Kamis, 06 September 2018

Pengalaman Mengambil Tes GRE (Graduate Record Examination)

GRE (Graduate Record Examination) adalah tes kemampuan verbal dan kuantitatif dalam Bahasa Inggris. Biasanya merupakan syarat pendaftaran master dan doctoral degree di luar negeri, terutama US. Biaya tes GRE (per September 2018) adalah USD 205. Di Indonesia tes GRE hanya dapat diambil di Jakarta. Lokasi tesnya adalah di IIEF (Indonesia International Education Foundation) yang beralamat di Lantai 28 Menara Imperium, Rasuna Said, Jakarta Selatan. Jadwal tes tersedia hampir setiap hari. Ada dua pilihan waktu yang bisa kita pilih: jam 08.30 dan jam 12.30 WIB. Peserta tes diwajibkan datang 30 menit sebelum tes dimulai.

Sebelum Memulai Tes

Saya mendaftar untuk tes hari Kamis, 6 September 2018. Pendaftaran dan pembayaran dilakukan online di website ETS. H-1, saya mendapatkan panggilan dari IIEF untuk mengingatkan membawa kartu identitas, bisa berupa KTP, SIM atau Passport, yang memuat foto, nama lengkap, tanggal lahir dan tanda tangan. Walaupun di website ETS ada ketentuan untuk membawa print out konfirmasi tes, namun untuk tes kali ini tidak wajib karena sudah terdaftar di sistem. Bahkan kita tidak perlu menyiapkan alat tulis karena akan disediakan di sana.

Setelah tiba di lokasi tes, saya diminta untuk mengisi form konfirmasi dan menuliskan pilihan kepada universitas mana hasil tes akan dikirim. Untuk tes GRE, kita dapat memilih sampai dengan 4 pilihan institusi untuk dikirimkan hasil tes secara online. Hal yang perlu dilakukan adalah menuliskan 4 digit institution code dan department code yang dituju. Kode ini bisa dilihat sebelumnya di bagian admission pada website universitas  yang dituju. Sebagai contoh, kode institusi John Hopkins University 5332 dan kode departemen Engineering Management 1699. Apabila kita baru memilih di luar waktu tes atau menambahkan jumlah institusi yang akan dikirim, akan dikenakan biaya sebesar USD 27 per institusi.

Peserta tes siang ini ada 2 orang, dan sudah hadir semua. Saya tiba di Menara Imperium pukul 11 lebih.  Kami diberi pilihan untuk mulai lebih cepat, dan kami mengambil pilihan itu. Saya belum sempat bertanya banyak mengenai peserta lain tersebut. Dan kami pun masuk ke dalam ruangan pemeriksaan sebelum masuk ke ruangan tes.

Pemeriksanaan oleh administrator sangat ketat, melebihi security check di bandara dan ketika tes IELTS. Pertama kita diberikan sebuah kunci loker untuk menyimpan barang bawaan. Tidak ada hal lain yang diperbolehkan dibawa selain pakaian dan identitas. Aksesoris seperti jam tangan, gelang, anting, kalung, dan cincin harus dilepaskan. Setiap kantong baju dan celana dicek isinya untuk memastikan tidak ada barang apapun yang kita bawa ke ruangan tes. Gesper ikat pinggang, kacamata dan jaket diperbolehkan di bawa asal dicek terlebih dahulu. Terakhir, administrator akan men-scan tubuh kita dengan menggunakan metal detector.

Kantor IIEF di Jakarta

Setelah pemeriksaan, kita akan diambil data biometrik dan pengecekkan identitas. Pengalaman saya ketika itu hanya difoto saja, tidak scan sidik jari, walau saya melihat alatnya ada di sana. Kita juga akan ditanya nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, alamat, dan nomor telepon. Pemeriksaan selesai, kita diminta untuk mengisi waktu masuk ruangan tes pada lembar kembali.

Pelaksanaan Tes

Satu ruangan tes terdiri dari 8 meja yang masing-masing dapat diisi oleh seorang peserta. Bentuk meja tes adalah satu work station yang dibatasi kanan-kiri sehingga setiap peserta tidak dapat saling melihat. Pihak penyelenggara tes juga menyediakan ear muff (peredam suara untuk digunakan di telinga) apabila kondisi ruangan dirasa cukup bising. Kita juga akan diberikan selembar kertas buram untuk corat-coret dan sepasang pensil 2B. Apabila ada kendala atau mau meminta kertas lagi, kita cukup melambaikan tangan. Ada kamera yang senantiasa merekam pergerakan kita selama tes berlangsung.

Tes GRE sendiri terdiri dari 6 bagian, dengan skema sebagai berikut. 

  • Bagian pertama adalah esai (analyzing issue & argument task) selama 60 menit
  • Bagian kedua hingga keenam terdiri dari minimal 2 bagian Verbal Reasoning (VR) & Quantitative Analysis (QR) serta 1 bagian percobaan yang tidak dinilai. Bagian percobaan ini bisa berupa Verbal Reasoning atau Quantitative Analysis tapi kita tidak tahu bagian mana yang menjadi bagian percobaan.
Pengalaman saya ketika mengambil tes, bagian 2 adalah QA, bagian 3 VR, bagian 4 QA, bagian 5 VR dan terakhir bagian 6 VR. Ada break 60 detik setiap akhir sesi dan ada optional break yang selama 10 menit setelah bagian ke-3. Saran saya manfaatkan waktu ini untuk minum, ke toilet dan mengistirahatkan mata dari menatap layar monitor terus-menerus.

Total durasi tes adalah 4 jam 30 menit. Lebih lama dibandingkan tes IELTS dan TOEFL. Jangan khawatir mengenai waktu karena di layar ada timer. Informasi yang tidak ada hanya jam berapa saat ini. Di waktu 5 menit terakhir sebelum waktu berakhir, timer akan berkedip-kedip. Hal ini yang membuat Saya agak panik di detik-detik terakhir.

Pengalaman saya ketika mengerjakan soal, saya agak kesulitan mengerjakan soal di layar. Biasanya ketika latihan saya mengerjakannya di kertas. Ketika latihan lebik enak karena bisa langsung menghitung di persamaan, menambahkan keterangan pada gambar atau grafik serta menjumlahkan angka pada tabel pada bagian kuantitatif. Dengan mengerjakan latihan soal di print out ketika membaca teks juga bisa menggaris bawahi untuk menandai poin penting, mencoret opsi yang dirasa kurang tepat hingga mencari keyword di setiap paragraf. Ketika mengerjakan di komputer waktu yang saya gunakan lebih lama karena tidak dapat melakukan hal-hal yang biasa dilakukan ketika latihan soal di atas kertas. Ketika tes, ada fitur untuk menandai soal, melihat soal mana saja yang belum dikerjakan dan fitur kalkulator sederhana yang dapat membantu terutama ketika bagian kuantitatif.

Hasil Tes

Hasil VR dan QR langsung keluar setelah tes selesai. Hasil penilaian esai baru akan keluar 10 s/d 15 hari setelah tes. Hasli tes saya adalah VR: 148 dan QA: 159. Bentuk hasil tes adalah tampilan online, tidak seperti tes IELTS atau TOEFL PBT yang ada sertifikat fisiknya. Mengeceknya tinggal log in ke akun ETS di website-nya. Masa berlaku hasil tes GRE adalah 5 tahun. Apabila ingin mengambil ulang, ketentuannya adalah minimal 21 hari setelah mengambil tes terakhir. Dalam 1 tahun batas maksimal pengambilan tes ulang adalah 5 kali. 

Demikian pengalaman saya mengambil tes GRE. Saya harap tulisan ini dapat membantu calon peserta tes GRE mendapatkan gambaran mengenai tes ini agar dapat mempersiapkannya dengan baik. 

3 komentar:

  1. Terima kasih infonya sangat menarik mas. Sebelumnya apakah ada pengalaman les persiapan GRE atau cukup belajar mandiri saja?

    BalasHapus
  2. Terima kasih informasinya, cukup bermanfaat untuk saya

    BalasHapus
  3. Untuk analytical writing nya dapat skor berapa? Berarti keseluruhan tes akan dapat dikirim ke univ tujuan H+15 ujian ya?

    BalasHapus