Senin, 31 Desember 2018

Purnabakti, Penghargaan kepada Dosen atas Pengabdiannya

Senyum Bahagia Para Dosen Purnabakti

Titel pahlawan tanpa tanda jasa diasosiasikan pada guru yang mengajar tanpa pamrih. Titel tersebut juga sejatinya cocok disematkan pada dosen yang juga memiliki tugas mendidik mahasiswa, sama seperti guru. Selama ini saya jarang melihat apresiasi pengabdian dosen dari para anak didiknya. Pengalaman saya menyaksikan penghargaan pada dosen-dosen di Teknik Industri (TI) yang berkesan adalah ketika acara purnabakti tiga dosen TI ITB.

Bulan Maret tahun 2018 ini bertepatan dengan masa pensiun Pak Pamoedji (Ir. Pamoedji Hardjomidjojo, M.M.), salah satu dosen senior di TI ITB yang pakar di bidang keuangan. Komunitas Teknik Industri berinisatif untuk mengadakan acara purnabakti untuk menghargai jasa-jasa Pak Pamoedji dan 2 orang dosen lain yang terlah pensiun lebih dulu, yakni Pak Mame (Dr. Ir. Mame Slamet Sutoko, DEA) dan Pak Sutarno (Dr. Ir H. Muhammad Sutarno,l SHI, MScI). Walaupun dikatakan pensiun, Pak Pamoedji dan Pak Mame masih aktif mengajar di TI ITB, meski tidak terhitung sebagai dosen tetap dan anggota Kelompok Keahlian.

Semangat untuk mengapresiasi terasa kuat mulai dari rapat persiapan acara, Bu Yosi (Yosi Agustina Hidayat) menginginkan semua detail acara merupakan yang terbaik. Misalkan untuk katering, beliau sampai mencoba makanan (food testing) sebanyak 3 kali agar memastikan bahwa makanan yang disajikan pas dengan lidah para dosen purnabakti dan sesuai selera tamu undangan. Souvenir yang diberikan dipikir matang-matang agar sesuai dengan karakteristik dan kesukaan masing-masing dosen. Serta pada hari-H panitia diwajibkan memakai jas, dan kebaya terbaiknya untuk menyambut para tamu dengan elegan.

Semangat dari sang ketua acara juga terasa pada setiap anggota timnya. Saya yang terlibat dalam tim pembuatan video dokumenter dan testimoni juga merasa bahwa acara ini penting dan effort yang dikeluarkan harus maksimal agar dapat mengapresiasi para dosen dengan baik. Ketika mengumpulkan testimoni, saya banyak belajar dari hal-hal positif dan kenangan-kenangan baik yang diceritakan para mahasiswa, rekan sejawat sesama dosen, dan teman di lingkungan ITB. Walau saya belum pernah diajar secara langsung oleh Pak Sutarno (beliau pensiun tahun 2012 dan saya baru masuk jurusan di tahun yang sama), saya mendengarkan banyak kesan baik bahwa beliau adalah orang yang shaleh, tidak hanya mengajar perihal konten mata kuliah saya, namun juga menanamkan nilai-nilai syariat Islam dalam setiap sesi kuliahnya.

Pada hari-H, acara dimulai dengan lancar sesuai susunan acara yang sudah direncanakan. Setelah ketika “pengantin” yang menjadi bintang tamu acara purnabakti datang, acara dimulai dengan do’a, makan malam bersama, sambutan dari masing-masing dosen, kesan-pesan dari rekan sejawat yang dekat dengan dosen, pemberian kenang-kenangan dan simbol apresiasi, serta ditutup oleh foto bersama. Selain dihadiri rekan sejawat sesama dosen, tenaga pendidik, dan keluarga & kerabat, acara tersebut juga dihadiri oleh para mahasiswa angkatan atas (ada yang tahun 80-an, 90-an, hingga 2000-an), dan ada yang memberikan apresiasi secara pribadi maupun mewakili angkatan mereka masing-masing untuk menyampaikan terima kasih.

Persembahan Lagu untuk Guru Kami

Hal yang paling menarik bagi saya adalah dari kesan pesan yang disampaikan kepada sang dosen merupakan bukti apresiasi tertinggi. Walaupun mahasiswa didikannya sudah melanglang buana dan berkelana jauh hingga ke negeri orang, mereka tidak melakukan jasa-jasa para pendidik dan almamaternya. Kewajiban dosen tidak hanya mengajar mata kuliah, namun juga mendidik dan membentuk karakter mahasiswa yang dapat berkontribusi bagi bangsa Indonesia. Peran merekalah yang dapat mendukung pencetakan generasi emas yang dapat menggerakkan Indonesia dalam mewujudkan visi Indonesia emas tahun 2045.  

Foto Bersama Setelah Acara

Menutup tulisan ini, saya ingin mengutip kata-kata Pak Mame yang disampaikan ketika sambutan. Beliau mengatakan bahwa ini saatnya TI beregenerasi dan obor perjuangan diestafetkan pada generasi penerus. Semoga kami, sebagai generasi muda di Departemen Teknik Industri dan Manajemen Rekayasa Industri ITB, dapat melanjutkan perjuangan para guru kami dan tetap mengobarkan api semangat pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat (tri dharma perguruan tinggi) untuk berkontribusi bagi bangsa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar