Minggu, 17 Mei 2020

Belajar dari Motor Mogok dan Sebotol Bensin


Ketika kerja di Kota Balikpapan tahun 2016, saya membeli motor pertama saya. Motor tersebut merupakan Honda Beat tahun 2009, yang saya beli dari Dom (Ardian Dominggo) yang dipindah tugaskan ke kantor Total di Jakarta. Walaupun motor tersebut sudah berumur 7 tahun, tapi performanya masih sangat baik. Mungkin karena pemiliknya merawat dengan apik dan rajin melakukan kontrol ke bengkel. Satu-satunya kekurangan dari motor tersebut adalah indikator penunjuk bensinnya mati. Jadi saya harus sering-sering mengecek bensin di tangki. Jika lupa mengisi bensin, motor bisa tiba-tiba mogok di jalan.

Pernah suatu waktu motor tersebut mogok di waktu dan tempat yang sangat tidak tepat. Waktu itu saya dan Malik (Abdullah Malik) berencana berangkat ke Bandara Sepinggan untuk ikut mengantarkan Mbak Icha (Khairunnisa), salah satu relawan Muda Mengajar, yang akan melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Kami berangkat dari kostan di daerah V&W sekitar jam 4.15 shubuh. Penerbangan Mbak Icha jam 6 pagi, jadi estimasi kami masih bisa bertemu dia sebelum boarding jam 5 shubuh.

Kami melewati jalan pintas lewat Balikpapan baru, dengan tujuan memotong jalan ke M.T. Haryono. Sialnya, malam sebelumnya saya tidak mengecek kadar bensin pada tangki yang sudah hamper habis. Tiba-tiba di tengah jalan motor pun mogok. Kondisi saat itu masih sekitar pukul 4.30 dan di sekitar jalanan tidak ada pemukiman penduduk. Ditambah lagi tidak ada lampu yang menerangi jalan. Akhirnya kami harus mendorong sampai keluar ke jalan besar (M.T. Haryono) dan mencari SPBU yang masih buka.

Setelah berjalan dengan penuh keringat sejauh hamper 3 km, akhirnya kami menemukan sebuah SPBU. Dan ternyata . . . SPBU tersebut masih tutup. Hah! Untungnya tak jauh dari SPBU ada kios yang menjual bensin literan. Kami bersyukur dan senang sekali waktu itu, ibarat menemukan oasis di tengah padang pasir. Cerita ini berakhir bahagia dengan saya dan Malik sempat mengantar keberangkatan Mbak Ica di bandara.  

Sejak kejadian mogok di tengah jalan tersebut, saya melakukan Langkah mencegahan dengan menyiapkan bensin cadangan. Bahan bakar tersebut saya masukan ke dalam botol kaca (waktu itu saya pakai UC1000) yang ditaruh di dalam bahasi motor. Tentunya jangan isi botol terlalu penuh agar dapat memberi ruang pemuaian ketika udara panas. Volume bensin cadangan tersebut tujuannya hanya cukup untuk sampai ke kios isi bensin atau SPBU terdekat.

Selama beberapa waktu membawa bensin cadangan, untungnya saya belum bertemu momen yang mengharusnya menggunakan “nyawa tambahan” bagi motor tersebut. Suatu hari, Ketika saya pulang malam hari dari kantor di Jalan Minyak, saya lewat Karang Jawa karena dulu takut melewati hutan kota di Jalan Minyak. Tak jauh dari kantor, saya melihat seseorang sedang mendorong motornya. Setelah berhenti dan menanyakan keadaannya, ia bilang bahwa motornya mogok karena bensinnya habis. Langsung saya teringat kisah kasih dengan motor mogok sebelumnya. Untungnya saya masih memiliki bensin cadangan. Berpindah tanganlah si bensin dari bagasi motor saya ke tangki pengendara motor tersebut. Setelah dicoba di-starter, motor malang tersebut pun kembali berenergi. Sang pengendara pun kembali melanjutkan perjalanan setelah berterima kasih.

Di momen tersebut, saya merasa bahagia sekali. Bahkan ada rasa fulfilling yang lebih memuaskan dibandingkan ketika menemukan pertamini setelah keringatan mendorong motor yang mogok. Ternyata hal kecil bisa bermanfaat buat orang lain juga. Padahal awalnya saya hanya fokus untuk menolong diri sendiri dengan menyiapkan cadangan BBM. Semenjak itu, saya berpikir bahwa niat untuk membantu diri sendiri dapat memberikan manfaat juga bagi orang lain!

Jadi, yuk berbuat kebaikan dari hal keci, mulai dari diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar