Langsung ke konten utama

Orang Sunda yang Mau Belajar Bahasa Sunda

UPT Layanan Bahasa ITB setiap sebelum mulai semester menawarkan kursus bahasa. Kelas yang ditawarkan beragam, mulai dari bahas Jepang, Perancis, Jerman, Korea, Mandarin, Arab, hingga tentunya bahasa Inggris. Kelas bahasa Inggris ada yang difokuskan untuk persiapan tes seperti TOEFL dan IELTS, pun juga academic writing.

UPT Layanan Bahasa ITB
Beberapa Pilihan Kursus Bahasa di ITB. Sumber: UPT Layanan Bahasa ITB

Salah satu kelas yang menarik untuk saya ikuti adalah Bahasa Sunda Praktis. Alasannya karena saya tinggal di Bandung. Rasanya jika menguasai bahasa ini sehari-hari saya bisa lebih mudah berinteraksi. Contoh paling dekat adalah saat saya mengunjungi pasar baru, awalnya di sebuah kios yang menjual pernak-pernik sang menjual membanderol gantungan kunci angklung yang berisi sepuluh buah seharga Rp100.000. Ketika saya bicara bahasa Sunda, sang penjual langsung bilang, “Oh, urang dieu. Sugan téh ti Malaysia”, yang artinya kurang lebih bahwa saya orang lokal. Tadinya dikira orang Malaysia. Karena Pasar Baru masih bisa bertahan berkat kunjungan turis-turis dari Negeri Jiran. Setelah itu saya diberi harga korting menjadi Rp30.000. Di tempat kerja pun jika fasih berbahasa lokal bisa menjadi nilai tambah sendiri, terutama jika ingin meminta bantuan orang lain.

Walaupun memiliki 25% darah Sunda, dari nenek dari ayah, tetapi saya tidak terlalu jago bahasa Sunda. Di rumah biasanya saya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Padahal Ayah saya jago bahasa Jawa dan Bali juga. Saya agak menyesal tidak membiasakan untuk berkomunikasi menggunakan bahasa daerah. Di sekolah pun saya kurang serius belajar, jadi hanya bisa seadanya. Dengan teman sebaya pun biasanya menggunakan bahasa sehari-hari, bukan bahasa halus yang bisa digunakan untuk berkomunikasi kepada orang yang lebih tua. Ada satu masa, ketika masih kursus bahasa di Taiwan, yang saya rasa kemampuan bahasa Mandarin lebih baik dibandingkan dengan bahasa Sunda.

Di kebanyakan waktu saya bisa paham apa yang orang lain katakan dalam bahasa Sunda. Namun ketika mau membalasnya, saya kesulitan menemukan kosatakanya. Levelnya masih passive speaker.

Kelas bahasa Sunda di ITB baru akan dibuka jika minimal ada sepuluh orang yang berminat mendaftar kelas tersebut. Saya sudah mengisi form dan sedang menunggu konfirmasinya. Jika kelas dibuka, kursus akan dimulai tanggal 23 Februari 2026.

Sambil menunggu kabar, saya mencoba mencari sumber belajar gratis di internet. Di YouTube, ada banyak kanal yang membuat video berbicara dalam bahasa Sunda. Namun biasanya masih terpisah-pisah. Saya belum menemukan playlist yang komprehensif dengan kurikulum belajar yang detil. Mungkin berikutnya saya akan mencari di Google kursus privat, untuk mengantisipasi jika ternyata kelas dari ITB tidak jadi dibuka semester ini.

Untungnya karena tinggal di Bandung saya berada di lingkungan yang berbasa Sunda. Kesempatan belajar sebenarnya cukup terbuka luas. Saya dapat memulai untuk lebih banyak bicara dan mendengarkan bahasa lokal agar lebih terbiasa. Kunci dari belajar bahasa adalah banyak mendengarkan dan memaksakan diri untuk berbicara.

Komentar