleng. Tarian ini adalah tarian untuk membakar semangat perang yang dibawakan dengan rapa’i (alat musik tradisional Aceh yang berbentuk seperti rebana) sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sorak sorai penonton begitu riuh ketika melihat gerakan saling lempar-melempar rapa’i. Saya tertegun kagum melihatnya. Itu keren banget! Dalam hari Saya berkeinginan untuk “sebelum lulus Saya harus dapat menguasai tarian Saman dan Rapa’i Geleng”. Setidaknya ketika lulus Saya dapat menarikan salah satu tarian tradisional Indonesia. Keinginan tersebutlah yang akhirnya mendorong Saya untuk tetap mengikuti rangkaian ospek UKA bersama para TPB 2013 walau sudah tingkat 3.

Acara Khanduri Aceh ini tidak hanya mengedukasi warga kampus dan masyarakat umum terhadap budaya Aceh, tapi juga dapat membuat seseorang yang tidak memiliki darah Aceh dan tidak memiliki relasi sama sekali terhadap Serambi Mekah tertarik untuk belajar budaya tanah Rencong. Terima kasih UKA ITB!



Rekaman video Tari Saman di Khanduri Aceh 2013 dapat diakses di link berikut
http://bit.ly/SamanKhanduri2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar