Senin, 31 Desember 2018

Kebakaran di ITB, Kesalahan yang Berulang

Mata meguru”, adalah sebuah pepatah Jepang yang berarti ‘history repeats itself’. Kejadian kebakaran gedung di ITB yang terjadi baru-baru ini mengingatkan saya bahwa kejadian yang mirip pernah terjadi juga sebelumnya, pada rentang waktu yang tidak terlalu lama.

Hari Ahad sore, 30 Desember 2018, saya mendapatkan kabar bahwa telah terjadi kebakaran di gedung Teknik Industri ITB. Api mulai merambat dari sekolah pascasarjana Studi Pembangunan yang berada di antara Gedung SBM dan gedung Teknik Industri. Kobaran api segera terlihat petugas keamanan yang sedang berjaga dan tim damkar segera datang untuk memadamkannya. Sang jago merah akhirnya berhasil dipadamkan sekitar 1 jam setelah api menyala. Ia berhasil menghanguskan 1 lantai bangunan berserta isinya. Untungnya tidak ada korban jiwa karena sedang masa libur akhir semester. Hingga saat tulisan ini di buat penyebab kebakaran masih belum diketahui.

Api Mulai dari SP

Kekhawatiran saya terutama pada ruangan himpunan Keluarga Mahasiswa Teknik Industri (MTI) ITB yang terletak persis di bawah lantai yang terbakar. Untungnya berdasarkan press release terbaru dari media MTI, bangunan himpunan dan isinya dinyatakan aman dari lidah api.

Kejadian kebakaran tersebut membawa ingatan saya untuk memvisualisasikan kembali momen yang mirip yang terjadi di pertengahan tahun 2013. Gedung Teknik Industri (TI) pernah terbakar hebat, yang melalap habis lantai 2 Labtek III. Akibatnya seluruh ruang belajar di lantai tersebut tidak dapat digunakan, berkas-berkas penting di ruangan dosen terbakar habis, hingga 2 ruangan laboratorium di sana pun ludes menjadi puing-puing. Selama satu tahun berikutnya kami harus “mengungsi” untuk mengadakan perkuliahan di gedung lain. Hal yang paling menyakitkan adalah apabila harus melewati lantai 2 dan menyaksikan reruntuhan bekas terbakar, agak ngeri juga melihatnya.

Hari sebelum kejadian kebakaran pada tahun 2013 silam, saya dan teman-teman asisten Gambar Teknik sedang mengadakan praktikum yang menggunakan ruangan laboratorium di lantai 3 hingga petang. Saya ingat bahwa charger HP saya masih tertinggal di sana. Menjelang tengah malam, di grup angkatan ribut membahas perihal kebakaran yang terjadi di gedung TI. Awalnya saya sempat mengira bahwa sumber api terjadi dari lantai 3 karena kami yang terakhir kali menggunakan. Sempat terpikir bahwa jangan-jangan para asisten akan di-drop out apabila terbukti menjadi penyebab kebakaran. Ternyata menurut hasil penyelidikan api bermula dari ruangan laboratorium FAC (Financial Assistant Community) di lantai 2. Percikan api timbul karena colokan listrik yang bertumpuk, AC, kulkas dan alat elektronik lainnya yang dibiarkan menyala sebulan penuh selama liburan. Ditambah lagi ruangan tersebut dilapisi oleh karpet, sehingga ketika timbul percikan listrik langsung dapat berubah menjadi bunga api yang cepat menjalar. Keesokan hari selelah api berhasil dipadamkan, praktikum tetap berlanjut di reruntuhan bekas gedung seba guna yang terletak di depan gedung TI.

Api Semakin Cepat Menjalar

Dua kejadian kebakaran dalam liburan tersebut menandakan bahwa ITB sekalipun belum menjalankan standar pengamanan gedung yang baik. Secara teori mungkin para akademisi di ITB, yang memiliki jurusan sipil dan arsitektur terbaik di tanah air, paham mengenai best practice management gedung. Namun pada implementasinya, teori hanya sebatas referensi jika tidak dipraktikkan. Biasanya, jika sudah kejadian barulah perbaikan dilakukan, kebijakan dikeluarkan, dan implementasi di jalankan. Kejadian ini bukan hanya sekali, tapi bisa dibilang terulang kembali “hanya” dalam waktu 5 tahun.


Masih ingat kejadian tembok gedung CADL (Center of Art, Design, and Languages) yang runtuh dan menimpa mahasiswa pada acara wisuda tahun lalu (link berita). Hal tersebut juga berhubungan dengan struktur dan keamanan bangunan. Mindset bahwa perbaikan seharusnya dilakukan apabila sudah kejadian sebaiknya dihilangkan dari pikiran para pengembang. Keselamatan dan keamanan merupakan hal yang utama. Kejadian-kejadian tersebut menjadi masukan bagi kita untuk sama-sama memperbaiki tingkat keamanan gedung, tanggapan terhadap kebakaran dan bencana, serta melatih kecepatan tanggap ERT (Emergency Response Team). Semoga ke depannya tidak ada lagi kebakaran, atau kerusakan gedung akibat kelalaian faktor manusia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar