Rabu, 12 Desember 2018

Momentum untuk Membangun Kebiasaan Baik & Berhenti dari Kebiasaan Buruk

Dari seminar Muda Mulia oleh Kang Rendy di Bandung, saya mendengar bahwa 90% daya dorong roket untuk pesawat ulang alik dihabiskan untuk mengangkat pesawat tersebut beberapa meter dari udara. Ketika kita mendorong sebuah mobil, hal tersulit adalah dorongan awal untuk menggerakan roda. Ketika roda sudah berputar, maka dorongan akan lebih ringan dan mudah. Namun apabila kita berhenti dan kehilangan momentum, akan sulit lagi untuk melanjutkan dorongan. Hal ini sama saja dengan kita memulai dari awal.

Credit:Pixabay


Ketika ingin membentuk kebiasaan baik, atau berhenti dari kebiasaan buruk, hal yang paling sulit biasanya membangun momentum di awal dan mempertahankan ritme hingga second wind terbentuk. Istilah second wind saya dapatkan dari pelajaran olahraga ketika seorang pelari sudah menemukan ritme lari yang pas dan nyaman bagi dirinya. Apabila pelari tersebut berhenti akan langsung merasa kelelahan.

Contohnya untuk membentuk kebiasaan olahraga setiap pagi, di hari-hari awal mungkin kita akan sulit untuk bangun, mengepak pakaian olahraga dan bersiap. Kuncinya adalah paksakan saja! Di awal mungkin kita akan menemui resistensi, dan yang terbesar berasal dari diri sendiri. Namun apabila sudah berjalan beberapa hari dan momentum itu telah terbentuk, di hari ke-6, 7, atau seterusnya akan lebih mudah untuk berolahraga. Pertahankan momentum ini, jika berhenti bisa jadi kita akan kesulitan lagi untuk memulai.

Untuk memulai di awal, seringkali kita membutuhkan motivasi dari lingkungan dan orang lain. Tapi motivasi terbesar dimuali dari diri sendiri. Sedikit tips dari saya, kita bisa mulai membangun momentum dengan melafalkan sebuah mantra yang efektif. Mantra yang pernah saya pelajari: “LA-KU-KAN-SA-JA-A-PA-PUN-RI-SI-KO-NYA”

Selamat memulai kebiasaan baik atau berhenti dari kebiasaan buruk. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar