Minggu, 17 Februari 2019

SIAware Story Bagian Pertama: Awal Berkenalan dengan SIAware (Self Insight Awareness Training)


Awal perkenalan saya dengan SIAware (Self Insight Awareness Training) bermula pada awal tahun 2017. Teman sekelompok di Kelas Inspirasi Bandung 5, di SDN Cibeunying 1 – 4, Teh Tiha (Nur Astri Fathihah) memberikan infomasi mengenai Training SIAware di bulan Maret di tahun itu. Teh Tiha bercerita bahwa perubahan terbesar setelah mengikuti SIAware adalah ia merasa menemukan diri sendiri kembali. Ada banyak hal kecil yang ia baru aware tentang dirinya sendiri. Dan katanya hal tersebut sangat membantu Teh Tiha untuk fokus pada tujuan hidup. Karena fokus, banyak hal yang ia inginkan dari dulu jadi terlaksana. Teh Tiha juga bilang bahwa hal yang sebelumnya ia pikir kelemahan, ternyata kekuatan. Dan Teh Tiha juga jadi belajar bertanggung jawab sama diri sendiri dan menghargai setiap hal yang udah dikerjakan. Saya tertarik mengikuti namun jadwalnya belum pas. Makanya saya belum ikut pelatihan SIAware pada saat itu. Setelahnya, saya tidak mendapat info lagi mengenai training SIAware.

Di akhir tahun 2017, saya kembali “bersentuhan” dengan SIAware melalui perantara Teh Hani (Hani Hanifah), teman satu komunitas di Creavill Bandung. Dalam suatu perjalanan, saya melihat Teh Hani asyik ber-conference call melalui aplikasi chatting LINE. Saya perhatikan diskusinya lama sekali. Ketika saya tanya, katanya ia sedang mengikuti eSTe (Self Transformation), yang ternyata merupakan training lanjutan SIAware. Teh Hani bilang bahwa syarat ikut eSTe itu harus ikut SIAware dahulu. Karena tertarik ingin bertelepoin lama dengan orang lain, saya mau ikut SIAware, dengan motivasi dapat mengikuti training eSTe. Sebelumnya saya tidak pernah bertelepon lama-lama dengan orang lain, karena pada saat itu saya cukup pendiam dan jarang mau berkomunikasi secara terbuka dengan orang. Saya merupakan tipe yang lebih nyaman sendiri dan larut dalam kesendirian, hehe.

Sekitar bulan Maret, saya melihat poster SIAware angkatan 29 yang ditempel di kampus, tepatnya di Labtek V dekat Tata Usaha Fakultas Teknologi Industri. Saya cek jadwalnya, 2- 5 April 2018, kebetulan cocok dan belum ada agenda lain. Investasi training-nya ketika itu sebesar Rp1.750.000. Untuk ukuran training yang menginap selama 4 hari 3 malam, dan sudah termasuk makan, akomodasi, transportasi, dan perlengkapan seminar, biaya tersebut tergolong cukup murah.  Akhirnya saya memutuskan daftar dengan mengisi form online. Tak lama, ada panitia yang mengontak melalui WA. Dia adalah Mbak Fatriani atau yang akrab disapa Mbak Ria. Mbak Ria kemudian mengirimkan brosur informasi mengenai SIAware dan notulen Open House melalui grup WA. Ketika mau transfer, katanya ada promo grup cowok sebesar Rp150.000 per orang, jadi saya cukup bayar Rp1.600.000. Lumayan, ada penghematan. Setelah pelunasan, Mbak Ria juga membantu membuatkan kuitansi dan surat izin.

Di tempat saya bekerja tidak ada cuti tahunan, namun pegawainya bebas jika ingin mengajukan izin. Kewajiban waktu kerja saya pun hanya 20 jam per pekan, atau 4 jam per hari. Jadi sebenarnya cukup santai. Namun jika ingin mengajukan iziin harus ada alasan yang kuat. Awalnya niat saya ikut SIAware hanya ingin menjadikan training ini alasan untuk izin kantor.
Saya pikir “wah, lumayan 4 hari liburan di Lembang, kayak Retretnya PMK”.
Yang terbayang ketika itu hanya menikmati dinginnya lembang sambil berlibur dari kepenatan dan pekerjaan di Bandung selama 4 hari.
“Walau gak ke pantai, tapi udara dingin Lembang cukup menenangkan perasaan saya”, yang terlintas.

Ekspektasi awal saya terhadap training ini sebenarnya tidak terlalu tinggi, karena sebelumnya saya sudah beberapa kali ikut training motivasi dan pengembangan diri lainnya. Sempat terpikir bahwa palingan habis training semangat dan setelah itu biasa lagi. Terlebih saya tidak tahu informasi apa-apa mengenai training ini, seperti dimana lokasinya, siapa pematerinya, apa saja urutan acaranya, serta siapa saja pesertanya. Dan ketika itu saya tidak kritis menanyakan ke Mbak Ria mengenai detil training tersebut. Toh motivasi saya hanya mau bersantai di lembang dan izin kerja selama 4 hari. Karenanya, saya tidak bilang ke banyak orang dan tidak berani mengajak teman-teman yang lain. Dalam beberapa Open House (OH) yang dilaksanakan, saya tidak menyimak dengan baik, tiba-tiba obrolan di grup OH sudah ratusan, jadinya malas baca. Saya buka tutup grup sekedar untuk menghilangkan notifikasi angka di Whatsapp. Saya pikir juga toh sudah daftar dan bayar, jadi tidak butuh motivasi lagi untuk bergabung dalam SIAware.

Note: Setelah ikut SIAware, saya menyesal tidak membaca obrolan dari para narasumber OH. Selain karena beberapa saja kenal, misalnya Kang Fauzi Noerwenda (alumni Siaware 26, MC profesional, dan pendiri Sanggar MC), kisah hidup para narasumber. apa yang dipelajari selama pelatihan, dan perubahan setelah mengikuti SIAware menarik untuk disimak.

Menjelang hari-H, dengan masih tidak tahu apa-apa mengenai training, saya melakukan persiapan yang maksimal.
Prepare for the worst aja lah!”, pikir saya.
Jadi walaupun sudah diinfokan barang-barang yang harus dibawa, saya juga menyiapkan pakaian batik yang rapi, sepatu pantofel (dengan asumsi akan ada acara formal), celana training, kaos olahraga dan sepatu keds (saya membayangkan akan ada banyak game outbound di alam seperti acara gathering di korporat pada umumnya), tas trekking, ponco, sendal, tempat bekal & botol minum (seperti mau mendaki gunung, haha), serta laptop (siapa tau nanti ada presentasi atau butuh untuk browsing). Dengan bawaan sebanyak itu, barang yang saya bawa hingga 2 tas besar.

Di hari H, menjelang waktu berkumpul, saya kembali dihubungi oleh panitia (saya lupa siapa, kalau tidak salah Mbak Santi), yang menayakan posisi dan memastikan saya dapat mencapai meeting point pada waktu yang telah ditentukan.
“Wah, peduli amat ya panitia atas ketepatan waktu para pesertanya. Kayaknya kalo training yang lain peserta terlambat tetep ditungguin tanpa dikontak deh. Kecuali kalo kegiatan ospek jurusan, lain cerita itu.” Kurang lebih itu yang saya pikirkan.

Saya baru bertemu dengan para peserta SIAware di hari tersebut. Ada beberapa yang sudah saya kenal, dan lebih banyak lagi wajah-wajah baru yang hadir. Teman yang sudah kenal misalnya M. Yusri Khalil, dulu di DKM Al Furqon SMA 3 Bandung dan Rizky Hadianta TI 2013. Ada juga perempuan yang pakai jaket himpunan MTI. Saya sapa dan ajak kenalan, namanya adalah Anggi (MRI 2014). Setelah berkenalan dengan lebih banyak peserta, saya jadi tahu bahwa latar belakangnya berbeda-beda. Ada yang dari Purwakarta, Palembang, Balikpapan hingga Palu. Ternyata pesertanya tidak hanya dari Bandung dan Jakarta saja. Saya mulai berpikir bahwa pasti ada sesuatu yang berharga dari training ini hingga peserta rela datang jauh-jauh dari berbagai kota. Namun pada waktu itu saya dan seluruh peserta masih belum tahu apa saja yang akan kami lakukan selama 4 hari ke depan.

Berbekal rasa penasaran, saya berpikir untuk menjalankan saja pelatihan dan mengikuti semua instruksinya, siapa tahu dapat hasil yang baik. Langkah saya menuju tempat acara ternyata merupakan langkah saya untuk mengenal lebih dalam soal diri sendiri, menemukan apa yang selama ini saya cari dari diri saya, dan bertemu dengan teman-teman terbaik. Dan pilihan untuk menjalani setiap rangkaian kegiatan SIAware merupakan salah satu keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Berikutnya saya akan bercerita mengenai bagaimana training SIAware angkatan 29 berdampak besar bagi hidup saya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar