Dari buku Deep Talk with Allah karya Dr. Khalid Abu Syadi, salah satunya dituliskan bahwa sholat adalah momen seorang hamba bicara secara langsung kepada Allah SWT. Namun sayangnya, banyak orang Muslim yang tidak menggunakan waktu ini untuk berdialog dengan khidmat dengan sang pencipta. Sejujurnya, saya pun pernah merasakan di posisi tersebut. Sholat hanya sekadar gerakan badan dan gerakan bibir. Tidak benar-benar menghayati setiap gerakan dan bacannya.
Cara yang disarankan untuk bisa mencapai kekhusyukan saat mendirikan salat adalah dengan meresapi arti bacaannya. Bacaan salat adalah tentang mengagungkan Allah dan berdoa. Karena bacaan salat dalam bahasa Arab, belum tentu kita bisa paham artinya. Jadi perlu bahasa Indonesia untuk bisa tahu arti doa-doa indah tersebut.
Ketika tulisan ini dibuat, lafaz yang sedang saya hafalkan adalah doa di antara dua sujud. Sebelumnya saya hanya membaca cepat saja, tidak benar-benar diresapi artinya. Padahal dalam satu kalimat, ada delapan doa besar yang dibaca.
Rabbighfirlii, Tuhanku ampuni aku
Warhamnii,
sayangi aku
Wajburnii,
tutuplah aib-aibku
Warfa’nii,
angkatlah derajatku
Warzuqni,
berilah aku rezeki
Wahdinii,
berilah aku petunjuk
Wa’aafinii,
sehatkan aku
Wa’fuannii, maafkan aku
Doa-doa yang luar biasa ini dibaca setidaknya 17 kali dalam sehari. Poin-poin yang diminta hamba kepada sang Ilahi inilah yang dibutuhkan setiap harinya. Saya merasa malu ketika meminta hal-hal baik ini dengan sekilas dan tidak serius. Padahal saya merasa seharusnya bisa meminta dengan cara yang lebih baik.
Dengan mengetahui arti bacaan salat, kita
bisa lebih meresapi ketika lidah melafalkannya, yang kemudian semoga bisa
membuat salat lebih khusyuk dan hati kita menikmatinya. Tulisan ini
dibuat agar menjadi pengingat bagi saya sendiri apabila (semoga tidak terjadi)
merasakan futhur (turun iman) di masa depan. Ingatlah bahwa dahulu
pernah merasakan nikmatnya salat dan mengharap kepada sang pencipta.
Komentar
Posting Komentar