Sejak tahun 2023 Institut Teknologi Bandung (ITB) menerapkan peraturan untuk perkuliahan tingkat 1 di kampus Jatinangor. Sebelumnya tahun pertama, yang dikenal dengan Tahap Persiapan Bersama (TPB) ini dilakukan sepenuhnya di kampus Ganesha.
Termasuk saat saya pertama masuk ITB, kegiatan dari awal dilakukan di Ganesha—selain itu, pada tahun 2011 ITB hanya punya satu kampus. Tahun pertama menurut saya krusial karena menjadi dasar untuk membangun pertemanan dan koneksi dengan sesama mahasiswa, mencoba mengikuti kegiatan kemahasiswaan, serta mengeksplorasi minat dan bakat di unit kegiatan mahasiswa.
Jadwal TPB cukup teratur biasanya. Senin sampai Kamis jadwalnya adalah jam 7-9, 9-11, kemudian break dari jam 11-14, lalu dilanjutkan kelas lagi jam 14-16 dan 16-18. Hari Jumat agendanya hanya jam 7-9 dan 9-11. Ya, setiap hari perkuliahan dimulai dari jam 7 pagi. Namun, tidak berat karena bahkan ketika SMA jam masuk sekolah saya mulai dari jam 6.30 pagi. Istirahat siang biasanya digunakan untuk bersosialisasi dengan teman, nongkrong di unit, mengerjakan tugas, ataupun sekadar beristirahat.
Mahasiswa TPB biasanya senang melakukan aktivitas bersama. Pemandangan yang umum dijumpai sebelumnya di Ganesha adalah mahasiswa yang bergerombol dan berjalan bersama-sama. Di tempat makan, perpustakaan pusat, Masjid Salman, hingga di sudut-sudut kampus dekat tempat kuliah selalu ada rombongan mahasiswa. Apalagi kalau bubaran jam kuliah atau kampus langsung dipenuhi dengan dengungan suara mahasiswa yang mengobrol.
Namun, pemandangan ini tidak dijumpai lagi. Semenjak mahasiswa tingkat 1 di Jatinangor, kampus Ganesha mendadak sepi. Jarang saya melihat mahasiswa yang berjalan bergerombol. Ketika sudah masuk jurusan, biasanya punya urusan sendiri-sendiri dan tidak berjalan hanya tiga sampai sekitar lima mahasiswa. Jarang ada rombongan sepuluh hingga dua puluh orang yang berjalan bersama. Jarang terdengar kebisingan obrolan dari para mahasiswa. Parkiran kendaraan yang biasanya penuh sekitar jam 7 pagi, ketika saya datang jam 10 pun masih banyak tempat yang kosong. Omzet kantin-kantin di dalam dan sekitar kampus pun bisa jadi berkurang. Ketika sudah malam pun, ITB jadi sepi. Tak banyak unit kegiatan mahasiswa yang masih beraktivitas.
![]() |
| Daerah Plaza Widya yang Sepi di Siang Hari |
Salah satu tujuan untuk memindahkan TPB ke Jatinangor adalah mengurai kepadatan ITB di Ganesha yang lokasinya relatif di tengah kota. Hal ini memang tercapai, dengan bayaran Jatinangor sekarang semakin padat dan macet. Kepadatan di Ganesha pindah ke sebelah kampus UNPAD Jatinangor.
Di sisi lain saya merasa penggerak kegiatan kampus adalah mahasiswa tingkat satu. Karena pemindahan ini tak hanya fisik kampus yang sepi, tetapi “jiwanya” juga jadi berkurang. Memindahkan kegiatan dan aktivitas mahasiswa tidak bisa secara spontan. Misalnya, unit kegiatan kesenian yang punya alat-alat di Ganesha agak sulit untuk memindahkannya ke tempat lain. Jadi biasanya mahasiswa tingkat satu yang ke kampus Ganesha, itu pun sering kali hanya akhir pekan. Malam-malam weekdays Ganesha cenderung hanya diisi dengan kegiatan himpunan dari mahasiswa tingkat 2 ke atas.
![]() |
| Program Transmigrasi Sudah Dimulai dari Mahasiswa ITB yang Pindah dari Ganesha ke Jatinagor |
Sampai saat ini kebijakan TPB di Jatinangor
masih cukup efektif untuk menguraikan kepadatan. Ke depannya bisa dipantau lagi
apakah jurusan lain S1 akan dipindah sepenuhnya ke kota satelit di sisi timur
Bandung ini.


Komentar
Posting Komentar