Selasa, 18 Desember 2018

3 Jurus Ampuh Menghadapi Focus Group Discussion (FGD)



Di perusahaan-perusahaan yang membuka program Management Trainee (MT) /Management Development Program (MDP) atau program akselerasi karir profesional lainnya, terdapat sesi Focus Group Discussion (FGD) sebagai salah satu tahapan seleksi. Pada sesi ini, sekelompok peserta seleksi yang terdiri dari 6 s/d 12 orang dikumpulkan, dan diminta untuk mendiskusikan suatu topik permasalahan yang spesifik. Durasinya bervariasi antara 20 menit hingga satu jam. Pengalaman saya mengikuti seleksi FGD, kasus yang dibahas beragam, mulai dari penentuan strategi bisnis perusahaan, rekomendasi untuk memecahkan masalah yang dihadapi perusahaan, hingga perihal kebijakan meningkatkan vaksinasi dan donor darah berbayar.

FGD sendiri bertujuan untuk menilai beberapa kemampuan dasar dari para kandidat karyawan. Beberapa hal yang diamati oleh pengawas FGD dalam mengamati peserta seperti inisiatif, etika diskusi, kerja sama tim, kemampuan mensintesis ide, kemampuan mengarahkan alur diskusi dan kepekaan terhadap anggota kelompok. Berdasarkan pengalaman saya di bagian Human Resouce (HR) Untuk beberapa soft skill, akan lebih mudah terlihat dari interaksi langsung dengan orang lain, dibandingkan hanya melalui wawancara. Karena dalam perusahaan karyawan biasanya akan bekerja dalam tim dengan intensitas yang tinggi, maka seleksi FGD diperlukan salah satunya untuk mengetahui kemampuan kandidat untuk bekerja di dalam tim.

Berdasarkan survei singkat yang saya lakukan terhadap peserta tes, hampir 80% kandidat menjadwab ketakutan terbesar mereka ketika menghadapi tes jenis FGD adalah takut tidak menguasai topiknya, sehingga ketika diskusi khawatir tidak dapat berbicara dan mengungkapkan ide dengan lancar. Tulisan ini bertujuan memberikan 3 tips ampuh agar berani dan yakin dalam menghadapi setiap jenis FGD, tidak peduli apapun topik yang akan dikeluarkan.

1.       PEST Analysis
Teknik analisis PEST (Political-Environment-Social-Technology) biasanya digunakan dalam menganalisis lingkungan eksternal sebuah organisasi. Dalam kasus FGD implementasinya adalah dengan mencoba mengusulkan solusi dari sebuah permasalahan dari segi politik, lingkungan alam, sosial, dan teknologi atau dari semuanya sekaligus. Walaupun kita tidak paham topiknya, namun kita bisa tetap mengusulkan solusi-solusi yang umum dari keempat domain tersebut. Sebagai contoh apabil kita mendapatkan kasus FGD perihal ‘tingkat vaksinasi yang rendah di suatu daerah karena gerakan antivaksin’. Salah satu solusi yang dapat kita ajukan dari segi sosial adalah dengan mengadakan penyuluhan mengenai bahaya virus dan manfaat vaksin yang benar. Atau jika ingin memulai dari sisi teknologi, kita dapat keluar dengan ide bahwa salah satu penyebab gerakank antivaksin adalah karena bahan yang digunakan ada yang bersumber dari bahan baku yang tidak halal. Maka solusinya adalah dengan meneliti dan mengembangkan jenis vaksin yang terbuat dari bahan-bahan yang aman dan halal namun dengan kualitas yang sama atau lebih baik. Selanjutnya tinggal elaborasi pendapat kita dengan argumen-argumen pendukung.

2.       Root-Cause Analysis
Teknik ini cocok untuk digunakan apabila kita bukan menjadi orang yang paling pertama berbicara. Pada umumnya dalam aktivitas FGD para peserta langsung keluar dengan solusi-solusi yang brilian untuk memecahkan masalah. Jangan minder, dan gunakan teknik analisis akar masalah. Ketika giliran kamu untuk bicara, dapatkan perhatian dari seluruh peserta diskusi dengan mengatakan bahwa kita mengapresiasi pendapat-pendapat dari para peserta lain yang sangat bagus. Namun akan lebih penting apabila kita menemukan akar permasalahan terlebih dahulu. Dengan menemukan akar masalah, solusi yang disampaikan pun dapat tebih efektif dan tepat sasaran.

Ibaratnya jika ada seorang pasien yang menderita pusing setiap hari dan ia rutin mengkonsumsi obat sakit kepala. Setelah minum obat sakitnya berkurang, namun masih sering muncul. Ternyata setelah diselidiki sakit kepala yang dideritanya disebabkan oleh asam lambung yang kumat. Walaupun ia sering mengonsumsi obat sakit kepala, wajar saja jika sakitnya terus kembali karena yang diselesaikan bukan akar masalahnya (root cause), melainkan sakit kepala tersebut hanya berupa gejala (symptomp).
Untuk penggunaannya dalam FGD, kamu juga bisa menyertakan analogi symptomp-root cause seperti di atas untuk lebih menekankan mengenai pentingnya menemukan akar masalah terlebih dahulu sebelum menyepakati solusi. Biasanya [eserta lain akan mengangguk-ngangguk tanda setuju. Selanjutnya biarlah lempar ke forum untuk menggali akar masalahnya, jadi kita tidak perlu keluar dengan akar masalah tersebut sendiri
 3.       Time Series Framework
Mirip dengan teknik nomor 2, jurus ini cocok dikeluarkan apabila sudah ada beberapa peserta yang bicara sebelum kamu dan masing-masing punya solusi yang cerdas. Tetap tenang dan yakinkan forum dengan menggunakan teknik time series ini. Cara menggunakannya adalah dengan terlebih dahulu mengatakan bahwa sumber daya kita terbatas, baik dari segi sumber daya manusia, peralatan, maupun waktu. Untuk itu, alternatif cara penyelesaian masalah yang telah diungkapkan dapat dibagi menjadi 3 waktu implementasi. Solusi yang urgent dapat disarankan untuk masuk ke solusi jangka pendek (short-term solution). Sedangkan solusi yang dirasa akan membutuhkan sumber daya yang lebih besar atau butuh jangka waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan bisa ditempatkan pada solusi jangka menengah (mid-term solution) atau (long-term solution).

Sebagai contoh, dalam kasus FGD untuk menyelesaikan masalah zonasi sekolah di kota-kota besar untuk prioritas siswa yang masuk sekolah berdasarkan tempat tinggalnya, apabila kita tidak ada latar belakang pendidikan atau tidak dekat dengan aktivitas pendidikan dasar mungkin kita akan kebingungan untuk mengeluarkan solusi. Ketika sudah mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan pendapat, kita bisa menggunakan pendapat-pendapat orang sebelumnya untuk dijadikan solusi yang komprehensif. Misalkan kita bisa masukkan pendapat yang menyarankan untuk memberikan pelatihan dan peningkatan kapasitas untuk guru ke dalam solusi jangka pendek serta saran untuk perbaikan infrastruktur sekolah dalam solusi jangka panjang.

Untuk menggunakan teknik ini, kita tidak perlu menggunakan ketika jenjang waktu (short, mid, & long term), namun bisa jadi hanya dua saja (short & long term). Akan lebih elegan apabila setelah kita mengklasifikasikan solusi, kita juga menambahkan pendapat kita untuk mengisi kekurangan yang belum ada. Misalkan dalam kasus di atas, kita dapat mengusulkan pemerintah untuk mengeluarkan regulasi yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan dalam solusi mid term. Perihal bagaimana jenis regulasinya, itu perihal belakangan.

Teknik-teknik ini dapat digunakan untuk setiap jenis FGD, di tahap rektument perusahaan dari seluruh tipe industri, hingga LGD (Leaderless Group Discussion) seperti seleksi beasiswa LPDP. Dengan menggunakan 3 jurus ampuh di atas, mulai sekarang kita tidak akan khawatir tidak menguasai topiknya lagi apabila akan menghadapi FGD.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar