Selasa, 06 Oktober 2020

Survivorship Bias: Bias Ketika Tidak Mempertimbangkan Hal Yang "Tidak Terlihat"


Dalam mengambil keputusan, seringkali kita hanya mempertimbangkan berdasarkan hal-hal yang kita tahu, tanpa mempertimbangkan informasi yang belum kita ketahui. Hal ini disebut survivorship bias. Istilah ini diambil dari kasus pemasangan armor pelindung pada pesawat yang selamat dari serangan musuh pada perang dunia ke-2.

 

Gambar 1. Plot Lokasi Tembakan pada Kapal yang Selamat

Abraham Wald, seorang statistika dari Universitas Colombia melakukan analisis terhadap kerusakan pada pesawat tempur dari serangan musuh. Gambar di bawah merupakan ilustrasi lokasi tempat tembakan-tembakan musuh pada pesawat yang kembali ke pangkalan. Jika ditanya bagian mana yang perlu dipasangkan penguat, sebagian besar orang mungkin akan menjawab di bagian yang paling banyak terkena tembakan. Hal tersebut pun yang disimpulkan oleh US Military, untuk memperkuat pesawat di bagian yang paling banyak menerima serangan.

Gambar 2. Saran Tempat Pemasangan Armor oleh Tentara Amerika

Namun, Wald memberikan rekomendasi yang berbeda. Ia tahu bahwa US Military tidak memasukkan pesawat yang tidak kembali ke pangkalan. Karena pesawat yang jatuh atau hilang tidak tersedia untuk penilaian. Dengan mempertimbangkan survivorship bias, ia justru merekomendasikan untuk memasang armor tambahan pada bagian yang paling sedikit terkena tembakan.

Lubang pada pesawat yang kembali, menggambarkan area yang walaupun pesawat mengalami kerusakan tapi masih bisa kembali dengan selamat. Namun, jika pesawat terkena serangan di bagian kokpit, mesin, atau baling-baling, peluang pesawat dapat kembali sangat kecil.

Gambar 3. Saran Tempat Pemasangan Penguat dari Wald dengan Mempertimbangkan Survivorship Bias

Selain contoh kasus pada perang dunia ke-2 tersebut, survivorship bias juga dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai peneliti yang menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data, saya hanya melakukan anailisis berdasarkan data yang terkumpul. Seringkali saya tidak mempertimbangkan profil dari responden yang tidak mengisi. Contoh lainnya adalah review dari pembeli di toko online tau pengunjung di restoran. Orang yang mengisi biasanya ada di ujung continuum yang puas atau tidak puas. Sedangkan yang biasa aja bisa jadi tidak memberikan rating atau ulasan. Jadi calon pembeli hanya mendapatkan informasi dari pelanggan sebelumnya yang menuliskan testimonial saja.

Oleh karena itu, setelah mengetahui mengenai bias ini kita dapat menghindari kesalahan logika berpikir survivorship bias dengan juga mempertimbangkan dari hal-hal yang belum diketahui ketika mengambil keputusan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar