“Baju laki-laki dari zaman dahulu desainnya masih sama, tidak banyak berubah. Baju formalnya jas dan tuksedo. Baju sehari-hari hanya kaos atau kemeja.”
Pertanyaan di atas memang ada benarnya. Baju formal laki-laki 100 tahun lalu hingga sekarang masih tidak berbeda jauh. Pakaian perempuan mungkin akan jauh berbeda. Dalam sepuluh atau bahkan lima tahun, tren terus berganti. Namun, bukan berarti menutup pikiran untuk juga belajar fesyen.
Mempelajari bagaimana merepresentasikan diri dengan baik melalui pakaian adalah penting bagi para laki-laki. Karena kalau terlewat, bisa jadi fatal dan tidak kurang baik dilihat cara berpakaiannya.
Pertama kali saya mendengar masukan tentang cara berpakaian adalah dari komentar juri di salah satu acara penampilan lagu di televisi swasta. Igun (Ivan Gunawan) berkomentar tentang salah satu peserta yang menggunakan kaos kaki putih dengan sepatu hitam dan jas berwarna gelap. Sang desainer memberikan masukan kalau kaos kaki harus selaras dengan atasan dan bawahannya. Kalau mengenakan pakaian yang warna gelap, kaos kaki juga perlu menyesuaikan. Momen ini masih teringat hingga sekarang.
Selain dari siaran tadi, saya juga sering
mendengar masukan dan saran tentang berpakaian yang baik, terutama tentang
bagaimana berpakaian formal. Kakak saya, yang lebih dahulu belajar tentang
fesyen pria, banyak mengajarkan tentang hal yang sebelumnya saya belum tahu
tentang berpakaian, diantaranya:
- Jas hitam hanya punya satu
fungsi: untuk menghadiri pemakaman. Jas “hitam” yang sering dilihat diluar
acara duka itu merupakan charcoal grey. Warnanya pekat gelap, tapi bukan
hitam. Sayangnya masih banyak yang menyebutkan jas hitam untuk merujuk kepada
warna gelap ini.
- Batik lengan panjang di
Indonesia dianggap sebagai pakaian formal dan bisnis yang setara dengan jas,
- Pemilihan warna sabuk dan
sepatu harus selaras. Jika sabuknya hitam, sepatu pantofelnya juga warna hitam.
Kalau sepatu kita cokelat, sabunya harus dipilih yang cokelatnya senada.
- Jika menggunakan baju bergaris
atau bermotif, gunakan dasi yang polos. Sebaliknya, jika kemeja polos, maka boleh
mengenakan dasi yang berpola.
- Ketika duduk, kancing jas perlu
dibuka. Lalu saat berdiri, kancing boleh ditutup kembali dengan menyisakan satu
kancing paling bawah dibuka.
- Kemeja untuk dipadukan dengan
jas, lengannya perlu lebih panjang dibandingkan panjang jas.
- Setelan jas idealnya satu setel, menggunakan bahan yang sama antara atasan dan bawahan. Tidak hanya warnanya saja yang sama, tetapi materialnya juga.
| Foto Berlatar Belakang Backdrop AAS Ketika Persiapan Sebelum Keberangkatan |
Banyak ilmu berpakaian formal lainnya yang
saya dapatkan dari kakak maupun sumber lainnya. Misalnya tentang penggunaan
aksesori dan pemilihan sepatu. Masih banyak hal yang perlu saya pelajari lagi,
tapi setidaknya sekarang saya bisa mengatakan bahwa cara saya berpakaian formal
sudah memenuhi kriteria minimum. Kalau pakaian kasual, lain ceritanya, haha.
Ilmu saya di sini sangat cetek. Tulisan ini dibuat sebagai placeholder yang
harapannya dapat terus saya perbarui saat ilmu tentang fesyen pria
bertambah.
Komentar
Posting Komentar