Minggu, 10 Maret 2019

Cobra Effect: Ketika Solusi Malah Memperparah Keadaan


Alkisah ketika India masih dijajah oleh Inggris pada abad ke-18, gubernur dari Inggris pada saat itu merasa kesal dengan banyaknya ular kobra yang masuk ke istana dan mengganggu aktivitas. Terlebih ia khawatir bahwa racun dari kobra yang menggigit dapat membahayakan orang-orang di sekitarnya. Sang gubernur mengadakan sayembara kepada rakyat di India bahwa barang siapa yang dapat menangkap dan membunuh kobra, maka ia akan diberikan hadiah. Warga pun jadi termotivasi untuk membunuh kobra dan membawa bangkainya ke istana untuk ditukarkan dengan uang poundsterling yang dijanjikan.

Pada awalnya sang gubernur senang karena setiap hari banyak warga yang berdatangan untuk mengklaim upeti. Namun lama-kelamaan ia semakin merasa heran karena semakin banyak bangkai ular yang disetorkan oleh warga, semakin banyak pula laporan gangguan ular yang muncul dari orang-orang di dalam istana.

Setelah melakukan penyelidikan, akhirnya diketahui bahwa warga beternak ular kobra, kemudian membunuhnya, dan menyerahkan bangkai kobra ke pemerintah India untuk diuangkan. Pemerintah Inggris pun menghentikan pemberian hadiah tersebut. Akhirnya warga India melepaskan ular kobra yang sudah tidak berharga, mengakibatkan ular-ular itu berkembang biak dan menimbulkan lebih banyak masalah.

Keadaan pemerintah Inggris yang mengeluarkan solusi yang malah membuat masalah semakin parah, bukannya menyelesaikan masalah, dikenal dengan istilah cobra effect. Istilah ini sering digunakan dalam bidang ekonomi dan politik ketika kebijakan yang dikeluarkan untuk menyelesaikan suatu kendala bukannya menjadi solusi namun malah memperparah kondisi.

Selain dalam politik dan ekonomi, cobra effect juga sering dijumpai. Misalkan dalam keadaan sehari-hari, menghadapi balita yang aktif sang orang tua malah memberikan HPnya dan menyetelkan Youtube kepada sang anak. Aktivitas ini untuk sementara akan membuat anak berhenti beraktivitas dan anteng dengan gadget. Namun dalam jangka panjang malah akan menimbulkan masalah baru seperti menurunkan konsentrasi dan menjadikan anak mudah tersulut emosi apabila kesenangannya direbut. Belum lagi apabila tontonannya mengandung konten-konten negatif, dapat memengaruhi kondisi psikologis sang anak di kemudian hari.

Untuk dapat menghindari salah pemberian solusi dan menimbulkan cobra effect, salah satu caranya dalah dengan melakukan analisis akar masalah (root cause) terlebih dahulu. Seringkali orang menyelesaikan masalah hanya pada gejalanya (symptomp) saja, tidak pada akar permasalahan. Ibarat orang yang pusing kemudian ia meminum obat sakit kepala. Sakit kepalanya tak kunjung sembuh walau sudah semakin banyak obat dan suplemen yang ia konsumsi. Ketika berkonsultasi dengan dokter, ternyata akar masalahnya adalah asam lambung yang berlebihan dan membuat pusing. Dan ketika sudah mengonsumsi obat yang tepat, asam lambungnya pun kembali normal dan sakit kepala sudah tidak menghantuinya kembali.

Salah satu cara untuk menemukan akar masalah yang diajarkan di jurusan saya adalah dengan menggunakan 7 Tools of Quality Control, yang terdiri dari Cause-and-effect diagram (dikenal juga dengan fishbone atau Ishikawa diagram), Pareto Chart, Scatter Diagram, Control Chart, 5-Whys, Cheek Sheet, dan Histogram. Ketujuh metode ini dapat digunakan sendiri-sendiri atau secara bersamaan. Pemanfaatan metode-metode tersebut akan dibahas pada tulisan lainnya. Intinya metode ini dapat dimanfaatkan untuk menemukan root cause sebelum kita mengusulkan solusi yang tepat terhadap suatu permasalahan yang ditemui. Dengan demikian, peluang salah memberikan keputusan dapat lebih diminimasi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar