Senin, 31 Desember 2018

Kajian Ringan di Grup WA DDV, dari Bertanya Warna hingga Bahasan Tentang Doraemon

Salah satu hal terpenting dalam organisasi adalah melakukan engagement agar para anggota tetap merasa nyaman di dalam organisasi dan dapat mengeluarkan potensi terbaiknya. Jika di organisasi bisnis seperti korporasi engagement dilakukan karena karyawan di dalamnya memiliki kepentingan untuk bekerja dan mendapatkan upah atas hasil kerjanya, tidak demikian dengan organisasi sosial yang bekerja tanpa imbalan. Terlebih apabila dalam satu organisasi tidak semua anggota saling mengenal dan hanya berinteraksi melalui online platform, cara untuk mendekatkan anggota akan semakin sulit dilakukan.

Salah satu hal menarik yang saya temui di komunitas Dompet Dhuava Volunteer (DDV) Jabodetabek adalah engagement juga dilakukan dengan cara informal yang mengalir, menyenangkan, dan tanpa terencana. Di grup Whatsapp yang saya ikuti, pernah diajakan kajian online yang serius seperti perihal ketulusan mengabdi sebagai relawan dari kak Indah Permata Sari dan pelestarian manggrove oleh pemerhati dan aktivis konsevasi tanaman bakau, Pak Noay Ikhsan. Di lain waktu, tiba-tiba pernah dimulai bahasan mengenai Doraemon, lebih spesifiknya lagi asal muasal si robot kucing abad 21 ini memiliki warna biru.

Dari Bertanya tentang Warna Biru

Hingga Bahasan Tentang Doraemon

 Cerita dimulai ketika salah seorang relawan bertanya tentang apa jenis warna biru pada sebuah gambar kaos yang ia kirimkan di grup. Relawan lainnya ada yang berceletuk mengenai warna biru Doraemon. Bahasan semakin menarik ketika Kak Burhan (Bubu), menawarkan untuk membagikan cerita mengapa robot ikonik asal jepang ini berwarna biru.

Jika teman-teman penasaran dengan kisahnya, berikut sinopsisnya:

Pertama kali lahir, doraemon warnanya kuning, punya kuping. Ini sama seperti robot kucing lainnya yang sejenis, yang satu pabrik. Pada suatu hari, Sewashi anak yang diasuh doraemon minta bantuan robot tikus untuk mengoreksi telinga patung doaremon yang sedang dibuatnya. Tapi ternyata robot tikus salah paham, dia malah gerogotin telinganya doraemon.

Dari sini, doraemon takut banget sama tikus. Doraemon pun dibawa ke rumah sakit dengan harapan dapat pulih seperti sediakala. Akan tetapi sungguh malang, dokter malah mengamputasi telinga doraemon. Jadilah dia sesosok kucing berkepala bulat tanpa daun kuping.

Telinga Doraemon yang Dimakan Tikus

Doraemon sangat sedih sekali. Apalagi ternyata kekasihnya, Noramyako lantas mentertawakan kondisi fisik doraemon pasca operasi, dan kemudian memutuskan hubungannya dengan doraemon. Karena tidak ingin larut dalam kesedihan Doraemon memutuskan untuk meminum pil bahagia agar segala lara hatinya berakhir.

Tapi, ckckck. Doraemon salah ambil dari kantung ajaibnya. Dia malah meminum obat sedih. Maka, ia pun menangis 3 hari 3 malam tanpa henti. Derai-derai air matanya yang terlalu deras tersebut tanpa sadar membuat warna kuning pada tubuh doraemon luntur, sehingga tampaklah warna biru yang seperti sekarang kita kenal. Tak hanya itu, tangisannya pun sampai membuat suaranya serak seperti saat ini.

Doraemon yang Menangis Berlebihan

Kajian tersebut dibawakan dengan santai dan ringan. sesekali ada relawan yang bernostalgia perihal masa kecilnya. Komentar unik juga bermunculan, seperti ada yang mempertanyakan mengapa warna kuning, yang notabene merupakan warna primer, dapat luntur menjadi warna biru yang sama-sama warna primer.

Materi tentang Doraemon tersebut ditutup dengan berfaedah, mengambil pejalaran berharga dari kisah hidup sang robot. Pelajaran yang didapat anatara lain jangan berlebihan, misalkan kesedihan dan tangis yang berlebihan sampai-sampai membuat warna tubuh menjadi luntur.

Doraemon yang Menjadi Teman Masa Kecil Kita


Bagi saya pribadi, bahasan tentang Doraemon tersebut memberikan warna baru pada pemahaman saya terhadap interaksi di grup WA. Sebelumnya saya berpikir jika anggota grup Whatsapp yang jarang komen atau terlihat interaksinya di grup hanya sesekali, ternyata dapat dengan kasual ikut nimbrung juga. Hal ini yang mau saya bawa ke komunitas saya yang lain, salah satunya Creavill (Creative Village) Bandung. Di grup komunitas Creavill seringkali bahasannya serius, hingga beberapa relawan segan untuk sekedar membalas komentar, terlebih bagi relawan baru yang belum pernah interaksi tatap muka. Mereka jadi malu-malu untuk berinteraksi. Siapa tau dengan membahas bahasan yang ringan dan ada muatan nostalgia, para silent reader dapat mulai terlihat typing di grup WA.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar