Kecerdasan buatan di bidang musik membuat banyak pembuat konten di platform YouTube yang membuat lagu-lagu cover tanpa menggunakan instumen asli. Ada media yang dapat digunakan secara gratis, misalnya melalui model-model open source di situs web Hugging Face, ataupun yang berbayar—yang kita perlu memiliki token terlebih dahulu untuk menggunakan modelnya.
Lagu pun dapat dinyanyikan dalam berbagai bahasa, tidak
hanya dalam bahasa aslinya. Misalnya ada ANIMEW, creator dari
Indonesia yang mengunggah lagu-lagu penyanyi Indonesia yang diterjemahkan ke
dalam bahasa Jepang dan dinyanyikan oleh AI (Artificial Intelligence).
Video yang diunggah dilengkapi dengan ilustrasi penyanyi dan latar belakang
yang juga dibuat oleh AI (AI-generated).
Lagu anime yang berbahasa Jepang pun banyak digubah ke dalam
bahasa lain. Banyak lagu yang di-cover ke dalam bahasa Inggris dan
bahasa Spanyol yang sebelumnya memang sudah sering dinyanyikan oleh YouTuber
yang menguasai bahasa tersebut. Selain itu mulai banyak saya temui cover
lain dalam bahasa Rusia dan Hindi. Sebagian lagu ada yang liriknya
diterjemahkan secara langsung, ada juga yang disesuaikan untuk unsur komedi.
Misalnya lagu “Zankoku na Tenshi no Teeze” (A Cruel Angel’s Thesis) yang
merupakan soundtrack dari serial Neon Genesis Evangelion dibuat
parodi menjadi “A
Five-Year Plan Thesis” versi Soviet.
Ilustrasinya dilengkapi dengan para tokoh utama yang berperan di negara
komunis. Terdapat juga lagu “AIZO” dari King Gnu yang menjadi lagu pembuka
anime Jujutsu Kaisen musim ke-3 yang diproduksi
oleh AI dengan bahasa India. Yuuji Itadori, sang tokoh utama, digambarkan
menggunakan kostum Maharaja. Saya tidak bisa membayangkan para dukun pemburu
kutukan menari-nari di Persimpangan Shibuya ala film Bollywood.
![]() |
| Ilustrasi Evangelino (Soviet Version) AI-Generated |
![]() |
| Ilustrasi Jujutsu Kaisen (IndiaVersion) AI Generated |
Satu sisi, lucu juga cover lagu dalam berbagai versi ini. Suara penyanyinya juga terdengar natural, hampir mirip dengan manusia asli. Namun di sisi lain saya agak khawatir dengan perlindungan hak cipta dan kekayaan intelektual, serta seniman manusia asli yang masih berpegang teguh pada prinsip-prinsip tradisional. Mereka yang masih bekerja secara tradisional bisa tergerus pasarnya dan sinarnya tertutupi para kreator baru yang dengan mudah menggunakan AI untuk membuat karya-karya secara instan. Akan menjadi tantangan sendiri di industri entertainment untuk membuat regulasi untuk melindungi para seniman dan mengatur penyebaran dan publikasi karya-karya yang dihasilkan oleh AI.


Komentar
Posting Komentar