Kamis, 01 Oktober 2020

3 Pelajaran Berharga dari Anime Run with the Wind

Pada tulisan sebelumnya saya telah membahas pengenai anime Run with the Wind (“Kaze ga Tsuyoku Fuiteiru”). Tulisan kali ini akan bercerita mengenai 3 pelajaran berharga yang saya petik dari seri anime ini.


1. Mulai dari yang Kecil, Perlahan Meningkat

Pada Hakone Ekiden, setiap peserta diwajibkan untuk menyelesaikan rute lari sepanjang kurang lebih 20 km. Pada tim pelari di anime tersebut, hanya 2 orang yang sudah terbiasa berlari (Kakeru dan Haiji). Delapan orang lainnya merupakan pemula, bahkan ada karakter Prince yang jarang berolahraga karena lebih suka menghabiskan waktunya dengan membaca manga.

Gambar 1. Ajakan Haiji untuk Ikut Hakone Ekiden

Di awal, latihan mereka adalah berlari sejauh 5 km terlebih dahulu. Tidak langsung dipaksa mencoba 20 km. Walaupun Prince sampai terengah-engah dan kehabisan tenaga, tapi setidaknya ia telah memulai dulu. Seperti yang Haiji katakan dalma film “rasakan sejauh apa jarak 5 km dengan tubuh sendiri”.

Tim lari ini berlatih rutin setiap pagi (sebelum matahari terbit & sebelum sarapan). Kemudian mereka menambah porsi latihan di sore hari juga. Pada awalnya yang hanya berlari 5 km, mulai meningkatkan jaraknya secara perlahan. Bahkan beberapa orang tim melakukan olahraga tambahan seperti Kakeru yang seringkali mulai lebih awal, dan Prince yang lari di atas threadmill sambl membaca manga.

Gambar 2. Latihan Rutin Sebelum Sarapan

Dalam berolahraga, prinsipnya mulai dari yang ringan, seperti jarak yang pendek, kemudikan jika sudah terbiasa mulai menambah intensitasnya. Saya jadi ingat ketika berlatih renang untuk olimpiade ketika kuliah pun, pelatih kami memulai dari renang jarak 50 m, kemudian meningkat menjadi 100 m, hingga akhirnya mencoba jarak 200 m. Latihannya pun rutin pagi di kolam renang Saraga dan malam di kolam renang Cipaku yang airnya hangat.

 

2. Apresiasi Incremental Improvement

Target untuk lolos kualifikasi pelari agar dapat mengikuti Hakone Ekiden adalah seorang pelari harus dapat menyelesaikan rute 5 km dengan berlari di bawah 15 menit. Di awal cerita, lagi-lagi hanya 2 orang yang dapat mencapai waktu tersebut. Bahkan Prince membutuhkan waktu lebih dari 2 kali lipat batas waktu 15 menit untuk menyelesaikan 5 km. Namun, dengan berlatih rutin, akhirnya satu per satu dapat melewati tembok waktu 15 menit tersebut.

Tim mengapresiasi  peningkatan waktu dari setiap pelarinya. Sang manajer dan kapten mencatat pencaipaian waktu masing-masing anggota dan membuat grafiknya. Waktu lari yang lebih cepat 1 menit dibandingkan sebelumnya saja pun mendapatkan apresiasi. Pada salah satu episode diceritakan bahwa Prince akhirnya dapat berlari 5 km di bawah 30 menit. Tim menghargai prestasi tersebut dengan sangat tinggi, hingga melempar Prince ke udara. Walaupun orang lain bilang “apa yang spesial dari lari 30 menit saja”

Gambar 3. Apresiasi Dari Kawan-Kawan Satu Tim

Dengan mensyukuri peningkatan incremental yang terjadi dapat membuat kita merasa lebih dekat dan fokus pada tujuan. Lebih baik membuat perubahan kecil tapi konsisten dibandingkan peningkatan besar tapi hanya sekali saja. Seperti prisip Kaizen (continuous improvement) dan peribahasa yang sering kita baca di buku tulis SD: sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.

Gambar 4. Hingga Akhirnya Lulus Kualifikasi


3. Merangkul Tim dengan Pendekatan Personal

Karakter yang dapat dikatakan sebagai leader dari tim lari dalam cerita ini adalah Haiji. Awalnya hanya dia yang memiliki impian untuk ikut pada Hakone Ekiden. Kawan-kawannya yang lain menyangsikan mimpi tersebut, sebagian skeptis dengannya. Haiji sudah mengenal kepribadian kawan-kawannya dan mulai melakukan pendekatan personal untuk mendapatkan hati kawan-kawannya dan menggerakkan mereka untuk bersama-sama mencapai impian besar berpartisipasi dalam lomba maraton tersebut. Ia paham bahwa setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda -beda dan belum tentu memiliki persepsi yang sama. Makanya dibutuhkan pendekatan yang bersonal dan sesuai dengan karakter dan kesukaan masing-masing.


Gambar 5. Membantu Musa yang Membutuhkan Pekerjaan Sampingan

Sebagai pemimpian, selain mampu merangkul semua anggota timnya, ia juga memiliki multiperan, seperti menjadi ketua asrama, juru masak, mengurus administrasi tim, hingga memastikan semua anggota timnya mendapatkan nutrisi yang seimbang. Hal-hal yang dia lakukan sebagai ketua menggambarkan pemimpin teladan, sejalan dengan prinsip pemimpin yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, seorang pemimpin harus dapat ing ngarso sung tulodo (di depan sebagai teladan), ing madyo mangun karso (di tengah membangun semangat), dan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan).

Gambar 6. Memotivasi dengan Hal yang Disukai si Kembar (Harapan untuk Terkenal di Para Wanita) 

Selain tiga pelajaran ini, ada juga hal-hal lainya yang bis akita pelajari seperti bagaimana posisi yang baik untuk berlari, hingga porsi latihan yang tidak membebani tubuh secara berlebihan. Jadi, ketika menonton anime kita juga bisa mencari pelajaran berharga yang bisa kita ambil dan diterapkan dalam kehidupan sehari-sehari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar