Rabu, 05 September 2018

Sharing Tips Beasiswa LPDP Bersama Dirut LPDP & Ikatan Alumni TI ITB

Ikatan Alumni Teknik Industri (IA TI) ITB mengadakan acara sharing session yang bertemakan beasiswa LPDP dengan mengundang eks-Direktur Utama LPDP dan awardee yang merupakan alumni Teknik Industri ITB. Diskusi ini diselenggarakan pada hari Selasa, 4 September 2019, bertempat di Kantor Sekretariat IA ITB, JL. Hang Lekiu II No. 40, Jakarta Selatan.



Tiga orang yang jadi pembicara adalah:
·         Mokhamad Mahdum – mantan Direktur LPDP
·         Leonardo H. Gavada (TI 2004) – penerima beasiswa LPDP taun 2017 – MBA class of 2018 at NYU (New York University) Stern
·         Farah Annisa (TI 2006) – Penerima beasiswa LPDP tahun 2005 – Master of Public Policy Class of 2015 at UCLA (Unversity of California, Los Angeles)

Acara dibuka sekitar pukul 19.00 WIB dengan sambutan oleh Pak Made Dana (Ketua IA TI ITB pada tahun berjalan). Selanjutnya materi pertama dari Pak Mahdum. Awalnya beliau diminta untuk memberikan materi mengenai profil beasiswa LPDP. Namun akhirnya beliau memutuskan untuk menyampaikan materi mengenai menyiapkan postgraduate roadmap, dengan alasan materi ini lebih cocok untuk mentargetkan alumni jurusan ini.

Di awal beliau banyak menggunakan cerita pribadi beliau sebagai contoh. Beliau adalah lulusan STAN. Cerita bagaiman beliau bisa melanjutkan pendidikan S2 dan S3 inspiratif dan patut dicontoh. Beliau sudah membuat roadmap rencana hidup yang jelas sebelum menembuh studi lanjut. Beliau juga menekankan pentingnya memiliki wawasan global dan kearifan lokal.  

Beberapa poin lain yang saya ingat mengenai presentasi beliau adalah bahwa perihal SDM dan penelitian Indonesia masih kalah jauh dibandingkan negara-negara lainnya, seperti nilai IPM (Indeks Pembangunan Manusia) yang tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga. Alokasi dana penelitian dan pengembangan pendidikan di Indonesia masih minim. Padahal dana riset berbanding linear dengan kemajuan bangsa. Sebagai langkah awal kita bisa mengaplikasikannya dengan menyisihkan 30% penghasilan untuk dialokasikan untuk deepen knowledge. Beliau juga menyajikan fakta berdasarkan penelitian dari Harvard Business Review, orang-orang yang memiliki target hidup yang jelas, tertulis, dan detil setelah 10 tahun memperoleh income sebesar 30x dari responden yang tidak memiliki tujuan hidup yang jelas dan tidak tertulis.

Kunci sukses dari Pak Mahdum:
-          Tanamkan cinta Indonesia
-          Definisikan visi, misi dan roadmap diri dengan jelas
-          Integritas
-          Tanamkan jiwa scholars, kritis
-          Soft skills
-          Kontribusi
-          Time management, jangan bangga kalau cuma aktif tetapi tidak produktif.

T: Tetapkan profil diri dan target sukses
E: Eksplorasi tokoh-tokoh sukses setipe profil diri
M: mentoring & coaching (apabila memungkinkan), atau meniru dan memodifikasi
A: Akhlakul karimah dan amal jariyah
N: Networking (friends & god)


3 Poin Penting dalam Esai dari Mas Leo
Menurut Mas Leo, ada 3 poin utama yang apabila ada dapat esai aplikasi LPDP kita akan membuat kita sebagai kandidat yang berpotensi tinggi untuk menjadi penerima beasiswa.
1.       Mindset
Orang Indonesia yang berbudaya timur biasanya terlalu humble hingga rendah diri. Ketika aplikasi beasiswa dan universitas biasakan untuk “menjual diri”. Mulailah dengan terbisa mengeksplorasi poin-poin positif pada diri dan fokus pada kekuatan diri sendiri. Masukkan juga konten mengenai visi, misi, dan arahan hidup dalam esai. Untuk itu kita harus belajar menyampaikan kelebihan tanpa bersikap arogan.

2.       Story Telling
Buat esai berbentuk cerita. Cerita yang kita sajikan harus ada big picture-nya, ditunjukkan dengan pengalaman kita pribadi. Contohnya, ketika menyebutkan cita-cita jangka panjang sebutkan apa saja yang sudah kita lakukan untuk mencapaikan. Koneksikan dengan value, visi, dan pengalaman sebelumnya. Story yang disajikan harus nyambung, bukan berupa daftar prestasi dan pencapian (list of accomplishment).

3.       Material
Dibagi menjadi 2 bagian, yang pertama adah past experience dan yang kedua merupakan future plan. Terkait past experience, perlu juga disebutkan academic experience, contribution to society, serta professional journey, accomplishment, leadership & problem solving experience. Bagian future plan berfokus kepada study plan yang men-cover kenapa memilih jurusan tersebut (bisa dari kampus, course, atau lecturer) serta mengapa dengan kita bersekolah akan penting untuk masyarakat.

Personalisasi Esai Vital Menurut Mbak Farah
Esai aplikasi yang dibuat harus personalized, tidak boleh general. Untuk membuat esai yang personalized kita harus terlebih dahulu kenal diri sendiri (know who you really are). Kalau CV mencerminkan pengalaman yang pernah kita lakukan, Mbak Farah menyarankan untuk membuat future CV yang akan menjawab pertanyaan dengan bersekolah lagi mau jadi apa kita.

Dari latar belakang sebagai engineer, Mbak Farah “murtad” dengan mengambil bidang public policy di Social Science. Namun dia dapat menghubungkan benang merahnya dengan menceritakan latar belakang luarga, kegiatannya ketika kuliah, passion, hingga pekerjaannya sekarang.

Ada dua esai yang harus disiapkan: kontribusi bagi masyarakat atau success story, dan study plan. Success story yang kita buat bukan sebgai ajang pameran saja, namun ceritakan bagaimana prestasi tersebut membuat kita lebih baik dan apa kontribusinya bagi lingkungan Ketika membuat study plan buatlah spesifik dan sedetil mungkin hingga menyebutkan mengenai mata kuliah apa saja yang akan diambil per semester dan dimana tempat internship.

Sesi tanya jawab berlangsung sangat interaktif. Ada yang menyakan apakah MBA termasuk bidang prioritas LPDP, bagaimana tips diterima LPDP dengan memilih MBA, apa keunggulan beasiswa LPDP dibandingkan beasiswa lainnya, bagaimana parameter “cinta Indonesia” dari standar LPDP, hingga cerita perkuliahan di Amerika. Hal yang Saya suka adalah kedua pembicara menjawab berdasarkan pengalaman mereka sendiri, dan tidak segan mengakui apabila mereka tidak tahu, misalnya ketika ada yang mengajukan mengenai tes online setelah seleksi administrasi.

Mas Leo dan Mbak Farah menambahkan bahka ketika membuat esai ada beberapa don’ts yang perlu dihindari. Pertama adalah jangan inkonsisten; esai yang kita buat harus koheren dari awal hingga akhir. Contoh analogi yang diberikan Mbak Farah adalah apabila di awal kita bilang kita suka makanan pedas, apabila di tengah kita menyebutkan kita tidak suka cabai hal tersebut adalah tidak konsisten. Selanjutnya adalah no perfect story, esai kita dapat memuat segudang prestasi yang luar biasa, kontribusi yang besar bagi masyarakat hingga kemampuan akademik yang mumpuni, namun sebagai manusia kita tetap memiliki kekurangan. Dan terakhir adalah hindari jargon. Maksudnya adalah jangan menggunakan kalimat-kalimat klise seperti ‘saya adalah orang yang gigih’ saja. Gunakan cerita dan pengalaman untuk mem-back up pernyataan kita.

Contoh cerita yang diangkat oleh Mas Leo dalam esai adalah dia memliki passion di bidang keuangan, ketika kuliah ia mendirikan lab FAC (Financial Assistant Community)—laboratorium yang gedungnya terbakar tahun 2012—dan setelah lulus pun ia berkarir di bidang keuangan. Dia melihat pengembangan bidang finance di Indonesia masih kurang. Hal itulah yang membuatnya ingin memperdalam ilmunya di MBA.

Sesi formal selesai jam 22.00 dan diskusi santai masih di lanjutkan setelah itu. Mbak Farah dan Mas Leo banyak bercerita mengenai kehidupan kampus, kegiatan di luar kuliah dan pengalaman mereka beradaptasi di luar. Mbak Farah mengatakan bahwa selama kuliah ia jarang bergaul dengan orang Indonesia, dengan alasan untuk membuka cakrawala dan pergaulan. Apabila hanya  berinteraksi dengan orang Indonesia saja kita akan berada di zona nyaman terus dan akan lebih sulit untuk berkembang.

Dari sesi sharing ini Saya pribadi mendapatkan banyak insight mengenai LPDP. Saya juga senang bertemu kembali dengan kawan-kawan TI & MRI mulai dari angkatan 2009, 2010, kawan seperjuangan 2011, 2012, 2013 dan beberapa angkatan atas. Teruskan program positif dari Ikatan Alumni TI untuk angkatan muda lainnya.  Terima kasih atas sharing-nya Pak Mahdum, Mas Leo dan Mbak Farah. Avanti MTI!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar