Senin, 18 Mei 2020

Notulen POPTALK: Keluarga sebagai Sarana Mengatasi Kecanduan Pornografi saat #DiRumahAja



Hari, Tanggal : Kamis, 7 Mei 2020
Waktu: 16.00 – 17.30 WIB
Tempat: WhatsApp Group
Diadakan oleh: POPCORN (Protect Our Peers from Consuming Pornography) X Family Hour
POPCORN (singkatan dari Protect Our Peers from Consuming Pornography) adalah komunitas yang didirikan oleh anak-anak muda yang concern dengan isu adiksi pornografi maupun gangguan perilaku seksual. POPCORN fokus pada usaha preventif (berupa edukasi akan bahaya pornografi dan perilaku menyimpang seksual lainnya) maupun kuratif (berupa peer counseling). Mimpi POPCORN di masa depan adalah kita dan orang-orang di lingkungan sekitar kita bisa imun dari pornografi, meskipun konten-konten porn tidak terbendung, individu tidak akan terjerumus, bahkan sedikit pun tidak tertarik dengan pornografi.

Family hour bermula dari kegiatan pra pelatihan wilayah @fimnews angkatan 20. Karena family hour diinisasi anak-anak muda, besar harapan kami bisa belajar banyak dan belajar bareng juga bersama akang teteh semua. Besar juga antusiasme kami untuk diajak berkolaborasi bareng. Family Hour hadir untuk merangkul segmen anak anak mudanya. Keluarga adalah bagian pembangun sebuah peradaban termasuk bangsa Indonesia. Rusaknya keluarga menjadi rusaknya juga sebuah bangsa, sehatnya keluarga maka sehat pula sebuah bangsa. Menjaga dan menyelamatkan keluarga berarti kita sedang menjaga dan menyelamatkan sebuah generasi.

Profil singkat Narasumber

Ridha Habibah, M.Psi. , Psikologi Psikolog Klinis
·       S1 Psikologi UII Yogyakarta
·       S2 Magister Psikologi Profesi UII Yogyakarta
·       Associate di Global Psychology Center (GPC) Cirebon
·       Relawan Konsultasi Psikologi covid19 di Ikatan Mappronis Indonesia selama masa pandemi
·       Memiliki minat di bidang pengasuhan dan keluarga

Pemaparan Materi

Keluarga sebagai sarana mengatasi kecanduan pornografi saat #DiRumahAja
Oleh: Ridha Habibah

Berbicara mengenai kondisi saat ini yang mengharuskan kita #DiRumahAja, sebisa mungkin dan mau tidak mau membuat kita harus  #bekerjadarirumah #belajardarirumah dan #beribadahdirumah.

Kondisi ini membuat cukup banyak orang merasa stres. Dimana stres tersebut dapat memunculkan rasa bosan, jenuh, bingung, takut, sedih, cemas dan beberapa emosi lainnya. Emosi-emosi tersebut adalah hal yang wajar karena kondisi saat ini membuat kita dihadapkan pada sesuatu yang baru dan memerlukan penyesuaian terhadap kondisi yang sedang terjadi.💪🏻🤗

Akan menjadi tidak wajar ketika emosi-emosi tersebut dirasakan secara terus menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan menurunkan produktivitas individu.🥺
Nah sebenarnya masing-masing orang memiliki pilihan untuk berpikir, bersikap, maupun berperilaku dalam merespon  kondisi yang sedang dihadapi😍  Dalam istilah psikologi, respon tersebut dapat disebut juga sebagai coping.

Yang menjadi pertanyaan Kenapa cukup banyak orang memilih untuk mengakses pornografi dalam merespon keadaan ini? Bahkan hingga mengalami adiksi?🤔

Apakah akses pornografi dapat benar-benar menyelesaikan permasalahan yang ada? Atau malah memunculkan permasalahan baru?🤔
Baik mari kita lihat penjelasan berikut yaa👇🏻

Apa itu pornografi?
Kita mulai dengan pengertian dari pornografi itu sendiri. Pornografi merupakan segala macam atau bentuk tulisan, gambar, suara, atau gambar bergerak, yang dapat membuat bangkitnya hasrat/syahwat dalam diri individu. Sedangkan adiksi adalah kecanduan/ketergantungan terhadap suatu hal. Sehingga adiksi pornografi dapat diartikan sbg keadaan individu yang memiliki kecanduan terhadap  sesuatu hal yang membangkitkan hasrat seksual.

Dampak dari adiksi pornografi apa saja sih?
Adapun terkait dampak dari adiksi pornografi ada beberapa hal, namun kita  golongkan menjadi 4 aspek yaa yakni dampak terhadap biologis 🧠, psikologis 🙇🏼‍♀, sosial 🤝🏼, dan spiritualitas/religiusitas💦.
Coba kita kupas sedikit yaa
👇🏻👇🏻👇🏻

Dampak terhadap biologis🧠
Dalam otak manusia  terdapat salah satu bagian yang bernama prefrontal cortex yang  berperan dalam hal pengendalian diri, pengambil keputusan, penilaian. Nah bagian ini akan mengalami penurunan fungsi ketika individu mengalami adiksi pornografi.

Kenapa bisa begitu?
Hal tersebut terjadi karena ketika kita mengalami adiksi pornografi maka bagian otak yang memproduksi dopamin (hormon yang berperan dalam kesenangan) akan mengeluarkan zat ini scr berlebih dan otak akan terus meminta individu untuk melakukan perilaku yang dapat membuatnya tetap memproduksi dopamin. Selain itu, bagian otak pada area pre-frontal cortex pun mengalami penurunan fungsi/peran. Peran-peran area tersebut di antaranya dalam pengendalian/kontrol diri, penilaian, perencanaan perilaku kompleks, pengambilan keputusan.

Dampak terhadap psikologis dan sosial🙇🏼🤝🏼
Sebenarnya dampak dari aspek biologis tadi berhubungan dengan dampak aspek psikologis dan sosial. Bagian otak yang mengalami penurunan fungsi tadi berpengaruh pada stabilitas emosional, kontrol diri yang kurang baik, menurunnya tingkat konsentrasi dan biasanya cenderung senang menyendiri dibandingkan berkumpul di tengah oranglain.
Dalam keadaan yang lebih parah, individu dapat mengalami peningkatan masalah perilaku, munculnya gejala depresi, dan masalah lainnya.

Dampak terhadap religiusitas💦
Sebenarnya adiksi pornografi dan religiusitas ini memiliki korelasi yang negatif, jadi ketika religiusitas (terkait keyakinan individu terhadap nilai-nilai keagamaan) kita rendah atau lemah maka kecenderungan terhadap akses pornografi menjadi tinggi. Daan sebaliknya ketika individu  sering mengakses pornografi maka reaksi yang terjadi adalah adanya pelanggaran2 terhadap nilai2 agama dan turunnya kuantitas dan kualitas ibadah.

Apakah dengan pornografi orang benar-benar bahagia?
Setelah mengetahui bahwa pornografi memberikan dampak terhadap 4 aspek tadi, masih maukah kita melakukan akses pornografi demi kepuasan/kesenangan/kebahagiaan yang sementara?🥺

Kenapa kepuasan sementara? saya jelaskan sedikit ya.
Hanya kepuasan sementara karena ketika kita mengakses pornografi, otak kita memproduksi dopamin yang berlebih (hormon yang berperan dalam kesenangan) shg ketika telah selesai mengakses pornografi, otak akan meminta kembali pada individu tadi untuk melakukan hal yang sama bahkan lebih dari yang pertama diakses/dilihat. Dan akan terjadi kegelisahan ketika keinginan itu muncul namun tidak diikuti oleh perilaku.
Hal tersebut akan terus menerus terjadi, seperti lingkaran setan😢 ketika kita tidak mencoba dan berusaha memutus rantainya.

Lalu bagaimana cara memutusnya?
Nah, salah satu ciri individu yang sudah mengalami adiksi pornografi adalah pengalaman gagal yang berulang dalam mengontrol perilaku akses pornografi. Tapi apakah kita akan mengalah begitu saja pada kegagalan yang mengahadang? Jawabannya tidak yaa💪🏻
Kita harus ingat bahwa kegagalan merupakan hal biasa dalam hidup, oleh krn itu untuk menjadi luar biasa kita harus berusaha sungguh-sungguh dan berdoa pada Tuhan yang Maha Esa agar lingkaran setan tadi dapat kita putuskan rantainya.  Saya yakin kita semua di sini memiliki harapan-harapan positif di masa depan yang hendak dicapai😊

Usaha apa saja yang bisa dilakukan?
Kita bisa membuat strategi untuk mengalahkan kegagalan yang terjadi. Pertama, kita perlu mengetahui kira-kira apa saja penyebab emosi negatif muncul.
Kedua, kita bisa melakukan coping atau memilih cara yang sekiranya tepat dalam merespon sesuatu yang sdengan dihadapi. Coping ini bisa dilakukan dengan dua cara yaitu problem-focused coping (merespon keadaan dengan mencari penyelesaian masalah dan menyelesaikannya) dan emotion-focused coping (merespon keadaan dengan meredakan atau menstabilkan emosi, misal:  berdoa, melakukan relaksasi, makan makanan kesukaan, dsb).

Cara di atas tadi adalah untuk meminimalisir dampak stres selama #DiRumahAja, supaya ga lari ke akses pornografi dan tetap menyelesaikan masalah  Insyaallah..
Namuun ketika pikiran/ keinginan akses pornografi itu datang, hal pertama yang harus dimiliki adalah  tekad yang kuaat, dan melakukan kontrol diri terhadap pikiran dan perilaku yang mengarahkan kita untuk mengakses pornografi.Kontrol diri dapat dilakukan dengan cara mengendalikan/mengatur pikiran dan perilaku. 

Pertama, individu dapat mengatur/mengendalikan pikiran salah satunya dengan  (thought stopping). Misal, ketika pikiran tentang porn muncul tidak sengaja atau terstimulasi oleh sesuatu yang tak sengaja terbaca/terlihat, kita bisa berkata 'STOP dan berhitung mundur 3-2-1'.  Lalu kita cari alternatif pikiran lain yang lebih positif.

Kedua, individu dapat mengendalikan/mengatur perilakunya dengan mengurangi waktu 'menyendiri di kamar' dan melakukan aktivitas positif bersama keluarga (krn judul kulwap kali ini fokus pada 'keluarga sebagai sarana jadi saya akan fokus di situ yaa)🥰
Mumpuung #DiRumahAja.

Kenapa sih harus mengurangi waktu menyendiri di dalam kamar? Karena pornografi ini termasuk perilaku yang 'dirahasiakan' oleh para penggunanya sehinggaaa ketika sendirian, gadenganet di tangan, internet tersedia, daaan emosi tidak stabil maka individu akan memilih untuk melakukan akses pornografi agar hormon kesenangan dapat diproduksi. Padahaaal, masih banyak cara lain yang dapat menstimulasi hormon kesenangan diproduksi.

Naah apa saja siiih yang bisa dilakukan bersamaa keluargaa agar kesehatan mental ttp terjagaa?
Perlu diketahui juga bahwaa hormon dopamin bisa diproduksi ketika kita melakukan sesuatu yang menimbukan kebahagiaan/kenikmatan/kesenangan.
Kita bisa membuat kegiatan yang dapat lebih mendekatkan dan merekatkan antar anggota keluarga. Misaaal, dari yang paling bisa dilakukan adalaah makan bersamaa, beribadah dan berdoa bersamaa, masak bersama, bebersih rumah dan halaman bersama sama, olahraga bersama, atauu ngobrol santai bareng keluarga juga bisa bangeeet😍 daan melakukan kebiasaan lainnya yang menjadi ciri khas keluargamuu dan memberikan kebahagiaan pada dirimu😊

Jadii setiap hari kita jadwalkan diri untuk  membersamai dan dibersamai keluarga yakni orangtua, sodara (kakak/adik mungkin). Karenaa ketika kita berada dan aktif di lingkungan sosial yang positif (sementara ini sama keluarga dulu yaaa😉) maka perilaku adiksi pornografi dapat kita tinggalkan, Insyaallah.

Selain dengan melakukan aktivitas bersamaa, 'keluarga sebagai sarana' juga dapat diartikan dengan keluarga sebagai syarat atau upaya, yang dalam hal ini kaitannya dengan harapan-harapan keluarga (orangtua/kakak/adik) terhadap diri kita.

Jadiii harapan-harapan tersebut dapat kita jadikan motivasi Dan sebagai salah satu bukti rasa sayang kita terhadap keluarga adalah dengan mewujudkan harapannya tanpa mengakses pornografi yang bisa jadi akan menghambat proses kita dalam mencapai harapan-harapan tersebut.

Jika sudah tidak mampu menyimpannya sendiri, apa yang bisa dilakukan?
Bapak/Ibu/temen-temen bisa membuka diri pada orang yang membuat diri merasa nyaman dan dapat dipercaya, misal salah satu anggota keluarga, teman, atau profesional (psikolog, psikiater) yang dapat membantu kita untuk keluar dari perilaku adiksi pornografi.

Daftar referensi                                                                                                                       
Baqutayan, S. M. S. (2015). Stress and Coping Mechanism: A Historical Overview. Mediterranean Journal of Social Sciences MCSER Publishing, Rome-Italy, 6(2).
George, M., Maheswari, S., Chandarian, S., & Rao, T. S. S. (2019). Psychosocial Aspects of Pornography.
Hilton, D. L. & Watts, C. (2011). Pornography addiction: A neuroscience perspective.
Mariyati., Novy H.C., Daulima., & Mustikasari. Terapi Kognitif Perilaku Dan Terapi Kelompok Swabantu Untuk Menangani Ansietas Remaja Dengan Kecanduan Pornografi.
Muller, K. J. (2018). Pornography’s Effect on the Brain: A Review of Modifications in the Prefrontal Cortex
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2017). Modul Creative Digital Education. Jakarta: KEMENPPPA.
Kementrian Pendidikan Kebudayaan. (2017). Seri Pendidikan Orang Tua: Mendampingi Anak Menghadapi Bahaya Pornografi. Jakarta: Kemendikbud.
Short, M. B., Kasper, T. E., & Wetterneck, C. T. (2014). The Relationship Between Religiosity and Internet Pornography Use.

Sesi Tanya Jawab

Berikut ini pertanyaan terpilih untuk termin pertama:
1. Dari A*r_ Adakah tips dan trick menyampaikan informasi pada anak (sekitaran umur 5-11 th) tentang konten pornografi, terlebih jika anak tersebut diketahui sudah pernah mengkonsumsi konten pornografi tersebut.
2. Dari A*i*a *a*i _ Apakah otak bagian PCR yang telah terpapar oleh pornografi bisa disembuhkan dan bagaimana caranya?
3. *R*_ Aku mau cerita aja, jadi di keluargaku, pembahasan tentang pornografi ini cukup tabu. Kita sama sekali gak dapat info tentang pornografi dari orang tua. Saya sulung dari 3 bersaudara.
Pernah kejadian waktu saya masih TK, saya menemukan VCD porno milik orang tua saya di atas lemari. Saat saya tanya orang tua itu apa, orang tua saya tidak menjawab dan tidak membuangnya, melainkan disimpan ditempat lain (karena kemudian saya berhasil menemukannya lagi, tanpa sengaja saat membersihkan rumah).
Kami juga pernah dapat VCD film dari tetangga, kala itu film hollywood thriller, tidak ada bayangan sama sekali bahwa ditengah film itu ada adegan berhubungan intim. Nah, akhirnya kami menonton bersama satu keluarga. Begitu tiba-tiba muncul adegan tersebut, justru saya yang kaget dan berusaha mematikan TV.
Saya juga beberapa kali menjumpai laptop ayah menyimpan beberapa video porno dengan history pencarian browsernya cukup mengagetkan. Jujur saya bingung mau bagaimana menegurnya.
Begitupun adik saya, belum lama ini dia mempunyai instagram, ketika saya stalk akunnya, ternyata dia memfollow akun-akun wanita minim busana. Lagi lagi saya bingung bagaimana menegurnya.
Mungkin gitu dulu ceritanya, mungkin kakak ada masukan bagaimana menanggapi keluarga seperti ini?

Jawab:
1. Baik. Terimakasih atas pertanyaannya. Yaa, memang ketika anak sudah diketahui terpapar pornografi, kita sbg orang yang dekat dengannya bisa melakukan dialog scr santai, tidak marah-marah dan menghakimi. Dalam proses dialog kita bisa menjelaskan  mengenai pornografi dengan bahasa yang sesuai usia perkembangannya. Misalnya dengan memberi tahu tentang pendidikan seks, salah satunya terkait dengan bagian-bagian tubuh mana saja yang tidak boleh ditampakkan kepada orang lain.
2. Insyaallah bisa pulih dengan melakukan berbagai terapi. Jika tingkat kecanduan masih dapat dibantu oleh keluarga bisa dilakukan dengan cara yang sudah dituliskan di materi yaa. Sebagai tambahan, pengguna bisa langsung melepaskan gadget atau klik close ketika keingininan itu muncul.
Namun jika dirasa diri sendiri atau keluarga sudah tidak mampu maka bisa mencari bantuan kepada profesional yaa. Semangaaat💪🏻
3. Baik. Waah sangat luar biasa yaa pengalamannya😊
Jika memungkinkan untuk mengajak kerjasama Ibu, kakak boleh untuk mengajaknya berdiskusi, ketika keadaan sedang santai dan tenang. Kakak bisa mengawalinya dengan bercerita mengenai kasus-kasus pornografi yang kakak tau.
Jika memang penerimaan Ibu terhadap diskusi positif, maka langkahlangkah selanjutnya bisa didiskusikan dengan Ibu kakak😊
Itu dulu saran dari saya. Semoga berhasil💪🏻

Berikut ini pertanyaan terpilih untuk termin kedua:
1. F*s _ Apakah ada perilaku menyimpang secara fisik dari seseorang yang memiliki adiksi pornografi ?
2. D**a_ Anak-anak sekarang kan udah megang gadenganet, dan perkembangan gadenganet ini udah meluas. Mungkin saat masih sd smp, sebagai orang tua masih bisa memantaunya. Namun ketika sma, mulai ada Tindakan-tindakan penolakan dari anak untuk dipantau, mulai ada pemberontakan, bersosial dengan banyak teman, dan hal-hal lainnya yang diluar kuasa orang tua. Anak juga sekarang pintar dalam menyembunyikan aktivitas-aktivitas seksual secara online, terlebih yang saya ketahui aktivitas seksual online ini mengacu pada triple A (accesibility, affordability, dan anonimity) yang memudahkan anak untuk mengakses konten seksual secara online.
Bagaimana orang tua/keluarga mampu meminimalisir kemungkinan-kemungkinan itu ditengah akses pornografi yang mudah di temui? Terimakasi atas kesempatannya :)
3. W*u_ Jika penyebab emosi negatif itu sendiri berasal dari keluarga yang kurang harmonis, seperti banyak emosi marah karena membesarkan hal-hal sepele dan sering terjadi setiap harinya dan membuat kondisi mental malah semakin buruk, dan pelampiasan terhadap emosi negatif tersebut malah ke pornografi bagaimana cara menghadapinya?

Jawab:
1.Dasarnya emosi, pikiran, dan perilaku saling berkaitan atau mempengaruhi. Salah satu dampak dari pornografi terhadap emosi adalah stabilitas terganggu sehingga memungkinkan individu untuk mewujudkannya dalam perilaku. Misal mudah marah, menentang orangtua dsb. Lebih jauh, ketika tingkat adiksi sudah semakin parah tingkat adiksi bisa berubah menjadi pelaku di dunia nyata, misal melakukan kejahatan seksual.
2. Antisipasi dapat dilakukan dengan memberikan perhatian dan kasih sayang sejak lahir agar anak tidak terjebak dalam BLAST (bored, lonely, anxiety/angry, stressed, tired), kemudian bisa juga memberikan penjelasan mengenai pendidikan seks sesuai dengan usia perkembangan,  menanamkan nilai religiusitas yang kuat sejak dini, dampingi anak ketika bermain gadenganet, kenali teman-teman bermainnya, dan jangan lupa untuk mendoakannya😊
Tambahan ketika dia sudah beranjak remaja-dewasa, jadikan dia sebagai 'teman' agar anak dapat nyaman bercerita kpada kita selaku orangtuanya.
3. Cara menghadapi adiksi pornografi pada dasarnya adalah dengan kontrol diri yang kuat. Sehingga ketika pikiran atay keinginan untuk akses porn itu muncul bisa dilakukan sesuai dengan yang di materi yaa.
Terkait dengan penyebab emosi negatif dari keluarga yang kurang harmonis, hal ini dapat didiskusikan lebih lanjut bersama profesional jika dibutuhkan. Agar permasalahan penyebab emosi negatif bisa diselesaikan.

Berikut ini pertanyaan terpilih untuk termin ketiga. Sesi terakhir untuk tanya jawab:
1. N*r_ Saat kita bertekad utk berhenti dari pornografi, kita pasang security dan internet positif disetiap gadenganet atau device kita, namun sayangnya kita tahu bagaimana cara membobol security tersebut, saat hasrat kita tak terbendung, kita terjatuh kembali. Pertanyaannya, bagaimana agar kita tetap konsisten utk tetap bertahan? Kemudian pertanyaan selanjutnya, bagaimana pendapatnya apabila pornografi dijadikan sebagai tools dalam sex education?
2. Aa_ Saya memiliki kenalan yang maaf (autis). Adapun anak tersebut sudah berusia sekitar 16 tahun. Orang tuanya paham betul akan kebutuhan biologisnya dan menyajikan video porno sebagai dalih agar tidak dipuaskan dengan cara-cara lainnya
Mohon izin kak bagaimana pendapat kakak perihal ini?
3. A_ Tadi disebutkan ciri-ciri individu yang mengalami kecanduan pornografi itu diantaranya senang menyendiri dan enggan bergaul secara sosial dan salah satu cara mengatasinya itu dengan berinteraksi dengan keluarga. Nah disini apabila peran keluarga kurang mendukung (memiliki masalah) tidak mendukung untuk mengatasi masalah tersebut. Dan juga insting dari pribadi sulit sekali untuk berhenti mengakses hal-hal yang berbau pornografi. apakah perlu untuk menghubungi lembaga profesional untuk mengatasinya? Dan bagaimana cara/alur untuk berkonsultasi mengenai masalah tersebut.
Terima kasih.

Jawab
1. Sebenarnya untuk jawaban pertanyaan pertama ini sudah ada di materi yaa.😊
Tambahan saja, biasanya kegagalan tersebut terjadi krn tekad kita kurang kuat sehingga kita tetap menuruti keinginannya dan tidak langsung melepaskan gadenganet dari tangan kita kemudian pergi dari 'kesendirian'.💪🏻
Saya mau bertanya terlebih dahulu, maksud dari sex education di sini untuk siapa dan siapa yang melakukannya ya?
2. Sebenarnya kebutuhan biologis bisa dipenuhi dengan cara-cara  lain yang positif. Sehingga selama masih ada cara yang positif dan tidak merugikan 4 aspek yang td saya jelaskan kenapa harus pilih pornografi yang sudah jelas dampak negatif nya☺
3. Yaa, jika dirasa perlu silakan mencari bantuan profesional. Caranya dengan mencari psikolog/ psikiater terdekat untuk konsultasi😊

Tanggapan dari peserta:
"Maksdnya sex education utk anak atau remaja" terkait pertanyaan no 1 untuk termin ke 3
Respon narasumber:
Saya kira pendidikan seks bisa dilakukan tanpa menggunakan pornografi. Saya pernah melakukan seks education pada anak-anak dengan didampingi orangtuanya dengan menggunakan media video dan gambar yang tidak memunculkan pornografi dan itu bisa kita akses di internet kok. Jadi gak usah khawatir jika ingin melakukan pendidikan seks tanpa pornografi krn setiap hal positif insyaallah selalu ada jalan💪🏻😊

Pertanyaan tambahan:
1.     R*a_yang ingin saya tanyakan disini adalah ketika seseorang selalu berusaha atau mengatur emosinya atau dirinya agar tidak terjerumus dalam pornografi lagi, misalnya seseorang itu sering menonton yang melanggar SARA, tapi kemudian dia sadar apa yang ia lakukan salah, sehingga ia ingin mengontrol dan dia berjuang keras untuk mengontrol dirinya. Apakah rasa ingin menonton video atau melihat sesuatu yang mengandung unsur pornografi bisa hilang seiring berjalannya waktu?  Kemudian jangka waktunyaa berapa lama untuk berhasil keluar dari situasi ini?
2.     H***n_Biasanya kecanduan porn besar kemungkinan diiringi dengan melakukan tindakan masturbasi. Setelah melakukan ada rasa menyesal/bersalah. Apakah baik perasaan bersalah/menyesal tersebut?
Dan saya tau dengan berbicara keluarga sangat membantu tapi keluarga terkadang bisa syok dan terbebani mendengar kenyataan/cerita tersebut. Ingin cerita dengan teman dekat takut jadi bumerang dan curhat ke psikolog juga terkadang malu. Bagaimana solusinya?
3.     Dari Fulan bin fulan_Saya ingin bertanya. Bagaimana cara untuk menghadapi teman yang ketika diajak untuk berhenti pornografi justru menolak dan beralasan bahwa pornografi adalah suatu kebutuhan? Malah respon yg keluar menganggap saya sok suci, dsb.

Jawab:
1.     Insyaallah ketika benar-benar bertekad ingin berubah dan kontrol diri terhadap perilaku serta pikiran tetap dipertahankan, keinginan tersebut semakin jarang terjadi. Karena ketika kita menyibukan diri dengan aktivitas lain (ini termasuk kontrol diri dlm perilaku ya) maka pikiran kita pun akan sibuk dg aktivitas tsb sehingga pikiran dan keinginan untuk akses pornografi tidak muncul.
Mungkin sesekali masih muncul keinginan melihat unsur porn krn memori kita dlm otak merekam apa-apa yang pernah dilihat dan dilakukan. Namun ketika sudah tau itu salah dan tetep berjuang keras, Insyaallah perilaku bisa dikendalikan shg keinginan tadi tidak sampai diwujudkan pada perilaku.

Untuk jangka waktu, pengalaman yg saya temukan berbeda-beda.  Tergantung dengan tingkat adiksi, tekad, dan usaha (bisa dilihat di materi ya) yang dilakukan.
Semangaat yaa!😊

2.     Saya pikir kita harus bersyukur ketika masih diberikan rasa itu😊 Karena itu artinya kita masih menyadari bahwa pornografi adalah sebuah kesalahan yg akan merugikan diri sendiri bahkan mungkin oranglain, dan diberikan kesempatan untuk memperbaikinya.
Juga tidak usah khawatir, krn rasa bersalah itu adalah respon yang wajar dirasakan seseorang ketika telah melakukan kesalahan.

Rasa bersalah atau penyesalan itu akan menjadi tidak baik ketika kita tidak menjadikan itu sebuah pelajaran atau titik balik untuk melakukan perbaikan kedepan.
Jika memang untuk membuka diri kepada oranglain ada ketakutan dan rasa malu, sebenarnya kita bisa mengusahakannya sendiri terlebih dahulu dengan cara yang telah dipaparkan di materi yaa. Karena memang untuk adiksi pornografi ini kuncinyaa ada pada diri sendiri sebenarnya. Semoga berhasil!💪🏻

Kalo memang gagal dan merasa membutuhkan bantuan orang lain, bismillaah cari orang/profesional yang aware tentang hal ini dan tentunya membuat nyaman. Kemudian niatkan hal tersebut untuk menjadikan perbaikan dalam diri kita. Semangaat😊

3.     Saya mengapresiasi karena Fulan sudah berani menawarkan kebaikan kepada teman Fulan😊
Yaa, memang kita tidak bisa mengubah oranglain menjadi seperti yg kita inginkan karena mungkin berbeda pandangan dan lain hal.

Sehingga yg mungkin bisa dilakukan saat ini adalah tetap berteman baik dengan dia dan tunjukan kalo memang kita bisa lebih baik tanpa pornografi (bisa melalui perilaku kita yakni kita tidak mengkonsumsi porn dan bisa mengajaknya untuk beraktivitas yg menyenangkan secara bersama), serta jangan lupa didoakan yaa. Semangaaaat💪🏻😊

Penutup dari Narasumber

Untuk yang membutuhkan jasa profesional bisa
1. Bisa ke klinik psikologi
2. Bisa pakai aplikasi KALM, paketnya ada yang untuk 3 hari, seminggu, hingga sebulan.
3. Halodoc, ada paketannya juga cuma saya gak hafal bisa dicek sendiri ya.
4. Bisa ke rumah sakit ke bagian poli jiwa
Jangan ragu untuk mencari bantuan professional yaa, semoga bermanfaat!😊

Penutup dari moderator

Terimakasih Mbak Ridha atas tambahannya.
Sebenarnya masih banyak banget pertanyaan pertanyaan yang dikirimkan ke moderator. Saya meminta maaf tidak dapat memilih semua pertanyaan yang telah chat ke saya karena waktu kita terbatas. Terimakasih kepada seluruh peserta yang telah aktif berpartisipasi dan antusias pada POPTALK hari ini dengan tema "Keluarga dan Porn"

Semoga materi dan jawaban yang diberikan oleh Mbak Ridha sedikit membantu kita semua bagaimana caranya agar menjadikan Keluarga sebagai copping yang paling dekat untuk terhindar dari pornografi.

Adiksi pornografi adalah keadaan individu yang memiliki kecanduan terhadap  sesuatu hal yang membangkitkan hasrat seksual (pornografi). Dampak dari adiksi pornografi mempengaruhi  4 aspek, yaitu aspek biologis, psikologis, sosial , dan spiritualitas/religiusitas.

Individu harus mengontrol dirinya ketika timbul rasa ingin mengakses pornografi. Kontrol diri dapat dilakukan dengan thought stopping dan melakukan aktivitas positif bersama keluarga. Karena, saat kita berada di lingkungan keluarga yang positif, maka perilaku adiksi pornografi pun dapat dikurangi. Selain itu, salah satu bukti rasa sayang kita terhadap keluarga, bisa dengan mewujudkan harapan mereka terhadap diri kita, tanpa mengakses pornografi yang mungkin akan menghambat proses kita dalam mencapai harapan-harapan tersebut.

Ada dua cara mengalahkan lingkaran setan adiksi pornografi, yaitu mengetahui penyebab emosi negatif muncul, dan melakukan problem-solved coping (merespon dengan cara mencari penyelesaian masalah) atau emotion-focused coping (merespon dengan cara menstabilkan emosi). Dan, jika merasa tidak mampu menyimpannya sendiri, kita bisa mencari bantuan dari luar, seperti keluarga atau profesional, untuk keluar dari perilaku adiksi pornografi.

POPTALK pada sore hari ini dipersembahkan oleh POPCORN x Family Hour Indonesia. Akhir kata saya ucapkan terimakasih. Saya mohon maaf apabila ada typo typo didalamnya. Diskusi pada sore hari ini saya tutup. Terus pantengin IG kami yaa...
Dan mohon membantu untuk mengisi link Survey untuk membantu meningkatkan POPTALK selanjutnya ☺️
Sampai bertemu kembali di POPTALK selanjutnya 🤗

Afterwords

Teman - teman, terima kasih sudah ikut serta dalam POPTALK Family Hour x Popcorn ini. Bantu kami untuk bisa meningkatkan kinerja kami dengan mengisi dua survey dibawah ini ya. Terakhir, jangan lupa follow social media kami ya, di @familiyhour.id dan @popcornofficial
Terima kasih. Sampai ketemu dilain sesi!

Customer Satisfaction Survey :
https://bit.ly/poptalk7mei

Attitude Towards Porn Survey :
https://forms.gle/yrQx7gRG3PTajgJQ7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar