Senin, 24 Desember 2018

4 Produk Inovasi Sebagai Solusi Minimasi Sampah Plastik di Lautan

Masalah sampah plastik yang mencemari laut kian hari makin mengkhawatirkan. Indonesia menjadi penyumbang ke-2 terbesar untuk volume samplah plastik yang mengotori samudra. Mayoritas limbah plastik berasal dari peralatan sekali pakai. Dampaknya pun besar, tidak hanya mencemari permukaan, tapi juga membahayakan spesies yang berhabitat di laut. Beragam foto dan video mengenai hewan yang terluka, bahkan mati akibat jeratan dan mengonsumsi limbah plastik sering kita jumpai di internet. 

Dok. NatGeo: Hewan yang Terperangkap Plastik
 
Berdasarkan data dari National Geographic edisi bulan Juni 2018, separuh platik yang penah ada diproduksi dalam 15 tahun terakhir, satu triliun kantong olastik digunakan di seluruh dunia setiap tahun, dengan rata-rata masa kerja hanya 15 menit serta perkiraan plastik bertahan itu berkisar dari 450 tahun hingga selamanya. Namun harapan terhadap solusi sampah plastik ini masih ada. Para inovator di Indonesia berpikir mengenai alternatif pemecahan masalah untuk menangani limbah ini. Berikut 4 produk pengganti palstik yang ramah lingkungan

1. Plastik yang Bisa Disantap
Edible Bioplastik ini merupakan hasil penelitian dari Pak Isroi, peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia di Bogor. Plastik ramah lingkungan dari bahan terbarikan yang bisa terurai secara biologis di alam ini berbahan dasar utama tepung tapioka. Bahan pengganti plastik ini memiliki sifat yang mirip seperti plastik dan sudah digunakan sebagai bahan pembungkus dodol dari Banjarnegara. Kalaupun tidak dimakan, masa urai bioplastik ini di tanah hanya sekitar 3 bulan. Hingga tulisan ini dibuat, bioplastik ini sedang dalam proses pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual untuk mendapatkan paten. Apabila hasi produk inovasi ini dapat dikomersialisasikan, peluang untuk penggunannya di industri makanan sangat besar.

Kemasan sachet yang dapat dimakan

Start-Up bernama Evoware juga mengembangkan jenis material pengganti plastik untuk pembungkus makanan yang sama-sama biodegradable dan aman untuk dimakan. Bahan yang digunakannya adalah saru rumput laut. Menurut klaim mereka, hasil akhir material tersebut hambar dan tidak berbau, sehingga cocok untuk digunakan semakan kemasan sachet makanan atau kemasan kopi karena material ini dapat larut dan langsung dikonsumsi tanpa mengubah rasa.

2. Tas Belanja Lucu Pengganti Plastik
Pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan aturan yang berprogres perihal pembatasan plastik, seperti menetapkan plastik berbayar seharga Rp200 per buah setiap belanja di toko. Jadi pengunjung diharapkan membawa tas belanjanya sendiri ketika akan membeli barang. Namun menurut saya cara ini belum efektif karena kurang tajam, coba kalau harga plastik dipatok Rp5000/buah, orang akan berpikir berkali-kali sebelum menggunakan plastik untuk membawa barang belanjaan.

Tim kreator kreator yang terdiri dari 2 orang Indonesia dan 2 orang jerman bekerja sama untuk mendesain tas belanja unik berbentuk hewan laut yang dapat digunakan sebagai gantungan kunci. Merek dagang yang digunakan adalah Tasini. Tas Tasini dibuat dari limbah plastik yang telah didaur ulang (rPET). Satu buah tas ini diklaim dapat mengurangi penggunaan plastik hingga 400 buah setahun.

Tasini yang dimodelkan dari hewan laut

Dengan menggunakan tampilan visual yang menarik, diharapkan produk ini dapat menumbuhkan keinginan untuk memakainya dari diri pengguna sendiri, bukan dari keterpaksaan. Media ini juga dapat digunakan untuk mendidik anak-anak agar terbiasa menghindari sampah plastik ketika berbelanja sejak kecil.

3. Sedotan Logam

Sedotan logam dengan sikat pembersih

Dari seluruh peralatan tumah tangga berbahan dasar plastik, sedotan merupakan alat yang masa pakainya paling cepat. Walaupun paling cepat digunakan, sedotan plastik akan bertahan hingga waktu yang lama dan terbukti sudah mencederai beragam spesies makhluk laut. Oleh karena itu banyak inovasi sedotan logam yang terbuat dari alumunium, stainless steel dan titanium sebagai pengganti sedotan plastik. Jenis sedotan ini lebih ramah lingkungan daripada sedotan sekali pakai karena mereka dapat digunakan kembali. Banyak sedotan logam yang dibuat dengan logam kualitas tinggi dan menyediakan sikat tambahan untuk mempermudah pencuciannya. Beberapa di antaranya juga bisa ditekuk. Sedotan ini banyak dijual di e-marketplace dengan beragam ukuran sehingga dapat mengakomodasi beragam jenis minuman.

4. Tas Belanja dari Singkong

Biodegradable Plastics from Avani

Invator dari Denpasar memiliki kepedulian khusus terdapat masalah pencematan laut, hingga menghasilkan solusi berupa tas kain yang berbahan dasar Singkong. Dengan bermerk dagang Avani Eco, ia memasarkan sebuah kantong kemasan yang 100% dapat diuraikan dan aman bagi lingkungan. Menurut klaim mereka, pun apabila sampah plastik ini terbuang ke laut dapat dimakan oleh hewan. Dari plastik jinjing, Avani juga mengeluarkan beragam alat makan yang biodegradable seperti sedotan, piring dan gelas.

Solusi-solusi dari anak bangsa ini sudah menjadi harapan untuk mengurangi dampak destruktif dari pencemaran limbah plastik di laut. Ke depannya Indonesia juga dapat mengembangkan solusi-solusi lain dengan inovasi dan pemanfaatan teknologi untuk menghilangkan sampah di laut seperti penelitian yang dilakukan oleh Sehroon Khan dkk. di tahun 2017 menyebutkan bahwa jamur Aspergillus tubingensis mampu mendegradasi polyurethane, sebuah senyawa plastik, dengan membangun sebuah koloni di molekul tersebut. Contoh lainnya adalah jaring raksasa untuk menangkap sampah plastik di permukaan laut yang dikembangkan oleh Boyan Slat, CEO dan Pendiri Teh Ocean Cleanout. Dengan semakin banyak orang yang sadar akan urgensi bahaya sampah plastik dan mau bertindak untuk kelangsungan hidup di bumi ini akan membuka harapan anak-cucu kita tetap dapat menikmati indahnya bumi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar