Jumat, 22 Februari 2019

Fokus ke Titik Hitam atau Fokus ke Kertas Putih?



Jika ada titik hitam pada kertas putih, terkadang kita konsen pada titik hitamnya, bukan sisa putihnya.  Bagaimana cara untuk tetap konsisten berpikir & bertindak positif di tengah kondisi yang negatif?


Jika ada masalah, kemungkinan yang terjadi adalah kita fokus meratapi si titik hitam. Padahal, masih banyak sisi lain kertas putih yang bisa dilihat. Salah satu cara untuk mengalihkan pandangan dari titik hitam ke bagian kertas yang putih adalah dengan bersyukur. Walaupun ada kendala yang kita hadapi, masih ada segudang nikmat yang kita rasakan. Misalnya jika kita terserang penyakit tergorokan, sebenarnya lebih banyak hal yang patut disyukuri daripada dikeluhkan. Syukurlah sakitnya hanya di tenggorokan, bagian tubuh lain masih sehat dan kita masih dapat melakukan mayoritas aktivitas dengan normal.

Sesuai janji Allah, jika kita bersyukur maka Allah akan melipatgandakan nikmat kita. Sebaliknya jika mengingkari nikmat, maka Azab Allah sangat berat. Dengan bersyukur atas kenikmatan-kenikmatan yang kita terima, pikiran kita akan terbuka. Apabila pikiran kita sudah terbuka, fokus pandangan kita akan lebih meluas. Penyelesaian masalah pun akan ikut cenderung akan lebih mudah karena pikiran yang terbuka dapat men-generate alternatif solusi feasibel yang lebih banyak.

Pada awalnya mencoba untuk bersyukur dikala terkena musibah mungkin terdengar aneh. Bagi orang lain akan janggal apabila (maaf) kaki kita tertusuk kepiting ketika berjalan di pantai dan kita mengucapkan hamdallah. Tapi lama kelamaan kita akan terbiasa dan merasa lebih ringan untuk mengucapkannya. Masih banyak yang dapat disyukuri; setidaknya kepitingnya tidak beracun, setidaknya tidak ada tulang yang patah atau setidaknya yang menyengat bukan ikan pari. 😄

Tidak ada komentar:

Posting Komentar