Jumat, 31 Agustus 2018

Merasakan Suasana Sidang S3 (Doktor) di ITB

Hari Kamis, 30 Agustus 2018 Saya berkesempatan menyaksikan sidang terbuka S3 Bu Ria (Made Andriani). Beliau adalah dosen Teknik Industri ITB di Kelompok Keahlian Manajemen Industri yang sedang menembuh pendidikan doktoral di program studi TMI (Teknik dan Manajemen Industri) ITB.

Disertasi yang beliau pertahankan ketika sidang berjudul “Strategi Manajemen Pengetahuan Berdasarkan Tahap Pertumbuhan Organisasi pada Industri Fashion dengan Pendekatan Studi Kasus Historis”. Sebelum sidang terbuka ini, beliau telah melalui beberapa tahap sidang tertutup untuk mematangkan penelitian yang beliau lakukan.

Saya pribadi penasaran bagaimana proses sidang S3 di TMI. Sebelumnya Saya pernah menghadiri sidang doktor Pak Samun Haris. Beliau adalah sahabat ayah Saya yang menamatkan studi S3nya di jurusan Teknik Sipil Universitas Parahyangan. Suasana yang Saya rasakan ketika sidang terbuka di sana adalah mirip seperti undangan: seluruh tamu undangan yang hadir menggunakan batik dan kebaya serta ada jamuan makan siang.

Bertempat di ruang seminar lantai 3 di Gedung Annex (gedung rektorat ITB Jl. Tamansari), sidang diagendakan pada pukul 13.00 – 15.00. Di ruangan sudah ada backdrop untuk sidang terbuka S3 dilengkapi dengan slot untuk mengganti nama dan tanggal sidang. Layout ruangan dibuat seperti sidang ilmiah pada umumnya: kandidat diberi tempat di bagian tengah dekat layar, di barisan paling depan terdapat jajaran meja untuk promotor, dan di bagian belakang jajaran kursi untuk tamu undangan. Tamu undangan kebanyakan merupakan keluarga, kolega kerja, rekan sejawat, mahasiswa S3 TMI dan mahasiswa bimbingan beliau.

 Sebagian Tamu Undangan Sidang Doktor Bu Ria

Pada pukul 13, promotor dan penguji memasuki ruangan sidang, didampingi oleh ketua sidang dan pengawas dari SPS (Sekolah Pascasarjana). Promotor/pembimbing penelitian S3 Bu Ria adalah Pak Kadarsah Suryadi dengan ko-promotor Alm. Pak Ari Samadhi, dan Pak Joko Siswanto. Akademisi yang menjadi penguji adalah Pak Iman Sudirman, Pak Budhi Prihartono dan Bu Rajesri Govindaraju dari pogram studi Teknik Industri ITB dan Pak Benny Ranti dari UI. Sidang terbuka ini juga dihadiri oleh istri almarhum Pak ‘Cok’ Ari Samadhi dan kedua putri beliau.

Sidang dibuka oleh ketua sidang. Sebelumnya beliau menghimbau para peserta sidang untuk men-silent alat komunikasinya, namun kami masih boleh memfoto sidang dari tempat masing-masing dan tanpa mengganggu keberjalan sidang. Wow, serius sekali ya! Pertama-tama Pak Kadarsah sebagai promotor diminta membacakan sambutan dan pertanggung jawaban ilmiah atas penelitian yang dilakukan dan disertasi kandidat doktor. Kemudian ketua sidang mempersilakan promovendus masuk ke ruangan sidang. Saya pertama kali mendengar kata promovendus, yang ternyata berarti kandidat yang mempertahankan hasil penelitian dan disertasinya pada sidang promosi doktor.

Sebelum dimulai presentasi, sang ketua sidang menanyakan kepada kandidat apakah beliau cukup sehat untuk memberikan pemaparan saat sidang ini, dan Bu Ria menyatakan bahwa beliau sehat. Bu Ria mempresentasikan hasil penelitian selama kurang lebih 20 menit. Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan dari promotor dan ko-promotor. Masing-masing penguji menanyakan satu atau beberapa hal (seperti Pak Benny Ranti yang bertanya poin nomor 1a, 1b dan 2) dan langsung dijawab oleh promovendus. Namun tidak ada tanggapan lebih lanjut dari penanya. Setelah Saya tanyakan, katanya karena perdebatan sudah dilakukan dengan intens ketika sidang tertutup dan sidang terbuka sifatnya hanya diseminasi hasil penelitian. Karena sidang ini merupakan forum ilmiah yang serius, bahkan tertawa atau bertepuk tanganpun tidak ada hadirin yang melakukannya.

Sesi pertama sidang selesai ketika seluruh pembimbing dan penguji sudah mengajukan pertanyaan dan dijawab oleh kandidat. Sesi selanjutnya adalah break selama 30 menit untuk promotor dan ko-promotor melakukan penilaian terhadap sidang. Saya pikir kok lama sekali ya? Padahal kalau sidang S1 atau S2 biasanya dalam 5 menit nilai seminar dan Tugas Akhir sudah keluar. Sesi istirahat ini dimanfaatkan untuk berfoto-foto dan memberikan selamat karena promovendus telah menyelesaikan pemaparan sidangnya. 

Setelah sidang diskors selama 30 menit, para promotor kembali ke ruangan. Dan hasil yang tunggu-tunggu tiba, ketua sidang membacakan hasil penilaian yang menyatakan Bu Ria lulus dengan predikat cum laude. Pak Kadarsah kemudian memberikan sambutan dan kuliah terakhirnya kepada promovendus doktor Made Andriani. Salah satu poin yang beliau sampaikan adalah “masyarakat tidak bertanya mengenai latar belakang kamu dan pendidikan Anda, namun mereka akan menanyakan apa yang dapat Anda berikan kepada lingkungan.”

Selamat Atas Kelulusannya Dr. Made Andriani, S.T., M.T.!


Hal yang Saya rasakan dalam pengalaman mengikuti sidang adalah hasil penelitian yang telah dilakukan secara komprehensif merupakan seuatu yang serius sehingga pensuasanaan sidang untuk diseminasi hasil penelitian pun serius. Dan setelah dibacakan hasilnya, suasana haru dan bahagia mewarnai ruangan. Apalagi keluarga, rekan sejawat, dan teman-teman dekat yang selama ini mendukung penelitian dan penyusunan disertasi hadir untuk memberikan apresiasi. Semua pengorbanan yang dikeluarkan oleh sang kandidat doktor terbayar sudah setelah sidang terbuka selesai. Dan yang pasti, penelitian dan pengabdian masyarakat tidak berhenti sampai titik mendapatkan gelar doktor saja. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar