Selasa, 18 Desember 2018

Apakah Memberi Kail Pancing Selalu Lebih Baik Dibandingkan Memberi Ikan?



Di salah satu komunitas kerelawanan yang fokus mengajar anak-anak SD, saya pernah mendengar kata-kata ini dari seorang kakak relawan kepada relawan lain yang ingin membantu adik bimbingannya cepat menyelesaikan PR: “Jangan kamu kerjain PR si adik, nanti dia cuma dapet nilai bagus di PR ini aja, tapi nanti dia gak bisa ngerjain PR lainnya. Mendingan ajarin dia cara ngerjain yang bener supaya dia bisa ngerjain soal-soal lainnya juga.” Kata-kata sang kakak relawan mengigatkan saya kepada kata-kata dari Lao Tzu yang populer: “Give a man a fish, feed him for a day. Teach a man to fish, feed him for a lifetime”, yang artinya kurang lebih berikan seseorang ikan maka itu akan cukup mengisi perutnya untuk satu hari dan ajarkan ia untuk memancing maka akan dapat memberinya makan seumur hidup. Sebagai seorang pengajar, saya memaknainya lebih ke arah fundamental keilmuan. Di kelas pendidik sebaiknya tidak hanya mengerjakank bagaimana siswanya dapat menyelesaikan soal, tapi lebih mendasar ke bagaimana membentuk pola pikir siswa dalam menggunakan tools yang diberikan untuk melakukan problem solving.

Menjawab judul di atas, tulisan ini bukan bertujuan untuk membahas lebih dalam mengenai filosofi dari kata-kata mutiara tersebut, namun untuk menawarkan sudut pandang lain yang mungkin memberikan insight baru bagi kita. Di sebuah grup WA, saya mendapatkan broadcast berupa cerita humor yang menarik yang bercerita mengenai ikan dan kail pancing. Berikut ceritanya (tanpa perubahan dari sumbernya):

Seorang pegawai Kedubes Indonesia di Beijing moodnya kurang baik, lalu dia coba pergi meditasi ke gunung Songshan di Henan, tempat sebuah Kuil Shaolin berada di kaki gunung tersebut.
Ada seorang biksu senior  bertanya sama dia,
 "Kalau anda disuruh pilih, mau pilih alat mancing atau milih ikan 500 kg?"
Dia jawab, "saya pilih ikan 500kg."
Si biksu geleng-geleng kepala sambil ketawa,  katanya,
"Anda jauh dari kebijaksanaan,  apakah anda tidak tahu bahwa 500 kg ikan bisa habis dimakan sedangkan alat mancing bisa memancing ikan terus menerus selamanya."
Dia menjawab,
"Anda yang terlalu naif. 500 kg ikan kalau dijual seharga Rp 50 ribu/kilo ... berarti hampir Rp 25 juta,  sedangkan alat mancing harganya hanya sekitar Rp 500 ribu, beli 10 set hanya sekitar Rp 5 juta. Saya bisa bayar Rp 5 juta untuk menggaji 10 orang untuk memancing ikan bagi saya. Dan bisa ambil Rp 5juta untuk bersedekah. Sisa uang bisa dibuat hal lain-lain misalnya mengajak teman-teman untuk  berburu. Bahkan sambil main domino bisa sambil menjaga orang-orang yang memancing ikan. Ikan hasil mancing bisa saya jual lagi. Nah,  hobi mancing saya tersalurkan,  bisa bersedekah, bisa bersosialisasi, bisa membuka lapangan pekerjaan, dapat untung pula."
Biksu, "Kamu orang mana ?"
Dia jawab, "Orang Padang."
Biksu, "Onde mande... "


Terlepas dari fakta yang diungkapkan di cerita bahwa sang kedubes adalah orang Padang, saya ingin mengambil sudut pandang lagi dari cerita tersebut bahwa tidak selamanya  pilihan mainstream akan lebih baik bagi kita dibandingkan pilihan yang jarang orang pilih. Sang kedubes memiliki prespektif lain dalam melihat ikan seberat 500 kilogram yang tidak hanya untuk konsumsi. Ia melihat nilai ekonomis dari ikan tersebut yang dapat dijual untuk membeli lebih banyak set alat pancing, memberdayakan orang lain, beramal, namun tetap dapat menjalankan hobinya untuk memancing. Seorang pengusaha perlu untuk mengembangkan kemampuan untuk melihat holistik (secara menyeluruh) dari sebuah benda bernilai ekonomis agar dapat mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. Dalam cerita tersebut, sang kedubes tidak works for money, but money works for him. Jadi apabila ingin menjadi seseorang yang inovatif dalam hidup jangan hanya mengikuti apa kata orang dan melakukan hal yang umumnya orang lain lakukan, tapi cobalah melihat segala sesuatu dari perspektif lain dan berani mengambil risiko.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar