Alhamdulillah saya masih berkesempatan mengikuti kelompok mentoring keagamaan. Mentoring ini sudah berjalan sejak SMA dan sempat beberapa kali berganti mentor. Saya pun beberapa kali on-off terutama saat merantau dari Bandung. Namun untungnya disambut dengan hangat ketika datang dan ingin bergabung kembali.
Kelompok mentoring ini gabungan dari kelompok mentoring SMA saya dan beberapa kelompok lainnya. Jumlah mentee yang rutin hadir sekitar 5-6 orang. Biasanya kajiannya dilakukan di rumah mentor di daerah Buah Batu, Bandung Selatan, setiap hari Minggu pukul 8 malam hingga selesai. Terkadang waktu selesainya ini molor hingga menjelang tengah malam.
Oh ya, nama kelompok mentoringnya itu
‘Pizza’. Saya mengikuti saja tanpa kritis mempertanyakan. Ketika kumpul bersama
ini barulah Kang Odit (Odit Ekwardo) menceritakan latar belakangnya. Nama grup
WhatsApp-nya ditentukan berdasarkan menu makanan yang sering dipesan oleh
mentor. Pernah dinamakan nasi goreng, roti bakar, juga martabak. Kebetulan
ketika itu yang lebih sering dipesan adalah pizza. Makanya dinamakan sesuai
makanan bundar dari Italia ini. Setelahnya tidak diganti-ganti lagi.
![]() |
| Bapak-Bapak Anggota Mentoring Pizza |
Semua anggota mentoring sudah berkeluarga dan memiliki anak, kecuali saya. Mungkin para istri dan anak bingung kalau suami dan ayah mereka baru pulang malam di hari Minggu. Untuk mengenalkan keluarga dengan kegiatan mentoring kami, Kang Hafidz, sang mentor, mengundang untuk silaturahmi keluarga. Tahun lalu bentuknya buka bersama. Tahun ini halal bi halal di bulan Syawal.
![]() |
| Foto Bersama Istri & Anak |
Dengan mempertemukan para keluarga, selain bisa saling kenal juga bisa membuat keluarga lebih paham tentang siapa teman-teman mentoringnya dan apa yang biasa dibahas ketika mentoring. Jadi istri bisa lebih leluasa untuk mengizinkan suaminya pulang lebih larut sekali sepekan.
Saya juga mendengar beberapa obrolan
tentang pengasuhan anak dan pemilihan sekolah. Beberapa teman ada yang anaknya
sudah duduk di bangku SD, ada juga yang anaknya menjelang masuk sekolah dan
ingin punya referensi tentang lokasi untuk menitipkan anaknya nanti. Punya
lingkungan positif yang bisa saling berbagi juga penting setelah berumah
tangga. Kita bisa saling berbagi, bercerita, dan menguatkan untuk membangun
keluarga yang sehat dan sinergis.

%20-%20Copy.jpeg)
Komentar
Posting Komentar