Sabtu, 08 September 2018

Belajar Tarian Rapa'i Geleng dari Aceh

Tari Rapa'i Geleng merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari provinsi Naggroe Aceh Darusaalam. Dari asal katanya, tarian ini terdiri dari kata Rapa’i dan Geleng. Rapa’i adalah alat musik perkusi yang berbentuk seperti rebana, dengan sepasang kepingan logam untuk membuat bunyi gemerincing. Jadi rapa’i geleng adalah tarian dengan menggunakan alat musik rapa’i yang ditarikan sambal menggeleng-gelengkan kepala dan melakukan gerakan lainnya.

Tarian Rapa'i Geleng pada Gelar Budaya Aceh 2015

Tarian yang biasa dibawakan oleh penari pria ini ditarikan sambal berbaris. Tarian dipimpin oleh seorang syeikh yang berada di luar barisan. Penari yang ada di dalam barisan menari sambil menabuh rapa’i, bernyanyi dan bergerak membentuk formasi.  Syair lagu yang dibawakan mengandung unsur keagaaman, kebudayaan dan nilai-nilai di dalam masyarakat. Dengan syair seperti itu, tarian ini juga digunakan sebagai media dakwah dan memberikan nasihat moral kepada masyarakat.

Tari Rapa’i Geleng dibagi menjadi 3 babak, antara lain yaitu:
  1. Saleuem (salam)
  2. Kisah (baik kisah nabi & rasul, zaman kerajaan, dan ajaran agama)
  3. Lani (penutup)
Di bagian salam, biasanya syairnya berisi ucapan salam, shalawat dan puji-pujian kepada Allah. Bagian tengah memuat pesan moral yang disampaikan langsung ataupun melalui cerita-cerita dan bagian penutup merupakan bagian akhir untuk menyelesaikan rangkaian tarian ini.
Salah satu syair tarian ini yang bernilai dakwah berbunyi seperti ini:
Meunyo ka hana raseuki
Nyang bak bibi rhot u lua
Bek susah sare bek seudeh hate
Tapike la'en tamita
Yang artinya kurang lebih adalah sebagai berikut:
Kalau sudah tak ada rezeki
Yang sudah di bibir pun jatuh ke luar
Janganlah susah, jangalah bersedih hati
Mari kita pikirkan yang lain untuk di cari

"Janganlah susah, jangalah bersedih hati. Mari kita pikirkan yang lain untuk di cari"

Pengalaman Belajar Tari Rapa’i Geleng
Saya mempelajari tarian ini ketika bergabung dengan UKA ITB (Unit Kebudayaan Aceh ITB). Ketika itu kami mempersiapkan untuk penampilan di acara Gelar Budaya Aceh tahun 2015. Ketika pertama berlatih, para penari dibiasakan dulu untuk bermain rapa’i. Ada 3 bunyi yang dapat dihasilkan ketika memukul rapa’i:
(1)   bunyi ‘pak’ ketika memukul bagian kulit rapa’i dengan seluruh permukaan tangan,
(2)   bunyi ‘dung’ yang timbul saat memukul setengah bagian pinggaran kayu dan setengah bagian kulit rapa’i bersamaan, dan
(3)   bunyi ‘crik’ yang dihasilkan pukulan kecil pada bagian keeping logam.
Dua pekan pertama berlatih dihabiskan untuk menguasai perbedaan cara menghasilkan bunyi tersebut. 

Ketika berlatih gerakan dengan nyanyian bersamaan, sebenarnya tidak begitu sulit. Malahan yang menjadi tantangan adalah ketika melakukan ‘gerakan kosong’—gerakan menari tanpa ada syair. Agak sulit untuk menghitung pukulan tanpa menggunakan syair lagu bagi saya pribadi. Tarian ini juga sangat dinamis karena melibatkan perubahan posisi berkali kali. Ketika berpindah posisi kita harus benar-benar fokus karena konsentrasi kita terbagi 3: bernanyi, menabuh rapa’i dan memastikan bergerak ke posisi yang sesuai.

Selain menabuh rapa’i, ada juga gerakan mengoper dan saling melempar rapa’i. Ini merupakan gerakan yang paling seru dan biasanya mendapat antusiasme tinggi dari para penonton. Ketika awal melihat gerakan tersebut saya pikir akan sulit. Ternyata setelah dipelajari gerakannya cukup mudah. Kuncinya adalah yakin ketika melempar, jangan ragu-ragu. Pengalaman saya ketika latihan, apabila ada yang ragu-ragu akibatnya malah rapa’inya mengenai kepala teman dalam satu barisan.

Gerakan Melempar Rapa'i dalam Formasi

Syair yang paling saya suka dari rangkaian gerakan Rapa’i Geleng yang ditarikan di UKA ITB adalah lirik ini:
Piasan raya peuleumah adat
Tapulang tungkat bak aneuk muda
Oh mate aneuk ka meupat jeurat
Oh gadoh adat han pat tamita
Artinya:
Pameran besar pertunjukkan adat
Mengoper tongkat (kebudayaan) kepada anak muda
Mati anak ada kuburannya
Hilang adat mau dicari ke mana?

Dua kalimat terakhir merupakan kalimat yang diucapkan Sultan Iskandar Muda ketika memancung kepala anaknya sendiri karena melanggar hukum adat yang berlaku di Aceh pada masa itu. Maknanya kurang lebih adalah kalau anak mati masih dapat dicari kuburannya, sedangkan apabila adat hilang dari masyarakat mau dicari kemana? Syair ini menurut saya cocok menjadi syair penutup tarian ini karena mengandung pesan untuk terus menjaga adat istiadat agar tidak hilang digerus perubahan zaman.

Ketika proses belajar tarian ini juga saya belajar banyak hal. Gerakan yang harus segaram antar penari memberikan pelajaran untuk mengalah apabila ada anggota tim yang gerakannya terlalu cepat atau harus mengejar keterlambatan apabila ada yang lebih lambat. Kehadiran seluruh tim dibutuhkan seluruhnya ketika latihan, karena ada satu orang yang tidak ikut saja formasi tidak dapat dijalankan. Kami jadi lebih peduli untuk menanyakan kabar teman yang lain dan ada kesadaran sendiri untuk memberikan konfirmasi kehadiran di grup. Saya juga belajar menerapkan konsep manajemen waktu untuk membagi fokus dan waktu antara kuliah, kegiatan organisasi, dan berlatih tari.
  
Gerakan Penari Kompak dalam Satu Barisan


Budaya Indonesia memang unik. Mempelajari kebudayaan Indonesia tidak hanya memperluas wawasan kita, namun juga mengembangkan diri kita ke arah yang lebih baik. Yuk, pelajari dan cintai budaya Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar