Senin, 31 Desember 2018

Evaluasi Berkala untuk Meningkatkan Kualitas Praktikum dan Perkuliahan


Di beberapa jurusan, ada kegiatan praktikum yang dimasukkan dalam struktur kurikulum agar mahasiswa dapat praktik dan lebih paham mengenai materi yang disampaikan di kelas. Pada umumnya, praktikum yang dilakukan di perkuliahan akan berjalan sama setiap tahun, dan berulang terus menerus. Jarang ada evaluasi yang dilakukan untuk memperbaiki kekurangan dari pelaksanaan praktikum. “Dari dulu sudah begitu”, adalah kata-kata yang sering saya jumpai ketika bertanya mengapa melakukan praktikumnya seperti ini. Bentuk praktikum tetap dipertahankan dari setiap angkatan seolah-olah hal tersebut merupakan hal yang saklek dan tidak dapat diubah. Kalaupun ada perubahan biasanya bentuknya minor, bukan perubahan besar dan tidak terlalu mengubah struktur praktikum.

Sebagai jurusan baru, praktikum yang dilakukan di jurusan Manajemen Rekayasa Industri (MRI) ITB cukup dinamis dan sering berubah-ubah. Bahkan setiap angkatan bisa jadi tidak sama topiknya. Maka tidak ada yang namanya “lihat laporan praktikum kakak kelas”. Sebagai gambaran, di jurusan kami ada 4 buah praktikum perancangan yang dinamakan Praktikum Manajemen Rekayasa (PMR) 1 yang membahas proses manufaktur dan bagaimana produk dibuat pada semester 4, PMR 2 perihal riset pasar pada semester 5, PMR 3 tentang pengembangan produk pada semester 6 dan PMR 4 yang mendalami mengenai manajemen proyek pada semester 7. Sebagai dosen koordinator praktikum, biasanya Pak Titah (Titah Yudhistira) mengadakan evaluasi pelaksanaan praktikum dan melakukan langkah perbaikan berdasarkan evaluasi tersebut.

Setelah menjalankan praktikum PMR 3 pada semester genap Tahun Ajaran 2017/2018, Pak Titah mengajak para asisten Laboratorium Perancangan MRI (LPMRI) untuk melakukan konsinyering dalam rangka evaluasi. Konsinyering merupakan istilah tidak baku dari konsinyasi, yang merupakan pengumpulan/proses mengumpulkan pegawai di suatu tempat (hotel, penginapan, ruang rapat lainnya) untuk menggarap pekerjaan secara intensif yang sifatnya mendesak, harus segera selesai dan tidak dapat dikerjakan di kantor serta dilarang meninggalkan tempat kerja selama kegiatan berlangsung. Selain untuk melakukan evaluasi, kegiatan konsinyering ini juga bertujuan untuk merancang rencana kegiatan asisten lab untuk lebih menghidupkan LPMRI. 

Lokasi yang dipilih untuk melakukan kegiatan konsinyering ini adalah di Hotel Radiant. Hotel yang terletak di Lembang ini kami pilih sekalian untuk refreshing. Kamarnya nyaman, parkirnya luas, makanannya enak, dan ada kolam renangnya pula. Sebenarnya ketika kami browsing ada hotel yang lebih murah dan tampak nyaman, namun karena ada review dari salah satu pengunjung yang bercerita bahwa dia pernah mengalami kejadian mistis di hotel tersebut kami mengurungkan niat untuk mem-booking hotel tersebut.

Kami berangkat dari Bandung sekitar pukul 13.00 hari Sabtu karena baru dapat check in jam 14.00. Rencananya kami hanya menginap satu malam dan akan kembali ke Bandung hari Minggu siang. Ketika kami sampai di tempat sudah banyak tamu lain yang datang, dan hampir semuanya bernomor polisi B. Menurut cerita dari pramusaji di sana, hotel tersebut sering dijadikan short escape tamu-tamu dari ibukota. Mereka berangkat dari Jakarta hari Sabtu, menginap di sana dan berwisata di Lembang untuk mencari udara sejuk dan rehat dari hiruk pikuk DKI Jakarta, kemudian kembali lagi hari Minggu siang. Hotel ini juga menawarkan menu lengkap untuk makan pagi, siang, dan malam sehingga pengunjung tidak perlu repot-repot ke luar untuk mencari makan dan dapat bersantai-santai di hotel seharian penuh.

Kembali membahas soal konsinyering, aktivitas bekerja dilakukan efektif dari jam 15. Kami mulai dengan membahas keberjalanan pelaksanaan setiap modul praktikum. Setiap penanggungjawab (PJ) modul memaparkan bagaimana hal yang sudah efektif dan apa yang perlu diperbaiki, termasuk mempertimbangkan masukan praktikan untuk perbaikan. Ketika masih kuliah di MRI, angkatan saya merupakan angkatan pertama yang merasakan praktikum PMR 1 hingga 4. Banyak perubahan positif yang diberikan pada pelaksanaan praktikum. Dulu ketika praktikum pertama dijalankan, asistennya pun masih kebingungan ketika menerangkan materi dan melakukan asistensi, terbukti karena banyak perbedaan presepsi antar asisten. Namun pelaksanaan praktikum yang sekarang sudah jauh lebih rapi; konten modul lebih berbobot dan hanya memuat hal yang penting saja, desain modul dan slide presentasi lebih menarik, presepsi asisten sudah cenderung homogen sehingga tidak ada perbedaan pendapat ketika melakukan asistensi, serta penggunaan aplikasi sudah lebih advanced. Aktiviatas kerja kami selesai menjelang pukul 23.00 malam.

Konsinyering MRI

Keesokan paginya, diskusi berlanjut untuk membahas kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat dilakukan untuk dapat meningkatkan kapasitas asisten lab dan mengembangkan keilmuan Manajemen Rekayasa Industri. Beberapa masukan seperti kunjungan ke Fab Lab (sebuah laboratorium untuk berkreasi yang dibentuk oleh MIT dan memiliki cabang di puluhan negara), kerja sama dengan jurusan lain, dan kegiatan bonding asisten sempat tercatat sebagai rencana aktivitas lab untuk kedepannya.

Sebagai penutup, kegiatan evaluasi praktikum semacam ini dapat bermanfaat untuk memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kualitas penyampaian praktikum. Sehingga saya menyarankan bagi bapak & ibu dosen pengampu mata kuliah praktikum, mari buatlah evaluasi berkala untuk praktikum dan perkuliahan dengan melibatkan mahasiswa di dalamnya. Merekalah yang mengalami prakitkum dan perkuliahan, sehingga apabila ditanya siapa yang masukannya paling tepat untuk dipertimbangkan, merekalah orangnya. Kegiatannya tidak perlu fancy hingga menyewa hotel seperti di atas, namun cukup dengan ngobrol santai di kampus dengan mahasiswa. Dengan melakukan evaluasi, kegiatan praktikum dapat menjadi semakin menarik dan efektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar