Sore hari saya sedang bersepeda santai di Bandung. Saat melewati ruas jalan Asia Afrika, ada tulisan ‘LAJUR SEPEDA TERPANJANG DI DUNIA’. Saya pun mempertanyakan klaim tersebut. Rasanya jalur sepeda di Bandung tidak sepanjang itu, dan masih terbatas di beberapa ruas jalan utama saja. Masih banyak kota lain yang punya jalur sepeda yang terintegrasi dan lebih panjang. Di Sydney misalnya, kita bisa menjelajahi seluruh kota dengan tetap berada di jalur sepeda. Bahkan saya pernah mendengar klaim bahwa Canberra punya jalur sepeda terbaik di dunia.
Saya pulang ke rumah dengan membawa rasa penasaran. Setelah
mencari di Google, ternyata maksud jalan terpanjang itu adalah karena jalur
sepeda di kawasan Jalan Asia Afrika ini secara simbolis melewati dua benua:
Asia dan Afrika. Makanya ketika Hari Sepeda Sedunia 2025, pemerintah Kota
Bandung meresmikan trek sepeda ini dan menyematkan klaim bombastis tersebut. Jujur,
saya merasa kecewa dan tertipu dengan klaim tersebut.
Berdasarkan data, rekor dunia resmi untuk jalur sepeda terpanjang saat ini dipegang oleh Al
Qudra Cycling Track di Dubai, Uni Emirat Arab, dengan panjang 80,6 km.
Saya tidak tahu apakah maksud penyematan ini sebagai bahasa pemasaran
saja atau ada intensi mengelabuhi pembaca. Tidak ada tanda kutip pada klaim
yang disematkan, dan tidak ada klarifikasi tambahan. Orang yang kurang familiar
dengan sejarah Bandung yang pernah menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika
dan belum tahu nama jalan itu hampir pasti akan percaya dengan tulisan tersebut.
Apakah layak mencantumkan klaim yang tidak etis ini?
Saya jadi meragukan kredibilitas pihak berwenang yang menyetujui
penyematan klaim seperti ini tanpa ada klarifikasi atau keterangan tambahan. Ia
bisa menyesatkan dan membuat disinformasi. Kalau saja tulisannya menggunakan
tanda kutip: “LAJUR SEPEDA TERPANJANG” DI DUNIA, atau dengan keterangan ‘LAJUR
SEPEDA TERPANJANG DI DUNIA (DARI ASIA SAMPAI AFRIKA)’ mungkin akan lebih bijak
dan elok.

Komentar
Posting Komentar